REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK – Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menghadapi aksi walkout massal dari para diplomat saat ia berpidato di hadapan Majelis Umum PBB di New York pada hari Kamis. Puluhan perwakilan bangkit dari kursi mereka dan meninggalkan ruangan saat Netanyahu mendekati podium, menyebabkan sebagian besar area aula menjadi kosong sebelum ia mulai berbicara.
Aksi walkout ini menyusul seruan dari misi Palestina untuk PBB, yang mendesak para diplomat untuk menyela penampilan Netanyahu dengan cara keluar ruangan secara terorganisir. Dalam pesannya kepada berbagai delegasi, misi Palestina menyebut Netanyahu sebagai "penjahat perang" dan menyatakan bahwa aksi walkout massal akan menunjukkan bahwa komunitas internasional tidak akan tinggal diam menghadapi genosida, kejahatan perang, dan pendudukan ilegal oleh Israel.
Netanyahu segera melontarkan kecaman terhadap para perwakilan yang telah meninggalkan ruangan. "Sebelum saya mulai, ada pengumuman singkat: jika ada pengecut moral lain yang belum meninggalkan ruangan ini, silakan lakukan sekarang," ujarnya.
Momen keluarnya para diplomat tersebut disiarkan dalam liputan resmi PBB mengenai sidang Majelis Umum, sementara para jurnalis di dalam ruangan melaporkan bahwa banyak perwakilan dari negara-negara Arab dan internasional lainnya turut serta dalam protes tersebut.
Perdana Menteri Israel itu menuduh para diplomat yang keluar ruangan bersikap munafik, dengan mengklaim bahwa Israel telah melindungi negara-negara mereka melalui serangan terhadap Iran dan sekutu-sekutu regionalnya.
"Sulit membayangkan kemunafikan yang lebih mencengangkan daripada ini," ujarnya. Netanyahu juga melontarkan kritik terhadap para demonstran yang melakukan protes di luar gedung PBB serta mereka yang menolak kehadirannya di dalam ruangan sidang.
"Di mana Anda saat para tiran Iran membantai dan melukai puluhan ribu warga sipil Iran yang tak bersenjata?" tanyanya, seraya mencemooh para penentangnya sebagai "pengunjuk rasa hak asasi manusia gadungan."
Aksi walkout ini menjadi gambaran nyata yang mencolok mengenai semakin terisolasinya Israel di kancah internasional, hampir tiga tahun setelah dimulainya perang genosida terhadap Gaza.
Netanyahu memanfaatkan pidato tersebut untuk menepis tuduhan yang kian menguat bahwa Israel telah melakukan genosida terhadap warga Palestina di Gaza. "Menuduh Israel melakukan genosida adalah kebohongan terbesar abad ini," ujarnya.
"Kami telah mengambil langkah-langkah yang tak terhitung jumlahnya untuk melindungi penduduk sipil," klaim Netanyahu, seraya menegaskan: "Israel tidak melakukan genosida. Israel justru mencegah genosida."

56 menit yang lalu
2






English (US) ·
Indonesian (ID) ·