Khutbah Jumat: Menata Hati di Tengah Zaman Penuh Fitnah

2 jam yang lalu 2

Di tengah berbagai fitnah yang semakin banyak bermunculan di zaman ini, menjaga hati menjadi kebutuhan yang tidak boleh diabaikan. Ia perlu dijaga dan ditata dengan benar, agar bisa tetap kokoh dalam kebenaran, serta tidak mudah lalai dan terpengaruh oleh berbagai godaan fitnah yang datang.


Naskah khutbah Jumat berikut ini berjudul “Menata Hati di Tengah Zaman Penuh Fitnah”. Untuk mencetak naskah khutbah Jumat ini, silakan klik ikon print berwarna merah di atas atau di bawah artikel ini (pada tampilan desktop). Semoga bermanfaat!


Khutbah I

اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِي أَنْزَلَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى لِلْمُتَّقِيْنَ، وَجَعَلَ فِيْهِ مَنَاهِجَ الْهِدَايَةِ لِلنَّاسِ أَجْمَعِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ الْمُبِيْنُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الصَّادِقُ الْأَمِيْنُ، صَلىَّ اللهُ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ، وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ فَيَا عِبَادَ الرَّحْمٰنِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ الْمَنَّانِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ: الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ


Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah

Mari kita awali khutbah Jumat ini dengan kalimat syukur alhamdulillahi rabbil alamin, atas segala limpahan nikmat dan karunia yang telah Allah berikan kepada kita semua, sehingga kita bisa tetap istiqamah menunaikan ibadah shalat Jumat. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita, Nabi Muhammad saw, beserta keluarga, sahabat, dan umatnya yang senantiasa meneladani jejaknya hingga akhir zaman.


Sebagaimana Rasulullah senantiasa mengawali khutbahnya dengan wasiat takwa, maka sebagai bentuk mengikuti jejak beliau, khatib pun berwasiat kepada diri sendiri dan segenap jamaah sekalian, marilah kita senantiasa berusaha meningkatkan takwa kepada Allah swt, dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, agar kita semua bisa selamat di dunia dan bahagia di akhirat kelak.


Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah

Saat ini kita hidup di era yang sering disebut sebagai zaman penuh fitnah. Dalam Islam, fitnah memiliki banyak makna yang sangat luas, di antaranya adalah bermakna ujian, cobaan, kekacauan, kabar bohong, tuduhan, dan lainnya, bisa juga bermakna harta, jabatan, popularitas, bahkan anak sekalipun. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an surat Al-Anfal, Allah swt berfirman:


وَاعْلَمُوا أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ


Artinya, “Ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai ujian dan sesungguhnya di sisi Allah ada pahala yang besar.” (QS. Al-Anfal, [8]: 28).


Maka, dalam kondisi penuh fitnah seperti ini, tidak ada hal yang paling kita butuhkan selain penataan hati yang baik dan benar. Sebab hati merupakan pusat kendali kehidupan manusia. Penataan hati yang baik akan melahirkan kebaikan dalam ucapan dan perbuatan. Tetapi sebaliknya, penataan hati yang tidak baik, akan membawa seseorang ke dalam berbagai bentuk kesalahan dan kemaksiatan.


Berkaitan dengan hal ini, Rasulullah saw bersabda:


أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ


Artinya, “Ketahuilah, sesungguhnya dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuhnya. Dan jika ia rusak, maka rusak pula seluruh tubuhnya. Ketahuilah, itu adalah hati.” (HR. Bukhari & Muslim).


Hadits yang baru saja kita dengar ini menegaskan kepada kita semua tentang pentingnya bersungguh-sungguh dalam menata dan menjaga hati. Sebab hati merupakan sumber yang menentukan baik dan buruknya seluruh anggota badan.

Apabila hati ditata dengan baik dan benar, maka semua perilaku dan ucapan kita akan mengarah pada kebaikan. Tetapi sebaliknya, apabila hati tidak ditata dengan baik, maka hanya kejelekan yang tampak dari ucapan dan perbuatan kita.


Imam Abu Zakaria Yahya bin Syarf an-Nawawi mengatakan dalam kitab Syarhun Nawawi ‘ala Muslim, jilid V, halaman 469:


وَفِي هَذَا الْحَدِيث تَأْكِيدٌ عَلَى السَّعْي فِي صَلَاح الْقَلْب وَحِمَايَته مِنْ الْفَسَاد


Artinya, “Dan dalam hadits ini terdapat penegasan untuk bersungguh-sungguh dalam memperbaiki hati dan menjaganya dari kerusakan.


Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah

Kemudian, setelah kita mengetahui betapa pentingnya menata hati dalam kehidupan setiap Muslim, langkah berikutnya adalah membahas cara dan langkah-langkah menata hati di tengah zaman yang penuh fitnah seperti saat ini. Dan berikut beberapa langkah yang dapat kita lakukan bersama:


1. Memperbanyak Zikir dan Mengingat Allah

Langkah pertama dalam menata hati di zaman penuh fitnah adalah dengan senantiasa memperbanyak zikir dan mengingat Allah, karena zaman yang penuh fitnah sering kali menjadikan kita semua lebih sibuk dengan urusan dunia hingga melupakan Tuhannya. Dalam kondisi seperti ini, hati kita akan semakin jauh dari-Nya, sehingga kita akan mudah gelisah, marah, iri, serta mudah terpengaruh oleh fitnah dan hawa nafsu.


Oleh sebab itu, memperbanyak zikir dan mengingat-Nya dalam kondisi tersebut adalah langkah terbaik untuk menata hati agar tetap tenang di tengah banyaknya fitnah yang bermunculan. Langkah ini sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an, Allah swt berfirman:


أَلاَ بِذِكْرِ اللّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ


Artinya, “Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram.” (QS. Ar-Ra’d, [13]: 28).


2. Memilih Lingkungan dan Teman yang Baik

Langkah kedua yang juga tidak kalah penting adalah memilih lingkungan dan teman yang baik. Sebab hati manusia sangat mudah dipengaruhi oleh lingkungan di sekitarnya. Jika ia bergaul dengan orang yang gemar berbuat maksiat, suka menyebarkan kebencian dan kerusakan, lambat laun hatinya akan terpengaruh.


Begitu juga sebaliknya, jika ia bergaul dengan orang-orang baik, maka hatinya juga akan terdorong untuk senantiasa berbuat kebaikan. Berkaitan dengan hal ini, Rasulullah saw bersabda:


الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلْ


Artinya, “Seseorang itu mengikuti agama temannya, maka hendaklah salah seorang di antara kalian memperhatikan dengan siapa ia berteman.” (HR. Ahmad & Abu Daud).

3. Memperbanyak Introspeksi Diri

Langkah ketiga yang tidak kalah penting dalam menata hati di zaman penuh fitnah adalah senantiasa melakukan muhasabah atau introspeksi diri. Sebab orang yang terbiasa mengintrospeksi dirinya akan lebih mudah menyadari kekurangan dan kesalahan yang telah ia perbuat. Ia juga akan menjaga hati dari penyakit iri, sombong, dan merasa paling benar.


4. Memperbanyak Doa agar Allah Menjaga Hati Kita

Kemudian langkah lain yang perlu kita jaga dalam menata hati ini adalah senantiasa berdoa kepada Allah agar kita senantiasa diberikan kekuatan untuk terus berada di jalan yang benar, dan hati kita tetap istiqamah di dalam agama Islam. Ini sangat penting untuk kita jaga, karena hati manusia berada di bawah pengendalian Allah, dan tidak ada seorang pun yang dapat menjamin dirinya istiqamah tanpa pertolongan dari-Nya.


Berikut ini adalah salah satu doa Rasulullah yang dapat kita baca dalam keadaan seperti ini:


يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ


Artinya, “Wahai Zat Yang Maha membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (HR. Ahmad).


Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah

Apabila langkah-langkah ini senantiasa kita lakukan dengan istiqamah, insya Allah, atas pertolongan-Nya, kita akan tetap hidup dengan tenang di tengah derasnya fitnah zaman. Sebab fitnah mungkin tidak bisa kita hilangkan, tetapi dengan pertolongan-Nya kita dapat menjaga hati agar tidak terbawa arus di dalamnya.


Demikian khutbah Jumat perihal menata hati di tengah zaman yang penuh fitnah. Semoga menjadi khutbah yang membawa berkah dan manfaat bagi kita semua. Amin ya rabbal alamin.


بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ، وَنَفَعَنِيْ وَاِيَاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ جَمِيْعَ أَعْمَالِنَا إِنَّهُ هُوَ الْحَكِيْمُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ


Khutbah II

اَلْحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَااِلَهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، اِلَهٌ لَمْ يَزَلْ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيْلًا. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَحَبِيْبُهُ وَخَلِيْلُهُ، أَكْرَمُ الْأَوَّلِيْنَ وَالْأَخِرِيْنَ، اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ كَانَ لَهُمْ مِنَ التَّابِعِيْنَ، صَلَاةً دَائِمَةً بِدَوَامِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِيْنَ


أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَذَرُوْا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. وَحَافِظُوْا عَلَى الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ وَالصَّوْمِ وَجَمِيْعِ الْمَأْمُوْرَاتِ وَالْوَاجِبَاتِ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ بِنَفْسِهِ. وَثَنَّى بِمَلَائِكَةِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. إِنَّ اللهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً


اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فِيْ العَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وِالْأَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَةً، اِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ


عِبَادَ اللهِ، اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاءِ ذِيْ الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرُكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ


Ustadz Sunnatullah, Pengajar di Pondok Pesantren Al-Hikmah Darussalam Kokop, Bangkalan, Jawa Timur.

Baca Artikel Selengkapnya