Mengapa Al-Qur'an Mengumpamakan Orang yang Mengungkit Sedekah seperti Batu Licin?

41 menit yang lalu 5

“Kalau dulu bukan saya yang menolong, entah bagaimana nasibmu sekarang.” Atau, “Dulu yang membantumu saat kesulitan itu siapa? Sekarang kok tidak tahu terima kasih.”

Kalimat semacam ini mungkin pernah kita dengar, atau bahkan tanpa sadar kita ucapkan sendiri. Kebaikan yang awalnya diberikan dengan ikhlas terkadang berubah menjadi catatan jasa yang kembali diungkit saat kita marah atau kecewa kepada orang yang pernah dibantu.

Sikap seperti ini sering dianggap wajar, apalagi ketika seseorang merasa tidak dihargai atau dilupakan. Padahal, mengungkit pemberian justru dapat menghilangkan pahala kebaikan yang pernah dilakukan.

Allah SWT berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُبْطِلُوْا صَدَقٰتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْاَذٰىۙ كَالَّذِيْ يُنْفِقُ مَالَهٗ رِئَاۤءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِۗ فَمَثَلُهٗ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَاَصَابَهٗ وَابِلٌ فَتَرَكَهٗ صَلْدًا ۗ لَا يَقْدِرُوْنَ عَلٰى شَيْءٍ مِّمَّا كَسَبُوْا ۗ وَاللّٰهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الْكٰفِرِيْنَ

Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman, jangan membatalkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima), seperti orang yang menginfakkan hartanya karena riya (pamer) kepada manusia, sedangkan dia tidak beriman kepada Allah dan hari Akhir. Perumpamaannya (orang itu) seperti batu licin yang di atasnya ada debu, lalu batu itu diguyur hujan lebat sehingga tinggallah (batu) itu licin kembali. Mereka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan. Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum kafir." (Al-Baqarah [2]: 264).

Dalam ayat ini, Allah SWT melarang orang beriman mengungkit pemberian dan menyakiti penerima sedekah. Allah kemudian memberikan perumpamaan berupa batu licin yang tertutup debu, lalu diguyur hujan lebat hingga debunya hilang dan hanya menyisakan batu tersebut.

Lantas, mengapa Allah menggunakan perumpamaan batu licin? Apa pesan yang hendak disampaikan melalui gambaran tersebut? Berikut penjelasan para mufasir.

Imam al-Qurthubi menjelaskan:

ثُمَّ مَثَّلَ هَذَا الْمُنْفِقَ أَيْضًا بِصَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَيَظُنُّهُ الظَّانُّ أَرْضًا مُنْبِتَةً طَيِّبَةً، فَإِذَا أَصَابَهُ وَابِلٌ مِنَ الْمَطَرِ أَذْهَبَ عَنْهُ التُّرَابَ وَبَقِيَ صَلْدًا، فَكَذَلِكَ هَذَا الْمُرَائِي. فَالْمَنُّ وَالْأَذَى وَالرِّيَاءُ تَكْشِفُ عَنِ النِّيَّةِ فِي الْآخِرَةِ فَتَبْطُلُ الصَّدَقَةُ كَمَا يَكْشِفُ الْوَابِلُ عَنِ الصَّفْوَانِ، وَهُوَ الْحَجَرُ الْكَبِيرُ الْأَمْلَسُ

Artinya: “Kemudian Allah mengumpamakan orang yang berinfak ini dengan batu licin yang di atasnya terdapat debu. Orang yang melihatnya menyangka bahwa batu tersebut adalah tanah yang subur dan baik untuk ditanami. Namun, ketika hujan lebat mengenainya, hujan itu menghilangkan debu tersebut sehingga yang tersisa hanyalah batu licin. Demikian pula keadaan orang yang berbuat riya.

Sikap mengungkit-ungkit pemberian, menyakiti penerima, dan riya akan menyingkap hakikat niatnya kelak di akhirat, sehingga sedekahnya menjadi batal, sebagaimana hujan lebat menyingkap batu licin tersebut. Batu itu adalah batu besar yang permukaannya benar-benar licin.” (Muhammad bin Ahmad al-Qurthubi, al-Jami li Ahkamil Qur'an [Mesir: Darul Kutub al-Mishriyah, 1963], juz III, halaman 312).

Menurut al-Qurthubi, debu yang menutupi batu membuatnya tampak seperti tanah subur. Namun, ketika hujan turun, debu tersebut hilang dan terlihatlah keadaan batu yang sebenarnya.

Begitu pula dengan sedekah. Amal yang tampak baik di mata manusia bisa kehilangan nilainya di sisi Allah jika disertai riya, mengungkit pemberian, atau menyakiti penerimanya.

Penjelasan serupa disampaikan Ibnu Katsir. Ia mengaitkan hilangnya debu dari permukaan batu dengan lenyapnya pahala amal orang yang berbuat riya.

أي: فترك الوابلُ ذلك الصفوان صلدًا، أي: أملس يابسًا، أي: لا شيء عليه من ذلك التراب، بل قد ذهب كله، أي: وكذلك أعمال المرائين تذهب وتضمحل عند الله، وإن ظهر لهم أعمال فيما يرى الناس، كالتراب

Artinya: "Maksudnya: hujan lebat itu meninggalkan batu tersebut dalam keadaan licin dan kering. Artinya, tidak ada sedikitpun debu yang tersisa di atasnya, bahkan seluruh debu itu telah hilang. Demikian pula amal-amal orang yang berbuat riya akan hilang dan lenyap di sisi Allah, meskipun di mata manusia amal mereka tampak ada dan terlihat, seperti debu yang berada di atas batu tersebut.” (Abul Fida' Ismail bin Katsir, Tafsirul Qur'anil Az​​​​​​​him [Beirut: Darul Kutub Ilmiyah, tt], juz I, halaman 533).

Artinya, kebaikan yang terlihat oleh manusia belum tentu bernilai di sisi Allah. Sebagaimana debu yang tampak menutupi batu, amal tersebut terlihat ada, tetapi bisa lenyap tanpa menyisakan pahala karena niat yang tidak benar.

Sementara itu, Ibnu Asyur menjelaskan perumpamaan tersebut dari sisi yang berbeda. Menurutnya, Allah menggunakan gambaran yang dapat dilihat secara langsung untuk menjelaskan sesuatu yang tidak terlihat, yaitu harapan memperoleh pahala yang akhirnya berujung pada kekecewaan.

فَالتَّشْبِيهُ تَشْبِيهُ مُرَكَّبٍ مَعْقُولٍ بِمُرَكَّبٍ مَحْسُوسٍ. وَوَجْهُ الشَّبَهِ الْأَمَلُ فِي حَالَةٍ تَغُرُّ بِالنَّفْعِ ثُمَّ لَا تَلْبَثُ أَلَّا تَأْتِيَ لِآمِلِهَا بِمَا أَمَّلَهُ فَخَابَ أَمَلُهُ. ذَلِكَ أَنَّ الْمُؤْمِنِينَ لَا يَخْلُونَ مِنْ رَجَاءِ حُصُولِ الثَّوَابِ لَهُمْ مِنْ صَدَقَاتِهِمْ، وَيَكْثُرُ أَنْ تَعْرِضَ الْغَفْلَةُ لِلْمُتَصَدِّقِ فَيُتْبِعُ صَدَقَتَهُ بِالْمَنِّ وَالْأَذَى انْدِفَاعًا مَعَ خَوَاطِرَ خَبِيثَةٍ

Artinya: "Perumpamaan tersebut merupakan perumpamaan antara sesuatu yang bersifat abstrak (dapat dipahami akal) dengan sesuatu yang bersifat konkret (dapat ditangkap panca indra). Adapun sisi kesamaannya adalah adanya harapan terhadap suatu keadaan yang tampaknya memberikan manfaat, tetapi tidak lama kemudian harapan tersebut ternyata tidak menghasilkan apa yang diharapkan, sehingga orang yang berharap menjadi kecewa.

Hal itu karena orang mukmin tidak lepas dari harapan memperoleh pahala dari sedekah yang mereka berikan. Namun, seringkali kelalaian muncul pada diri orang yang bersedekah, sehingga ia mengikuti sedekahnya dengan menyebut-nyebut pemberian dan menyakiti penerimanya, sebagai akibat dari dorongan pikiran-pikiran buruk yang muncul dalam dirinya.” (Muhammad Thahir Ibnu Asyur, at-Tahrir wat Tanwir [Tunisia: ad-Dar at-Tunisiyah lin Nasyr], juz III, halaman 49).

Penjelasan Ibnu Asyur ini memperlihatkan bahwa seseorang yang bersedekah tentu berharap mendapatkan pahala. Namun, harapan tersebut bisa berakhir sia-sia ketika sedekah yang telah diberikan justru diikuti dengan ucapan atau sikap yang menyakiti penerimanya.

Adapun Syekh Mutawalli as-Sya'rawi menjelaskan alasan batu licin digunakan dalam perumpamaan tersebut. Menurutnya, karakter permukaan batu memiliki kaitan erat dengan gambaran hilangnya amal.

والصفوان هو الحجر الأملس تماما وهو الذي ليس فيه خشونة، لأن الحجر إن كان به جزء من خشونة وعليه تراب ثم سقط عليه المطر، فالتراب يتخلل الخشونة. أما الحجر الأملس فمن فور نزول المطر ينزلق من عليه التراب

Artinya: “Ash-Shafwan adalah batu yang benar-benar licin, yaitu batu yang tidak memiliki permukaan kasar. Sebab, jika sebuah batu memiliki bagian yang kasar, kemudian di atasnya terdapat debu dan turun hujan, debu tersebut akan meresap dan tertahan pada bagian yang kasar itu. Adapun batu yang licin, ketika hujan turun, debu yang berada di atasnya akan langsung tergelincir dan hilang.” (Muhammad Mutawalli as-Sya'rawi, Tafsir as-Sya'rawi [Mesir: Matabi' Akhbaril Yaum], juz V, halaman 2743).

Melalui penjelasan ini, kita dapat memahami mengapa batu licin menjadi perumpamaan dalam ayat tersebut. Berbeda dengan batu yang permukaannya kasar dan masih dapat menahan sebagian tanah, batu yang benar-benar licin tidak mampu menahan debu ketika diguyur hujan lebat.

Walhasil, dari penjelasan para mufasir di atas dapat dipahami bahwa Allah menggunakan perumpamaan batu licin untuk menggambarkan amal sedekah yang tampak baik, tetapi kehilangan nilainya karena riya, mengungkit pemberian, dan menyakiti penerima.

Sebagaimana debu yang menutupi batu licin sehingga tampak seperti tanah subur, sedekah pun bisa terlihat sebagai kebaikan besar di mata manusia. Namun, ketika hakikat niat dan amal tersebut tersingkap di akhirat, harapan memperoleh pahala justru dapat berakhir dengan kekecewaan.

Karena itu, sedekah bukan sekadar tentang memberi, tetapi juga menjaga kebaikan yang telah diberikan. Jangan sampai amal yang sudah dilakukan dengan susah payah justru kehilangan pahalanya akibat ucapan dan sikap kita sendiri setelah bersedekah. Wallahu a'lam.

Ustadz Muhamad Hanif Rahman, Dosen Ma'had Aly Al-Iman Bulus dan Pengurus LBM NU Purworejo

Baca Artikel Selengkapnya