Analis BEI lihat peluang kinerja LQ45 tumbuh pada semester II 2026

1 jam yang lalu 4

Jakarta (ANTARA) - Analis Senior Divisi Riset Bursa Efek Indonesia (BEI) Fikrian Naufal Hardiatmojo melihat peluang kinerja 45 saham emiten dalam indeks LQ45 tetap tumbuh pada semester II 2026, apabila ketidakpastian global dan volatilitas pasar mereda.

Fikrian mengatakan prospek tersebut bergantung pada perkembangan kondisi makroekonomi dan fundamental masing-masing emiten, termasuk arah tensi geopolitik serta perekonomian global yang dapat memengaruhi aktivitas usaha perusahaan.

“Tatkala ketidakpastian itu sudah mulai berkurang, volatilitas sudah mulai kembali normal, itu rasanya memang bukan hal yang sulit,” kata Fikrian dalam Media Connect 2026 Samuel Sekuritas Indonesia di Jakarta, Jumat.

Menurut dia, meredanya ketidakpastian dan normalisasi volatilitas dapat memberikan kondisi yang lebih kondusif bagi perusahaan untuk mempertahankan pertumbuhan pada paruh kedua tahun ini.

“Apabila ekonomi dari globalnya itu mendukung, tentunya pasti akan menunjang kinerja perusahaan itu sendiri,” ujarnya.

Berdasarkan materi yang dipaparkan Fikrian, pendapatan perusahaan tercatat yang masuk dalam data BEI tumbuh 11,41 persen secara tahunan pada kuartal I 2026, sedangkan laba bersih meningkat 31,67 persen.

Dari sisi profitabilitas, sebanyak 74 persen perusahaan membukukan laba pada kuartal I 2026, meningkat dibandingkan 72 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya, sedangkan 26 persen lainnya mencatat kerugian.

Pada kelompok LQ45, pendapatan tumbuh 14,44 persen secara tahunan pada kuartal I 2026, sedangkan laba bersih meningkat 13,68 persen.

Secara sektoral, pertumbuhan laba bersih tertinggi dalam kelompok LQ45 berasal dari sektor barang baku sebesar 258,85 persen, disusul transportasi dan logistik 101,42 persen serta keuangan 39,89 persen.

Fikrian mengingatkan kinerja sektoral dalam LQ45 tidak dapat langsung dibandingkan dengan pertumbuhan sektor ekonomi secara keseluruhan karena indeks tersebut hanya mencakup sejumlah emiten terpilih.

Ia mencontohkan kinerja sektor barang baku dalam LQ45 hanya mencerminkan beberapa perusahaan yang menjadi konstituen indeks, sedangkan data produk domestik bruto (PDB) mencakup aktivitas ekonomi dengan cakupan yang lebih luas.

Karena itu, menurut dia, perbedaan antara pertumbuhan laba emiten barang baku dalam LQ45 dan perkembangan sektor pertambangan dalam data PDB tidak dapat dibandingkan secara langsung.

Untuk semester II 2026, Fikrian mengatakan prospek emiten berbasis komoditas akan turut dipengaruhi perkembangan harga komoditas, inflasi dan tingkat suku bunga.

Suku bunga yang tinggi, lanjutnya, dapat meningkatkan biaya pendanaan perusahaan sehingga berpotensi membuat sebagian emiten menahan rencana ekspansi.

Meski demikian, ia melihat mulai meredanya sejumlah tekanan dapat memberikan ruang bagi perbaikan kinerja ekonomi dan fundamental perusahaan tercatat pada paruh kedua 2026.

“Harapannya sih tentunya kita optimis ya, baik dari sisi ekonomi dan juga growth masing-masing fundamental emiten yang ada di Bursa Efek Indonesia,” ucap Fikrian.

Baca juga: BEI pastikan tak ada perubahan kriteria evaluasi indeks LQ45-IDX30

Baca juga: Batas investasi saham dapen-asuransi naik ke 20 persen, fokus di LQ45

Baca juga: BEI dan S&P Dow Jones Indices rilis tiga indeks saham bersama

Pewarta: Aria Ananda
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Baca Artikel Selengkapnya