Trump Disebut Ogah Temu Netanyahu di Sela-sela Momen Sidang PBB

44 menit yang lalu 2

Jakarta, CNN Indonesia --

Perdana Menteri Benjamin Netanyahu berupaya memanfaatkan pidatonya di Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk memperkuat dukungan menjelang pemilu Israel.

Namun, upayanya untuk bertemu Presiden Amerika Serikat Donald Trump di New York tampaknya belum membuahkan hasil.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut jurnalis diplomatik The Times of Israel, Lazar Berman, menyebut kantor Netanyahu telah berupaya mengatur pertemuan dengan Trump. Namun, Trump "tampaknya tidak bersedia mewujudkannya."

Trump diketahui malah bertemu dengan Wali Kota New York Zohran Mamdani pada pekan ini jelang Sidang Majelis Umum PBB berlangsung. 

Mamdani saat ini tengah bersitegang dengan Netanyahu lantaran ancamannya untuk menangkap sang PM yang menjadi buron Mahkamah Pidana Internasional (ICC) imbas genosida di Palestina.

Sementara itu, pidato Netanyahu di PBB berlangsung pada Kamis (24/9), hanya sekitar sebulan sebelum pemilu Israel pada 27 Oktober.

Blok Netanyahu masih belum mencapai 61 kursi yang dibutuhkan untuk membentuk pemerintahan. Trump juga membagikan berita tentang jajak pendapat yang menempatkan blok Netanyahu sedikit di atas pesaingnya, tetapi belum mencapai mayoritas.

Berman mencatat Trump tidak secara terbuka menyatakan dukungan kepada Netanyahu.

Menurut Berman, pertemuan dengan Trump akan memberi Netanyahu kesempatan untuk menghidupkan kembali pesan kampanye bahwa hubungannya dengan pemimpin dunia menjadi keunggulannya dibanding para pesaing.

Pertemuan itu juga bisa digunakan Netanyahu untuk membahas kepentingan Israel terkait Iran, Lebanon, dan Gaza secara langsung dengan Trump.

Namun, Netanyahu menghadapi sejumlah persoalan di dalam negeri.

Berman menyoroti kemarahan pemilih terkait kegagalan pemerintah mencegah serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, penolakan Netanyahu membentuk komisi penyelidikan negara atas serangan tersebut, penolakan koalisi terhadap wajib militer bagi komunitas Haredi, serta meningkatnya sentimen ekstremis di Israel.

Karena itu, Berman menilai pidato Netanyahu di PBB tidak hanya ditujukan kepada para pemimpin dunia. Menurutnya, "audiens utama" Netanyahu justru pemilih Israel yang menyaksikan pidato tersebut dari rumah.

Netanyahu diperkirakan akan berusaha meyakinkan pemilih bahwa dirinya masih mampu menjamin keamanan Israel.

Pesan itu menjadi penting setelah Israel menjalankan operasi militer di Gaza, Lebanon, dan Iran yang oleh Berman dinilai belum menghasilkan tujuan akhir yang jelas.

Di Gaza, Netanyahu diperkirakan akan menekankan bahwa militer Israel menguasai lebih dari 60 persen wilayah tersebut dan kembali menyatakan Hamas harus dilucuti. Namun, Berman mencatat Netanyahu belum menjelaskan secara rinci bagaimana tujuan tersebut akan dicapai.

Netanyahu juga diperkirakan menyoroti keberhasilan membawa seluruh sandera keluar dari Gaza, sementara analisis tersebut mencatat lebih dari 40 orang yang sebelumnya ditangkap dalam keadaan hidup kemudian tewas atau meninggal dalam penahanan.

Untuk Lebanon, Netanyahu diperkirakan akan menyoroti melemahnya Hizbullah serta keberadaan pasukan Israel di wilayah selatan Lebanon.

Pemerintah Lebanon memiliki rencana agar militernya mengambil alih wilayah selatan setelah pasukan Israel mundur. Namun, menurut Berman, rencana itu belum menjamin Hizbullah benar-benar menyerahkan senjatanya.

Sementara terkait Iran, Netanyahu juga menghadapi tantangan. Iran disebut mengalami pelemahan secara militer dan ekonomi setelah konflik dengan Israel dan AS.

Namun, belum terlihat tanda bahwa Teheran bersedia memberikan konsesi terkait Selat Hormuz maupun program nuklirnya.

Berman menilai Netanyahu perlu menggambarkan hasil konflik dengan Iran sebagai sebuah kemenangan, meski tuntutan utama Israel terhadap Teheran belum tercapai.

Pidato Netanyahu juga diperkirakan digunakan untuk memengaruhi kebijakan Trump terhadap Iran.

Mengutip laporan Channel 12 Israel, Netanyahu diperkirakan akan memaparkan informasi mengenai program nuklir Iran dan upaya Teheran membangun kembali kemampuannya. Ia juga diperkirakan menggunakan alat bantu visual seperti dalam sejumlah pidatonya di PBB sebelumnya.

Pada Selasa (22/9), utusan Trump, Jared Kushner dan Steve Witkoff, telah melakukan pembicaraan dengan pejabat Iran. Trump juga mengatakan kesepakatan dengan Iran mungkin tercapai setelah pemilu paruh waktu AS.

Berman menilai Trump kemungkinan tidak akan kembali melancarkan serangan besar terhadap Iran sebelum pemilu tersebut.

Di sisi lain, Berman menilai posisi Iran kemungkinan tidak berubah hanya karena jadwal pemilu AS. Teheran sebelumnya menuntut pengakuan resmi atas kendalinya terhadap Selat Hormuz dan menolak bernegosiasi mengenai program nuklirnya.

Jadwal Netanyahu di New York juga terlihat lebih singkat dibanding kunjungan-kunjungan sebelumnya. Ia tiba sesaat sebelum pidato PBB pada Kamis dan dijadwalkan meninggalkan New York tidak lama setelahnya.

Selain itu, tidak banyak agenda pertemuan dengan pemimpin negara lain yang terlihat dalam jadwal kunjungannya.

Berman mengaitkan minimnya pertemuan tingkat tinggi itu, salah satunya, dengan kerusakan terhadap citra Israel di dunia internasional yang menurutnya dilakukan oleh sejumlah mitra koalisi sayap kanan Netanyahu.

Seorang pejabat AS sebelumnya juga mengatakan Netanyahu tidak termasuk pemimpin yang dijadwalkan bertemu Trump dan kecil kemungkinan keduanya memiliki waktu untuk menggelar pertemuan.

Kunjungan Netanyahu ke New York berlangsung di tengah rencana sejumlah kelompok menggelar aksi protes.

Mamdani juga kembali menyerang Netanyahu sehari sebelum kedatangannya dan menyebut perdana menteri Israel itu sebagai "penjahat perang" serta "arsitek genosida" terhadap warga Palestina.

Mamdani sebelumnya mendesak pemerintah federal AS menegakkan surat perintah penangkapan ICC terhadap Netanyahu, meski ia mengakui pemerintah kota New York tidak memiliki kewenangan untuk menangkapnya.

ICC mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Netanyahu dan mantan Menteri Pertahanan Israel Yoav Gallant pada November 2024 atas dugaan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan dalam konflik Gaza.

Israel menolak yurisdiksi ICC dan membantah tuduhan tersebut.

(mge/rds)

Baca Artikel Selengkapnya