Khutbah Jumat: Mengambil Teladan Abdurrahman bin Auf dalam Membangun Bisnis yang Berkah

3 jam yang lalu 2

Membangun bisnis telah menjadi bagian dari aktivitas manusia sebagai makhluk sosial. Keuntungan yang didapatkan dari usaha bisnis tidak memadai. Setiap usaha yang dilakukan harus mengandung nilai keberkahan. Oleh karena itu, Islam mengajarkan keteladanan berbisnis dari generasi terbaik. Sosok Abdurrahman bin Auf merupakan sahabat yang dapat menjadi teladan bagi para pebisnis hari ini agar bisnis yang dijalankan menjadi berkah.


Teks khutbah Jumat berikut ini berjudul: “Mengambil Teladan Abdurrahman bin Auf dalam Membangun Bisnis yang Berkah”. Untuk mencetak naskah khutbah Jumat ini, silakan klik ikon print berwarna merah di atas atau di bawah artikel ini (pada tampilan desktop). Semoga bermanfaat!


Khutbah I

اَلْحَمْدُ لِلّٰه، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ رَسُوْلِ اللهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالَاهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ أَمَّا بَعْدُ، فَإِنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْقَدِيْرِ الْقَائِلِ فِيْ مُحْكَمِ كِتَابِهِ


اَلَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ اَمْوَالَهُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ثُمَّ لَا يُتْبِعُوْنَ مَآ اَنْفَقُوْا مَنًّا وَّلَآ اَذًىۙ لَّهُمْ اَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْۚ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ


Marilah kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT, Tuhan yang telah mengatur alam secara paripurna dengan segala misteri dan lika-liku kehidupan di dalamnya. Karena besarnya rahmat Allah, pada hari yang penuh berkah ini kita masih diberikan kesempatan untuk berkumpul dan melaksanakan ibadah shalat Jumat dengan khidmat.


Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada teladan agung kita, Nabi Muhammad, sang pembawa lentera rahmat bagi seluruh alam. Semoga Allah juga melimpahkan keberkahan kepada keluarga beliau, para sahabat yang setia memperjuangkan ajaran Islam, serta para ulama yang telah berkorban menjaga kemaslahatan umat sepanjang zaman.


Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah ta'ala,

Islam adalah agama yang mengajarkan agar kaum muslimin senantiasa bekerja sebagai bagian dari ibadah. Salah satunya adalah membangun bisnis. Tujuan akhirnya bukan hanya memperoleh keuntungan pribadi, melainkan juga memberikan manfaat dan kebahagiaan kepada sesama orang beriman melalui jalan infak dan sedekah. Allah ta'ala berfirman dalam Al-Qur’an Surah al-Baqarah ayat 262:


اَلَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ اَمْوَالَهُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ثُمَّ لَا يُتْبِعُوْنَ مَآ اَنْفَقُوْا مَنًّا وَّلَآ اَذًىۙ لَّهُمْ اَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْۚ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ


Artinya: “Orang-orang yang menginfakkan harta mereka di jalan Allah, kemudian tidak mengiringi apa yang mereka infakkan itu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti perasaan penerima, bagi mereka pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada rasa takut pada mereka, dan mereka tidak bersedih.”


Ayat ini turun berkaitan dengan sahabat Utsman bin Affan dan Abdurrahman bin Auf dalam Perang Tabuk. Sebagaimana disebutkan oleh Ibnu ‘Asyur dalam Tafsir at-Tahrir wat Tanwir, hlm. 42:


إِنَّ هَذِهِ الآيَةَ نَزَلَتْ فِي عُثْمانَ بْنِ عَفَّانَ وَعَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ


Artinya: “Sesungguhnya ayat ini diturunkan tentang Utsman bin Affan dan Abdurrahman bin Auf.”


Mengenai ayat ini pula, Ibnu ‘Asyur dalam Tafsir at-Tahrir wat Tanwir, halaman 42 menyebutkan:


بِأَنَّ الْمُرَادَ خُصُوصَ حَالِ إِنْفَاقِهِمْ بِتَقْدِيرٍ مِثْلِ نَفَقَةِ الدَّيْنِ


Artinya: “Bahwa yang dimaksud ialah khusus keadaan mereka ketika mengeluarkan nafkah, dengan takdir atau perkiraan adanya kata yang dihilangkan, seperti nafkah utang.


Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah ta'ala,

Selain Sayyidina Utsman bin Affan, sahabat mulia yang tidak boleh kita lupakan dan patut terus menjadi teladan dalam bekerja serta membangun bisnis yang berkah adalah Sayyidina Abdurrahman bin Auf. Beliau adalah sahabat yang menjalankan bisnisnya dengan baik, seorang hartawan yang dermawan kepada siapa pun.


Setibanya di Madinah, Sayyidina Abdurrahman bin Auf dipersaudarakan oleh Rasulullah dengan seorang sahabat dari kalangan Ansar bernama Sa’ad bin Rabi’. Ketika Sayyidina Sa’ad menawarkan keluarga dan hartanya, Abdurrahman bin Auf menjawab sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Hajar al-‘Asqalani dalam Fathul Bari, Jilid IX, h. 19:


بَارَكَ اللَّهُ لَكَ فِي أَهْلِكَ وَمَالِكَ دُلُّونِي عَلَى السُّوقِ ، فَأَتَى السُّوقَ فَرَبِحَ شَيْئًا مِنْ أقِطِ وَشَيْئًا مِنْ سَمْنٍ


Artinya: “Semoga Allah memberkahi keluarga dan hartamu. Tunjukkanlah kepadaku di mana pasar berada.” Lalu ia pergi ke pasar dan memperoleh keuntungan berupa sedikit aqith atau susu kering/keju kering dan sedikit samn atau mentega/minyak samin."

Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah ta'ala,

Setelah menjalankan bisnis dalam waktu singkat, Abdurrahman bin Auf memperoleh keuntungan yang membawa banyak keberkahan. Menariknya, beliau menggunakan keuntungan awal itu untuk menikah. Ini menjadi pelajaran besar bagi kita hari ini. Banyak orang yang sudah memiliki harta dan kemampuan, tetapi belum tergerak hatinya untuk menikah. Rasulullah SAW bersabda dalam Hadits riwayat Tirmidzi no. 1094:


أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى عَلَى عَبْدِ الرَّحْمَانِ بْنِ عَوْفٍ أَثَرَ صُفْرَةٍ فَقالَ: مَا هَذَا؟ فَقالَ: إِنِّي تَزَوَّجْتُ امْرَأَةً عَلَى وَزْنِ نَوَاةٍ مِنْ ذَهَبٍ. فَقالَ: بَارَكَ اللهُ لَكَ أَوْلِمْ وَلَوْ بِشَاةٍ.


Artinya: “Rasulullah SAW melihat pada pakaian Abdurrahman bin Auf ada bekas minyak wangi. Nabi bertanya, ‘Ada apa ini, Abdurrahman?’ Abdurrahman menjawab, ‘Saya baru menikahi seorang wanita dengan mahar berupa emas seberat biji kurma.’ Nabi bersabda, ‘Baarakallahu laka, semoga Allah memberkahimu. Kalau begitu, adakanlah walimah walaupun dengan seekor kambing.’


Padahal sebelumnya, Sayyidina Abdurrahman bin Auf merupakan salah satu muhajirin dari Makkah yang, setibanya di Madinah, tidak memiliki modal apa pun untuk menjalankan usahanya. Sebagaimana disebutkan oleh Syekh Ali Tantawi dalam kitabnya yang berjudul Abdurrahman bin Auf, halaman 12:


وَدَخَلُوا الْمَدِينَةَ مُهَاجِرِينَ فُقَرَاءَ


Artinya: “Mereka memasuki kota itu sebagai para perantau, yaitu kaum muhajirin yang miskin.”

Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah ta'ala,

Pelajaran berikutnya adalah bahwa Abdurrahman bin Auf terus konsisten menjalankan bisnisnya. Hingga pada tahun 9 Hijriah, Abdurrahman bin Auf telah menyumbangkan banyak harta kepada kaum muslimin. Ini menjadi pelajaran besar bagi kita tentang bagaimana seorang beriman mengelola hartanya, serta membedakan antara aktivitas jual beli dan semangat bersedekah.


Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah ta'ala,

Agar harta yang kita miliki dapat dikelola dengan baik dan menjadi berkah, keteladanan Abdurrahman bin Auf perlu kita teladani. Salah satunya adalah tidak terburu-buru dalam menjalankan bisnis. Jangan sampai kita menjadikan utang sebagai gaya hidup. Berutang memang tidak dilarang dalam syariat, tetapi tidak boleh dijadikan budaya.


Mudah-mudahan bisnis yang kita jalankan hari ini, sekecil apa pun bentuknya, dapat menjadi jalan keberkahan dalam kehidupan kita. Amin ya Rabbal ‘alamin.


بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ


Khutbah II

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إِلَى رِضْوَانِهِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا المُسْلِمُوْنَ اِتَّقُوْا اللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى


وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللّٰهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَّى بِمَلَآئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعَالَى إِنَّ اللّٰهَ وَمَلَآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا


اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيَآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلَآئِكَةِ الْمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيِّ وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِيْ التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ


اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَآءِ مِنْهُمْ وَالْاَمْوَاتِ


اَللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.


اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَالْمِحَنَ وَسُوْءَ الْفِتَنِ وَالْمِحَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خَآصَّةً وَسَائِرِ الْبُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَآمَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.


رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَ اِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ


رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ


عِبَادَ اللّٰهِ، إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِيْ الْقُرْبٰى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ


وَاذْكُرُوْا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ وَ اللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ


Ustadz Azmi Abubakar, Penyuluh Agama Islam Asal Aceh.
 

Baca Artikel Selengkapnya