Jakarta, NU Online
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau mulai berlangsung secara bertahap di sejumlah wilayah Indonesia, namun potensi hujan dengan intensitas tinggi masih berpeluang terjadi di beberapa daerah.
Prakirawan BMKG, Yuni Maharani, menjelaskan bahwa berdasarkan analisis perkembangan musim kemarau, sebanyak 28,6 persen wilayah zona musim di Indonesia telah memasuki musim kemarau. Wilayah tersebut didominasi oleh bagian selatan Indonesia.
Menurutnya, kondisi tersebut dipengaruhi oleh aktifnya monsun Australia yang membawa massa udara kering ke sebagian wilayah Indonesia sehingga berdampak pada berkurangnya pembentukan awan.
Selain itu, suhu maksimum lebih dari 35 derajat Celsius diperkirakan terjadi di sejumlah wilayah, yakni Sumatera Utara, Riau, Lampung, Banten, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, Papua Barat, dan Papua Selatan.
“Meskipun beberapa wilayah sudah memasuki musim kemarau, hujan dengan intensitas ringan hingga sangat lebat masih terjadi di sejumlah daerah, khususnya di wilayah Indonesia bagian utara,” ujar Yuni, diakses NU Online, Senin (8/6/2026).
Ia mengatakan bahwa kondisi kemarau yang datang secara bertahap membuat potensi cuaca ekstrem belum sepenuhnya menurun. Dari hasil pemantauan BMKG, indeks Nino 3.4 tercatat sebesar +0,69 dan nilai Southern Oscillation Index (SOI) sebesar -1,6.
“Hal ini terlihat dari indeks Nino 3.4 sebesar +0,69 dan nilai SOI sebesar -1,6, di mana kondisi ini umumnya berdampak pada pengurangan potensi curah hujan di sebagian wilayah Indonesia,” katanya.
Sementara itu, aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) diprediksi berada pada fase tujuh hingga delapan dan masih aktif secara spasial di wilayah Pulau Papua bagian tengah hingga timur. Gelombang Kelvin juga diperkirakan aktif di sebagian besar wilayah Indonesia dan bergerak dari Indonesia bagian barat menuju timur.
Di sisi lain, gelombang Rossby Ekuatorial diprediksi aktif di Sumatera bagian utara. BMKG juga memantau potensi terbentuknya sirkulasi siklonik di Samudra Pasifik Utara Papua yang dapat memicu daerah konvergensi dan konfluensi dari Papua Pegunungan hingga Papua Tengah.
Untuk periode 8-11 Juni 2026, cuaca di Indonesia umumnya didominasi hujan ringan hingga hujan lebat.
“Potensi hujan lebat hingga sangat lebat yang dapat disertai petir atau kilat serta angin kencang pada kategori peringatan dini diperkirakan terjadi di Papua Pegunungan,” turur Yuni.
BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem yang dapat memicu bencana hidrometeorologi.
“Masyarakat juga diharapkan terus memantau informasi cuaca dan peringatan dini resmi BMKG serta melakukan langkah antisipasi guna meminimalkan dampak cuaca ekstrem,” pungkasnya.

3 jam yang lalu
2







English (US) ·
Indonesian (ID) ·