Lirik Lagu Nasamatu Hawaka Lengkap: Tulisan Arab dan Artinya 

3 jam yang lalu 4

Ada banyak sekali cara untuk mengajak orang lain untuk mencintai Rasulullah dan senantiasa meneladani akhlak serta ajarannya. Ada yang mengajaknya melalui ceramah, ada yang menulis buku dan artikel tentang kehidupan Sang Nabi, ada yang menyampaikan sirah Nabi di majelis-majelis ilmu, dan ada juga yang mencontohkan kehidupan Nabi dalam kehidupan sehari-hari.

Tidak hanya itu, ada juga yang mengajak mencintai Nabi melalui jalan seni, seperti merangkai syair, qashidah, dan bait-bait lagu yang berisi pujian kepada Rasulullah, kerinduan kepadanya, dan ajakan untuk senantiasa meneladani tindak-tanduknya.

Dari sekian banyak lagu-lagu Islami dengan kriteria seperti yang telah disebutkan, lagu dengan judul “Nasamatu Hawaka laha ‘Araju” adalah salah satunya. Lagu ini menjadi sangat viral di Indonesia setelah dilantunkan oleh berbagai kalangan, mulai dari tokoh agama hingga penyanyi religi ternama, seperti Alma Esbeye, Ai Khadijah, Nissa Sabyan, Muhajar Octavianada, dan lainnya.

Berikut ini adalah lirik lagu Nasamatu Hawaka dan terjemahannya:

نَسَمَاتُ هَوَاكَ لَهَا أَرَجُ \\\ تَحْيَا وَ تَعِيشُ بِهَا الْمُهَجُ \\\ مَا الْنَّاسُ سِوَى قَوْمٍ عَرَفُوكَ \\\ وَ غَيرُهُمُ هَمَجٌ هَمَجُ

دَخَلُوا فُقَرَاءَ إِلَى الْدُّنيَا \\\ وَ كَمَا دَخَلُوا مِنْهَا خَرَجُوا \\\ قَومٌ فَعَلُوا خَيْراً فَعَلَوْا \\\ وَ عَلَى دَرَجِ الْعَلْيَا دَرَجُوا

يَا مُدَّعِياً لِطَرِيقِهِمُ \\\ بَادِر فَطَرِيقُكَ مُنعَرَجُ \\\ تَهْوَى لَيْلَى وَ تَنَامُ الَّيلْ \\\ لَعَمْرُكَ ذا فِعْلٌ سَمِجُ

يَا بَدْرُ بَذْلٍ لَنْ نَبْرَحُ \\\ عَن بَابِ الْحِبِّ فَهَل نَلِجُ \\\ فَمَتَى بِوِصَالِكَ يَا أمَلِي \\\ أَلْحَانُ الْحُبِّ لَهَا هَزَجُ

Artinya, “Semerbak wangi hembusan cinta kasihmu (Nabi Muhammad) /// membangkitkan hati menghidupkan jiwa /// Manusia sejati hanyalah mereka yang mengenalmu /// selain mereka tak lebih dari kerumunan yang tak bermakna.

Mereka memasuki dunia dalam keadaan fakir (tak membawa apa pun) /// dan sebagaimana mereka masuk, begitu pula mereka pergi /// Kaum yang berbuat kebaikan, maka mereka pun mulia, dan mereka menaiki tangga-tangga derajat yang tertinggi.

Wahai yang mengaku menempuh jalan mereka /// bersegeralah! Sebab jalanmu masih berkelok-kelok /// Kau mendambakan Layla namun kau tiduri malammu /// demi hidupmu, sungguh itu adalah perbuatan yang memalukan.

Wahai purnama (Rasulullah) kami merasa hina tetapi kami tidak akan meninggalkan /// pintu cinta, maka layakkah kami memasukinya? /// Maka kapankah aku bisa bertemu denganmu Wahai harapanku (Rasulullah) /// Melodi cinta selalu bersenandung akan pertemuan itu.”

Sebagaimana penulis kutip dari laman Qasida Collection, lagu ini merupakan karya dari seorang ulama besar bernama Syekh Abdul Ghani an-Nabilusi, ia merupakan seorang penyair sekaligus ulama tasawuf tersohor pada masanya. Lahir di Syam, Damaskus, pada tahun 1641 M bertepatan dengan tahun 1050 H, dan wafat pada tahun 1731 M atau 1143 H di Damaskus pula.

Makna Lagu Lirik “Nasamatu Hawaka”

Syekh Abdul Ghani an-Nabilusi memulai lagu ini dengan menjelaskan bahwa cinta dan kasih sayang Rasulullah mampu menghidupkan hati manusia. Banyak hati yang sebelumnya keras dan gersang menjadi lembut dan penyayang karena mengenal Sang Nabi. Banyak pula jiwa-jiwa yang sebelumnya tersesat dan kehilangan arah, kemudian menemukan petunjuk hidayah setelah mengenalnya.

Maka tidak heran, jika dalam bait lanjutannya menegaskan bahwa manusia yang benar-benar beruntung adalah mereka yang mengenal Kanjeng Nabi, memahami risalah yang beliau bawa, dan meneladani sunnah-sunnahnya. Tidak hanya beruntung, mereka juga akan dicintai oleh Allah swt dan diampuni segala dosa-dosanya. Begitu juga sebaliknya, mereka yang hidup tanpa mengenal Rasulullah, hidupnya tidak bernilai apa-apa.

Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an, Allah swt berfirman:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Artinya, “Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali ‘Imran: 31).

Tidak hanya di dunia, orang-orang yang mengenal Rasulullah, mencintainya dan meneladani segala tindak-tanduknya, mereka juga akan dikumpulkan bersamanya di dalam surga kelak di akhirat.

Hal ini senada dengan salah satu riwayat yang berasal dari Ibnu Mas’ud, Rasulullah saw bersabda:

الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ

Artinya, “Seseorang (akan dikumpulkan) bersama orang yang dicintai.” (HR. Muttafaq Alaih).

Setelah Syekh Abdul Ghani an-Nabilusi menjelaskan tentang cinta Rasulullah dan keberuntungan orang-orang yang mengenal beliau, bait berikutnya menjelaskan bahwa setiap manusia datang ke dunia dengan tangan kosong dan tidak memiliki apa-apa alias fakir, dan dia pun akan pergi meninggalkan dunia dengan tangan kosong pula.

Tetapi meski manusia datang ke dunia dalam keadaan fakir dan akan meninggalkannya juga dalam keadaan fakir, mereka bisa memiliki derajat yang mulia jika menjalani kehidupan selama di dunia dengan benar, seperti senantiasa berusaha meningkatkan iman dan takwa kepada Allah, menolong orang lain, tidak menyakiti orang lain, meninggalkan hal-hal yang dilarang dalam agama dan lain sebagainya.

Mereka yang senantiasa melakukan kebaikan dan meninggalkan kejelekan akan memiliki derajat yang mulia di dunia serta akan hidup mulia di dalamnya, mereka juga akan pergi meninggalkan dunia dengan membawa amal kebaikan berupa pahala yang banyak, sehingga ia akan menaiki tangga-tangga derajat yang tinggi sebagaimana yang disebutkan dalam lagu di atas.

Hal ini selaras dengan salah satu firman Allah swt dalam Al-Qur’an, yaitu:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Artinya, “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti.” (QS. Al-Hujurat: 13).

Jika pada bait sebelumnya Syekh Abdul Ghani an-Nabilusi menggambarkan keberuntungan orang yang mengenal Nabi, maka pada penutup ini menampilkan potret seorang pecinta yang berada di ambang harapan. Pecinta ini tidak memandang dirinya sebagai sosok yang telah sempurna mencintai Nabi, tetapi ia merasa masih penuh kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Namun demikian, ia tetap istikamah untuk tidak meninggalkan pintu cinta pada sang Nabi.

Ungkapan “kami tidak akan meninggalkan pintu cinta” mengandung makna harapan yang sangat tinggi. Meski merasa tidak layak dan tidak sempurna, ia tetap bertahan untuk tidak pergi meninggalkannya. Sebab seorang pecinta tidak akan pergi hanya karena menyadari kekurangannya.

Dan memang demikian dalam ajaran Islam, Allah swt dalam Al-Qur’an dengan tegas melarang umat Islam untuk senantiasa berharap akan rahmatnya dan melarang mereka untuk berputus asa dari rahmat tersebut, sekalipun mereka telah melakukan banyak kesalahan.

Allah berfirman:

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعاً إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Artinya, “Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas (dengan menzalimi) dirinya sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang’.” (QS. Az-Zumar: 53).

Demikian uraian singkat mengenai makna, penyusun, dan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalam lagu “Nasamatu Hawaka laha ‘Araju”. Semoga bermanfaat dan dapat kecintaan kita kepada Rasulullah saw. Wallahu a’lam bisshawab.

------

Sunnatullah, Pengajar di Pondok Pesantren Al-Hikmah Darussalam Kokop Bangkalan Jawa Timur.

Baca Artikel Selengkapnya