Jakarta (ANTARA) - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai, Indonesia tetap menjadi tujuan investasi yang menarik di tengah meningkatnya ketidakpastian global akibat konflik geopolitik.
Meski konflik global membuat pasar kian sulit diprediksi dan mendorong investor lebih berhati-hati dalam menempatkan modalnya, menurut Airlangga, kawasan Indo-Pasifik masih dipandang sebagai kawasan yang aman dan menguntungkan bagi investasi. Saat ini, dunia sedang menanti momentum perdamaian antara AS dan Iran.
“Perdamaian selalu membuat hasil positif terhadap global outlook, terhadap perekonomian global. Dan yang kedua juga akan memperbaiki supply chain. Jadi dua hal itu sangat berpengaruh terhadap ekonomi Indonesia. Tapi yang jelas perdamaian itu kontribusinya positif terhadap perekonomian,” ujar Airlangga dalam keterangan resmi di Jakarta, Rabu.
Airlangga menjelaskan, pertumbuhan ekonomi ASEAN yang masih berada di atas 4 persen serta stabilitas kawasan yang didukung negara-negara seperti China, Jepang, Korea Selatan, Australia, dan Selandia Baru menjadi faktor penting dalam menjaga kepercayaan investor.
Baca juga: OJK: Tinjauan MSCI cerminkan kepercayaan global ke pasar modal RI
Di tengah ketidakpastian global, berbagai kawasan ekonomi khusus (KEK) juga mencatatkan kinerja positif dengan tingkat keterisian yang tinggi. Bahkan, sejumlah kawasan tengah menyiapkan ekspansi untuk mengakomodasi pergeseran rantai pasok global (global supply chain realignment).
Untuk menjaga daya tarik investasi, lanjut Airlangga, pemerintah terus memperkuat koordinasi kebijakan fiskal dan moneter guna menjaga stabilitas ekonomi domestik, termasuk stabilitas nilai tukar rupiah.
Maka dari itu. langkah Bank Indonesia dalam menjaga daya tarik instrumen rupiah diharapkan mampu mengurangi tekanan arus modal keluar (capital outflow) dan mendukung masuknya investasi berkualitas ke dalam negeri.
“Kerja sama antara fiskal dan moneter ini sudah sangat baik. Karena kami juga secara reguler bertemu. Dan kita memonitor dana pihak ketiga di perbankan, penyaluran kredit, dan juga tentu likuiditas di pasar yang sangat diperlukan,” katanya.
Baca juga: BKPM: Indonesia tawarkan peluang investasi pengembangan baterai EV
Selain menjaga stabilitas domestik, pemerintah juga terus memperluas akses pasar dan investasi melalui berbagai kerja sama ekonomi internasional. Salah satunya adalah proses aksesi Indonesia ke Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD).
Keanggotaan OECD diharapkan dapat meningkatkan kualitas regulasi nasional, memperkuat kepercayaan investor, serta memperluas akses Indonesia ke pasar global yang memiliki nilai ekonomi sekitar 64 triliun dolar AS.
Pewarta: Bayu Saputra
Editor: Zaenal Abidin
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.








English (US) ·
Indonesian (ID) ·