Jakarta (ANTARA) - Analis Senior Divisi Riset Bursa Efek Indonesia (BEI) Fikrian Naufal Hardiatmojo menilai investor ritel semakin berperan menopang aktivitas pasar modal Indonesia di tengah volatilitas hingga Juli 2026.
Ia mengatakan jumlah investor pasar modal terus meningkat hingga menembus 30 juta, sejalan dengan peningkatan aktivitas investor secara harian, mingguan, bulanan, maupun tahunan dibandingkan tahun sebelumnya.
"Kalau kekhawatiran dari Bapak Ibu biasanya, ini jumlah investor banyak, tapi aktif enggak? Jawabannya adalah cukup aktif," kata Fikrian dalam Media Connect Samuel Sekuritas Indonesia di Jakarta, Jumat.
Berdasarkan data yang dipaparkan, jumlah investor pasar modal mencapai 30,064 juta pada Juli 2026, meningkat dari 20,348 juta pada akhir 2025. Dari jumlah tersebut, sekitar 10,031 juta merupakan investor saham yang tercatat di Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI).
Pertumbuhan basis investor berlangsung pesat dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2020, jumlah investor pasar modal masih 3,681 juta, kemudian meningkat menjadi 7,489 juta pada 2021, 10,311 juta pada 2022, 12,168 juta pada 2023, dan 14,871 juta pada 2024.
Fikrian menjelaskan penghitungan investor menggunakan single investor identification (SID), sehingga seorang investor tetap dihitung satu meskipun memiliki rekening efek pada lebih dari satu perusahaan sekuritas.
Selain bertambah secara jumlah, porsi kepemilikan saham investor ritel juga meningkat. Data BEI menunjukkan porsinya naik dari 13,1 persen pada 2020 menjadi 18,4 persen pada Juli 2026.
Meski porsi kepemilikannya masih lebih kecil dibandingkan investor institusi, kontribusi investor ritel terhadap transaksi justru menjadi yang terbesar.
Pada Juli 2026, investor ritel menyumbang 51,1 persen dari komposisi nilai transaksi, sedangkan investor institusi asing berkontribusi 35,8 persen dan institusi domestik 13,1 persen.
"Jadi bisa dikatakan kalau istilah katanya kecil-kecil cabai rawit, nah, itulah investor ritel," ujar Fikrian.
Besarnya aktivitas investor ritel berlangsung ketika likuiditas pasar tetap terjaga di tengah berbagai ketidakpastian yang memengaruhi pergerakan indeks.
Materi BEI menunjukkan rata-rata nilai transaksi harian mencapai Rp22,5 triliun pada Juli 2026, meningkat dibandingkan Rp18,1 triliun pada 2025. Secara tahun berjalan, nilai transaksi meningkat 24,6 persen, frekuensi transaksi tumbuh 41,9 persen, dan volume perdagangan naik 30,3 persen.
"Artinya sebenarnya kalau kita lihat market kita masih cukup likuid di tengah ketidakpastian atau volatilitas yang terjadi saat ini," ungkap dia.
Dari sisi demografi, lanjut Fikrian, investor saham individu Indonesia juga didominasi kelompok usia muda. Data KSEI dalam materi BEI menunjukkan investor berusia di bawah 30 tahun mencapai 54,12 persen pada Juni 2026.
Sementara berdasarkan pekerjaan, kelompok pegawai menjadi yang terbesar dengan porsi 57,40 persen. Komposisi tersebut menunjukkan generasi muda dan kelompok pekerja menjadi bagian penting dari pertumbuhan basis investor saham domestik.
Fikrian menilai besarnya partisipasi generasi muda juga membawa tantangan bagi pengembangan pasar modal, terutama untuk memastikan pertumbuhan jumlah investor diikuti peningkatan pemahaman mengenai investasi dan risiko.
Menurut dia, edukasi menjadi penting agar peningkatan jumlah dan aktivitas investor domestik dapat mendukung perkembangan pasar modal Indonesia secara berkelanjutan.
"Oleh karena itu kita selaku Bursa Efek Indonesia enggak bisa tinggal diam. Kita melalui 29 kantor perwakilan dan lebih dari 1.000 galeri investasi yang ada di seluruh provinsi di Indonesia berusaha mengadakan sebanyak-banyaknya sosialisasi dan edukasi tujuannya untuk meningkatkan literasi dan juga inklusi dari pasar modal Indonesia," ungkap Fikrian.
Baca juga: KSEI: Pertumbuhan SID cerminkan minat tinggi masyarakat berinvestasi
Baca juga: OJK: Investor pasar modal tumbuh 47,63 persen capai 30,06 juta SID
Baca juga: OJK bertemu 100 investor global, apresiasi reformasi pasar modal RI
Pewarta: Aria Ananda
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.








English (US) ·
Indonesian (ID) ·