REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Sejarah baru tercipta dalam politik Jerman setelah Tobias Rausch, politikus partai sayap kanan jauh Alternative für Deutschland (AfD), terpilih menjadi Presiden Parlemen Negara Bagian Sachsen-Anhalt. Kemenangan dalam pemungutan suara pada Selasa (6/10/2026) itu menjadikan Rausch sebagai politikus kanan jauh pertama yang menduduki jabatan tersebut di Jerman sejak berakhirnya Perang Dunia II pada 1945. Peristiwa itu sekaligus membuka babak baru perdebatan mengenai semakin kuatnya pengaruh kelompok kanan jauh dalam lembaga demokrasi negara tersebut.
Pemilihan di gedung parlemen Magdeburg itu segera menimbulkan keguncangan politik hingga Berlin. Pasalnya, Rausch tidak hanya memperoleh dukungan dari partainya sendiri dan kelompok politik yang sebelumnya menyatakan akan memilihnya, tetapi juga mendapatkan sejumlah suara tambahan yang belum diketahui asalnya. Kontroversi tersebut memunculkan dugaan bahwa sebagian anggota Partai Persatuan Demokrat Kristen (CDU), partai pimpinan Kanselir Friedrich Merz, turut membantu AfD merebut salah satu jabatan tertinggi dalam lembaga legislatif negara bagian.
Berdasarkan pengumuman resmi Parlemen Sachsen-Anhalt, Rausch memperoleh 48 suara setuju, 29 suara menolak, dan lima abstain. Sebanyak 82 dari 83 anggota parlemen menghadiri sidang pembentukan parlemen periode kesembilan tersebut, dan seluruh suara dinyatakan sah. Hasil itu memastikan Rausch yang berusia 35 tahun terpilih sebagai presiden parlemen melalui pemungutan suara rahasia.
Persoalan muncul karena AfD hanya menguasai 39 kursi, sedangkan partai kiri populis Bündnis Soziale Gerechtigkeit und Wirtschaftliche Vernunft (BSW) memiliki lima kursi. BSW sebelumnya telah menyatakan akan mendukung Rausch dengan alasan partai pemenang pemilu berhak memperoleh jabatan pimpinan parlemen. Dengan demikian, Rausch meraih setidaknya empat suara lebih banyak dibandingkan gabungan seluruh kursi AfD dan BSW, meskipun asal maupun pembagian dukungan tersebut tidak dapat dipastikan karena pemilihan berlangsung tertutup.
Kantor berita Reuters pada Rabu (7/10/2026) melaporkan hasil pemilihan itu menimbulkan tekanan terhadap pemerintahan Kanselir Merz. Pertanyaan paling sensitif bukan lagi sebatas bagaimana AfD memenangkan jabatan tersebut, melainkan apakah pembatas politik yang selama ini dijaga partai-partai arus utama Jerman mulai kehilangan kekuatannya. Dugaan keterlibatan anggota CDU semakin memperbesar kontroversi karena partai tersebut selama ini menolak kerja sama politik dengan AfD.
Misteri Empat Suara dan Pengakuan Rausch
Perkembangan kontroversi semakin tajam setelah Rausch mengklaim bahwa anggota CDU turut memberikan dukungan kepadanya. Dalam wawancara dengan portal Nius yang dikutip Deutschlandfunk pada Rabu (7/10/2026), Rausch menyatakan telah melakukan komunikasi politik dengan sejumlah pihak sebelum pemungutan suara. Ia mengaku mendatangi beberapa anggota CDU dan menyebut ada pula anggota partai tersebut yang menemuinya.
Rausch bahkan mengisyaratkan bahwa komunikasi itu tidak berhenti pada pemilihan presiden parlemen. Ketika ditanya kantor berita Jerman dpa apakah kandidat AfD, Ulrich Siegmund, juga dapat mengandalkan dukungan dari CDU dalam pemilihan kepala pemerintahan negara bagian yang ditargetkan berlangsung pada Desember, Rausch menyatakan hal tersebut telah dibicarakan sebelumnya. Namun, ia tidak membeberkan nama anggota parlemen yang dimaksud maupun bukti kesepakatan tersebut.
Pernyataan Rausch belum dapat diverifikasi secara independen karena kerahasiaan pemungutan suara dilindungi prosedur parlemen. Pimpinan CDU juga belum mengonfirmasi klaim mengenai adanya kesepakatan politik dengan anggota partainya. Ketua Fraksi CDU di Sachsen-Anhalt, Sven Schulze, sebelumnya menyatakan tidak mengetahui asal suara tambahan bagi Rausch dan menegaskan tidak ada anggota fraksinya yang menyampaikan niat memilih kandidat AfD.
Di tingkat federal, Ketua Fraksi CDU/CSU di Bundestag, Jens Spahn? Tidak. Pimpinan fraksi parlemen federal Jens Spahn bukan tokoh yang memberikan tanggapan tersebut. Tanggapan yang dilaporkan media Jerman justru berasal dari Alexander Hoffmann? Karena itu, pernyataan bantahan fraksi federal tidak dijadikan atribusi personal dalam laporan ini. Pimpinan CDU secara umum menilai tudingan tentang dukungan anggotanya masih bersifat spekulatif.
Kepemimpinan CDU di Sachsen-Anhalt sebelumnya menyarankan para anggotanya memilih abstain. Namun, hasil akhir menunjukkan hanya lima suara abstain dari seluruh anggota parlemen yang hadir. Keadaan tersebut memunculkan perdebatan apakah sebagian anggota CDU menolak mengikuti arahan pimpinan fraksi, meskipun perilaku suara masing-masing anggota tetap tidak dapat dibuktikan.
Kanselir Merz mengecam situasi tersebut dan memperingatkan semakin besarnya pengaruh kekuatan ekstremis dalam lembaga demokrasi Jerman. Menurut laporan Reuters dan Deutschlandfunk pada Rabu (7/10/2026), Merz menegaskan dukungan terhadap AfD dapat merusak kredibilitas politik dan tidak sejalan dengan nilai-nilai CDU. Namun, ia juga mengingatkan bahwa identitas pemberi suara tidak diketahui sehingga kesimpulan mengenai keterlibatan anggota partainya tidak boleh dibuat tanpa bukti.
Ketua Partai Sosial Demokrat (SPD), Lars Klingbeil, menyebut keberhasilan AfD memperoleh dukungan untuk menduduki jabatan tersebut sebagai pelanggaran tabu politik. Ia meminta CDU dan BSW memberikan penjelasan mengenai proses yang memungkinkan Rausch terpilih. Polemik itu menambah tekanan terhadap hubungan CDU dan SPD yang menjadi mitra dalam pemerintahan koalisi federal Jerman.

1 jam yang lalu
2






English (US) ·
Indonesian (ID) ·