Analis BEI: Fundamental RI tetap kuat di tengah tekanan pasar

1 jam yang lalu 1
sebenarnya banyak sentimen, enggak cuma satu dua hal, tapi ini merupakan kombinasi dari seluruh sentimen yang ada di pasar menyebabkan indeks kita sempat turun

Jakarta (ANTARA) - Analis Senior Divisi Riset Bursa Efek Indonesia (BEI) Fikrian Naufal Hardiatmojo menilai fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat di tengah tekanan pasar yang dipicu kombinasi sentimen global dan domestik.

Ia mengatakan tekanan tersebut tercermin dari koreksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebesar 27,88 persen sepanjang tahun berjalan hingga Juli 2026 serta arus keluar dana asing sekitar Rp72 triliun.

"Jadi sebenarnya banyak sentimen, enggak cuma satu dua hal, tapi ini merupakan kombinasi dari seluruh sentimen yang ada di pasar menyebabkan indeks kita sempat turun," kata Fikrian dalam Media Connect Samuel Sekuritas Indonesia di Jakarta, Jumat.

Dalam materi yang dipaparkannya, tekanan terhadap pasar saham antara lain dikaitkan dengan konflik geopolitik, kebijakan suku bunga global yang masih ketat, tekanan terhadap rupiah, risiko fiskal domestik, serta ketidakpastian terkait perkembangan pasar modal.

Meski demikian, Fikrian menjelaskan tekanan pasar saham perlu dibedakan dengan kondisi fundamental perekonomian nasional karena sejumlah indikator makroekonomi dan sektor keuangan masih menunjukkan daya tahan.

Ia mengatakan ekonomi Indonesia tumbuh 5,29 persen secara tahunan pada triwulan II 2026 berdasarkan data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) dan tumbuh 5,61 persen pada triwulan I 2026.

"Jadi secara pertumbuhan ekonomi kita masih sangat baik," ujarnya.

Baca juga: Analis BEI lihat peluang kinerja LQ45 tumbuh pada semester II 2026

Menurut Fikrian, konsumsi rumah tangga yang menyumbang sekitar separuh produk domestik bruto (PDB) menjadi salah satu faktor yang menjaga pertumbuhan ekonomi nasional tetap berada di kisaran 5 persen.

Materi BEI membandingkan kondisi ekonomi saat ini dengan periode krisis 1998, krisis keuangan global 2008, dan pandemi COVID-19 pada 2020. Dalam perbandingan tersebut, inflasi pada Juli 2026 berada di level 2,88 persen, jauh di bawah 55,67 persen pada 1998 dan 10,27 persen pada 2008.

Fikrian kemudian memaparkan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) pada Juli 2026 yang tercatat sebesar 5,75 persen. Sementara itu, nilai tukar rupiah secara tahun berjalan hingga 31 Juli 2026 melemah 7,28 persen, lebih ringan dibandingkan depresiasi sekitar 197 persen pada 1998 dan 15 persen pada 2008, meski lebih dalam dibandingkan pelemahan 1,47 persen pada 2020.

Dari sisi ketahanan eksternal, cadangan devisa Indonesia mencapai 145,59 miliar dolar AS (sekitar Rp2.608,83 triliun) pada Juni 2026. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan 17,40 miliar dolar AS (sekitar Rp310,59 triliun) pada 1998, 50,20 miliar dolar AS (sekitar Rp897,68 triliun) pada 2008, serta 135,89 miliar dolar AS (sekitar Rp2.433,56 triliun) pada 2020 dalam perbandingan yang ditampilkan BEI.

Kualitas kredit perbankan, menurut Fikrian juga masih relatif terjaga. Rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) tercatat 2,17 persen pada Mei 2026, dibandingkan sekitar 30 persen pada 1998, dan 3,80 persen pada 2008, serta 3,06 persen pada 2020.

Berdasarkan hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada akhir Juli 2026, rasio NPL tercatat sebesar 2,09 persen.

Fikrian mengatakan NPL menjadi salah satu indikator penting untuk membaca ketahanan perekonomian mengingat besarnya peran sektor perbankan dalam sistem keuangan Indonesia.

Ia menjelaskan bahwa di tengah koreksi indeks dan derasnya arus keluar dana asing, likuiditas perdagangan juga masih terjaga.

Rata-rata nilai transaksi harian pada Juli 2026 mencapai Rp22,51 triliun, dibandingkan Rp9,21 triliun pada 2020, Rp4,44 triliun pada 2008, dan Rp0,40 triliun pada 1998.

Data tersebut, menurut Fikrian, menunjukkan tekanan yang terjadi di pasar saat ini tidak serta-merta dapat disamakan dengan memburuknya fundamental ekonomi seperti pada sejumlah periode krisis sebelumnya.

"Meskipun market ini koreksi, kita harus tahu dulu sebenarnya secara komposisi dan fundamental kita itu masih cenderung baik dari sisi fundamental ekonominya," ungkap Fikrian.

Namun, ia mengingatkan stabilitas fiskal tetap menjadi faktor yang perlu dijaga karena investor asing turut menilai kemampuan pemerintah mengelola keuangan negara, selain kondisi ekonomi serta stabilitas sosial dan politik.

Menurut dia, meningkatnya kebutuhan belanja di tengah risiko kenaikan harga energi global dapat menambah tekanan terhadap fiskal apabila tidak dikelola secara hati-hati.

Baca juga: AEI: Ulasan MSCI momen perkuat kualitas pasar modal lebih kompetitif

Baca juga: BEI lelang 11 saham hasil pembelian kembali pada 1 September 2026

Pewarta: Aria Ananda
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Baca Artikel Selengkapnya