Investigasi Ungkap Netanyahu Manipulasi Keterangan soal Serangan Hamas

40 menit yang lalu 2

Jakarta, CNN Indonesia --

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu diduga memanipulasi keterangannya mengenai peringatan yang diterima sebelum serangan Hamas pada 7 Oktober 2023. Ia disebut menghilangkan sejumlah informasi dan mengubah konteks pembahasan keamanan dalam dokumen yang dirilisnya.

Temuan itu diungkap dalam investigasi Yedioth Ahronoth dan Ynet yang diterbitkan pada Rabu (7/10). Kedua media tersebut membandingkan dokumen setebal 55 halaman yang dirilis Netanyahu pada Februari dengan dokumen asli, ringkasan pertemuan, serta kesaksian para pejabat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Investigasi menemukan sejumlah bagian yang dihilangkan serta perubahan susunan kata dan konteks. Perubahan tersebut terutama berkaitan dengan peringatan dari pejabat keamanan Israel beberapa bulan sebelum serangan Hamas dan usulan operasi militer terhadap kelompok tersebut.

Dalam dokumen versi Netanyahu, ia menggambarkan dirinya sebagai pihak yang mendorong pembunuhan terhadap para pemimpin Hamas. Sementara itu, pejabat keamanan senior disebut menolak langkah tersebut dan memilih mempertahankan ketenangan di Gaza.

Namun, catatan asli yang diperiksa media tersebut menunjukkan gambaran berbeda. Netanyahu disebut berulang kali berupaya mempertahankan ketenangan, menolak sejumlah usulan serangan, dan meyakini Hamas masih berada dalam kondisi gentar meski telah menerima berbagai peringatan dari pejabat keamanan.

Pada April 2023, Kepala Shin Bet Ronen Bar dan Kepala Angkatan Darat Israel Herzi Halevi disebut merekomendasikan pembunuhan terarah terhadap anggota Hamas di Gaza.

Sebulan kemudian, Bar memperingatkan bahwa operasi militer Israel di Gaza pada akhirnya tidak dapat dihindari. Ia juga mendesak persiapan untuk melancarkan serangan terbuka dan operasi pembunuhan yang ditargetkan.

Namun, Netanyahu saat itu disebut menilai Israel masih memiliki "keseimbangan pencegahan yang kuat" dengan Hamas. Ia juga tidak menyetujui operasi yang diusulkan.

Peringatan serupa kembali disampaikan Bar pada Agustus. Ia memperingatkan bahwa kemampuan pencegahan Israel terhadap Hamas semakin melemah dan meminta agar opsi tindakan terhadap Gaza dipertimbangkan.

Pada 10 September, Bar kembali memperingatkan bahwa Israel menghadapi "situasi keamanan yang serius". Menurutnya, terdapat risiko signifikan karena ancaman dari sejumlah front mulai saling berkonvergensi.

Meski mendapat peringatan tersebut, Netanyahu kemudian menetapkan tujuan untuk menjaga situasi tetap "setenang mungkin" selama periode liburan yang akan datang.

Investigasi Yedioth Ahronoth dan Ynet juga menemukan bahwa dokumen Netanyahu mempertahankan penilaian intelijen bahwa Hamas sedang meningkatkan kemampuannya dengan "laju moderat".

Namun, dokumen tersebut disebut menghilangkan rekomendasi untuk mengambil tindakan terhadap Hamas meski langkah tersebut berisiko memicu eskalasi militer.

(mge/dna)

Baca Artikel Selengkapnya