Asap Karhutla Ganggu Penerbangan, Jarak Pandang di Sejumlah Bandara di Bawah 1 Km

2 jam yang lalu 5

Jakarta, NU Online

Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih mengganggu jarak pandang di sejumlah wilayah Indonesia. Kondisi tersebut turut memengaruhi operasional penerbangan, terutama ketika jarak pandang tidak memenuhi batas yang diperlukan untuk keselamatan penerbangan.


Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani mengatakan beberapa bandara mengalami jarak pandang kurang dari satu kilometer akibat kondisi atmosfer yang terdampak asap karhutla.


“Kalau terkait dengan jarak pandang, memang beberapa bandara ada yang berada pada jarak pandang kurang dari satu kilometer. Ini sangat situasional ya. Setelah terjadinya hujan tentunya jarak pandang akan lebih jauh,” ujarnya di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (24/9/2026).


Menurut Faisal, jarak pandang di sejumlah bandara lainnya berada pada kisaran 1 hingga 5 kilometer. Kondisi tersebut terus dipantau BMKG karena dapat berubah bergantung pada cuaca, termasuk hujan.


“Beberapa ada yang 1.000 sampai 5.000 meter jarak pandangnya, sehingga BMKG ada di semua bandara, hampir semua bandara di Indonesia, sehingga kita yang memberikan juga masukan kepada AirNav untuk menentukan operasi bandara,” tuturnya.


Ia mengatakan penurunan jarak pandang dapat membuat operasional penerbangan harus disesuaikan. Penundaan penerbangan dapat dilakukan untuk memastikan keselamatan penerbangan tetap terjaga.


“Jadi kadang ada delay ya, untuk menjaga bahwa keamanan, keselamatan penerbangan itu bisa dijaga dengan baik oleh semua maskapai,” ucapnya.


Penutupan Bandara Bersifat Situasional

Faisal mengatakan hingga kini belum ada informasi mengenai penutupan total bandara akibat karhutla. Namun, penutupan sementara dapat dilakukan apabila jarak pandang belum memenuhi kondisi yang memungkinkan pesawat lepas landas atau mendarat.


“Kalau penutupan akibat Karhutla seperti yang terjadi kemarin ya, ada total ada delapan bandara yang ditutup ketika letusan Anak Krakatau, itu dari informasi yang kami dapatkan belum. Tapi kalau penutupan secara dalam jangka waktu tertentu misalnya pagi hari selama tiga jam sampai ada visibility yang memungkinkan untuk lepas landas atau mendarat, itu kadang-kadang diterapkan juga. Tergantung situasi,” pungkas Faisal.

Baca Artikel Selengkapnya