Jakarta (ANTARA) - Pengamat Pasar Modal Reydi Octa mengatakan pelemahan IHSG yang mencapai 3 persen disebabkan oleh ekspektasi sikap hawkish (pengetatan uang) dari bank sentral global atas kebijakan suku bunga acuannya.
Ekspektasi hawkish bank sentral tersebut mendorong investor global bersikap risk off (menghindari aset berisiko), termasuk di pasar saham negara emerging market seperti Indonesia.
“Pelemahan IHSG hari ini, saya melihat lebih dipengaruhi karena investor masih mencermati arah suku bunga global yang masih cenderung hawkish, pergerakan dolar Amerika Serikat (AS), serta dinamika geopolitik yang masih mendorong sikap risk-off,” ujar Reydi saat dihubungi oleh Antara di Jakarta, Rabu.
Sementara itu, dari domestik, Reydi mengatakan investor masih menunggu katalis kuat yang dapat mengembalikan kepercayaan setelah periode foreign outflow (dana asing keluar) yang cukup panjang.
Ia menjelaskan bahwa investor asing saat ini cenderung masih selektif dan defensif terhadap pasar Indonesia.
Menurutnya, status Indonesia yang tetap berada di Emerging Market menurut klasifikasi MSCI memang mengurangi risiko outflow, namun belum cukup untuk langsung membalikkan foreign outflow menjadi foreign inflow (dana asing masuk) dalam jumlah besar.
“Investor masih menunggu perbaikan likuiditas, kepastian kebijakan, stabilitas rupiah, dan peningkatan kualitas pasar,” ujar Reydi.
Dalam jangka pendek, ia memproyeksikan IHSG masih berpotensi bergerak volatil dengan kecenderungan konsolidasi, yang mana selama belum ada katalis positif yang kuat, pergerakannya masih akan didominasi sentimen global dan aliran dana asing.
“Namun jika rupiah stabil dan tekanan jual asing mulai mereda, peluang rebound tetap terbuka,” ujar Reydi
Sebagai informasi, Kontrak Berjangka Fed Funds di AS mengindikasikan potensi dua kali kenaikan suku bunga oleh The Fed sepanjang tahun 2026 dibandingkan sebelumnya hanya satu kali.
Pergeseran ekspektasi tersebut mendorong kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS dan meningkatkan tekanan terhadap saham-saham growth, khususnya sektor teknologi yang selama ini menjadi motor utama reli pasar.
Data perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu (24/6) pukul 14.40 WIB, IHSG tercatat melemah 183,76 poin atau 3,01 persen ke posisi 5.917,57.
Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 1.525.000 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 17,54 miliar lembar saham senilai Rp10,63 triliun. Sebanyak 108 saham naik, 606 saham menurun, dan 245 tidak bergerak nilainya.
Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, semua atau sebelas sektor melemah yaitu sektor barang baku turun paling dalam minus 5,22 persen, diikuti oleh sektor energi dan sektor infrastruktur yang turun masing-masing sebesar 4,71 persen dan 3,92 persen.
Baca juga: Bittime: Negosiasi AS-Iran berpotensi jadi penentu arah pasar global
Baca juga: Purbaya sebut belum ada rencana Kemenkeu buka saham di BEI
Baca juga: BTN kaji "buyback" di tengah saham yang dinilai "undervalued"
Pewarta: Muhammad Heriyanto
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.








English (US) ·
Indonesian (ID) ·