REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Kanselir Jerman Friedrich Merz mengecam keras keberhasilan partai sayap kanan jauh Alternative für Deutschland (AfD) merebut kursi Presiden Parlemen Negara Bagian Sachsen-Anhalt. Merz menyebut terpilihnya Tobias Rausch dari AfD sebagai titik balik bersejarah dalam politik Jerman dan memperingatkan bahwa kekuatan ekstremis semakin dalam memasuki lembaga-lembaga demokrasi negara tersebut.
Pernyataan itu disampaikan Merz dalam forum yang diselenggarakan Handelsblatt dan Wirtschaftswoche di Berlin, Rabu (7/10/2026), sehari setelah Rausch terpilih melalui pemungutan suara rahasia. Kemenangan tersebut mencetak sejarah karena untuk pertama kalinya seorang politikus AfD menduduki jabatan presiden parlemen negara bagian di Jerman. Namun, kontroversi segera meluas setelah muncul dugaan bahwa sejumlah anggota partai pimpinan Merz sendiri, Persatuan Demokrat Kristen (CDU), ikut membantu kemenangan tersebut.
"Ekstremisme sedang menerobos masuk dengan kekuatan besar ke dalam parlemen-parlemen kita," kata Merz sebagaimana dilaporkan Reuters dan lembaga penyiaran publik Jerman, ARD/Tagesschau, Rabu (7/10/2026). Merz juga menyebut pemilihan Rausch sebagai sebuah titik balik bersejarah yang harus menjadi perhatian serius seluruh kekuatan politik Jerman.
Kanselir memperingatkan bahwa setiap anggota parlemen yang membantu politikus dari partai yang diklaimnya 'ekstremis' memperoleh jabatan penting harus mempertanggungjawabkan pilihannya kepada hati nurani masing-masing. Ia menegaskan dukungan terhadap AfD tidak dapat dibenarkan atas nama kepentingan politik sesaat.
"Siapa pun yang memberikan suaranya kepada AfD sedang mengikuti permainan kaum ekstremis dan menghancurkan kredibilitas," ujar Merz. Ia menambahkan bahwa tindakan semacam itu tidak sesuai dengan nilai-nilai CDU, partai yang juga dipimpinnya.
Namun, Merz mengakui bahwa asal suara pendukung Rausch belum dapat dipastikan karena pemilihan dilakukan secara rahasia. Ia memperingatkan publik agar tidak terburu-buru menyimpulkan bahwa seluruh suara tambahan berasal dari CDU, sembari menyinggung kemungkinan adanya manuver politik yang sengaja dirancang untuk menimbulkan kecurigaan terhadap partai tertentu.
Kontroversi tersebut menempatkan Merz dalam posisi sulit. Di satu sisi, ia berupaya mempertahankan kebijakan partainya untuk tidak bekerja sama dengan AfD. Di sisi lain, kemenangan Rausch memunculkan pertanyaan apakah komitmen itu masih dipatuhi seluruh anggota CDU, terutama di wilayah Jerman timur yang menjadi basis kekuatan politik AfD.
Empat Suara Misterius Mengguncang CDU
Berdasarkan pengumuman resmi Parlemen Sachsen-Anhalt, Tobias Rausch terpilih dalam sidang pembentukan parlemen periode kesembilan di Magdeburg, Selasa (6/10/2026). Politikus berusia 35 tahun tersebut memperoleh 48 suara setuju, 29 suara menolak, dan lima abstain dari 82 anggota parlemen yang hadir. Parlemen negara bagian itu memiliki 83 kursi, tetapi satu anggota tidak menghadiri pemungutan suara.
Hasil tersebut segera menimbulkan pertanyaan politik karena AfD hanya menguasai 39 kursi. Sementara itu, Bündnis Soziale Gerechtigkeit und Wirtschaftliche Vernunft (BSW), partai berhaluan kiri populis yang sebelumnya menyatakan akan mendukung Rausch, memiliki lima kursi. Dengan demikian, jumlah suara yang diperoleh Rausch setidaknya empat lebih banyak dibandingkan total kursi kedua partai tersebut.
Keempat suara tambahan itulah yang memicu keguncangan politik di Berlin. Partai Sosial Demokrat (SPD), Partai Hijau, dan Die Linke sebelumnya menyatakan akan menolak kandidat AfD, sedangkan pimpinan CDU menyarankan para anggotanya untuk memilih abstain. Namun, hasil pemungutan suara memperlihatkan hanya lima anggota parlemen yang abstain.
Situasi semakin rumit setelah Rausch sendiri mengklaim telah memperoleh dukungan dari anggota CDU. Dalam wawancara dengan portal daring Nius yang diberitakan Deutschlandfunk pada Rabu (7/10/2026), Rausch menyatakan telah menjalin komunikasi dengan sejumlah politikus CDU menjelang pemungutan suara. Ia mengaku mendatangi beberapa anggota partai tersebut dan menyebut ada pula anggota CDU yang menghubunginya.
Rausch bahkan mengisyaratkan bahwa komunikasi politik tersebut berkaitan dengan perebutan jabatan kepala pemerintahan Sachsen-Anhalt. Ketika ditanya kantor berita Jerman dpa apakah kandidat utama AfD, Ulrich Siegmund, juga dapat mengharapkan dukungan dari fraksi CDU dalam pemilihan menteri-presiden yang ditargetkan berlangsung pada Desember, Rausch menyatakan hal tersebut telah dibicarakan sebelumnya.
Namun, klaim Rausch belum dapat dibuktikan secara independen. Kerahasiaan surat suara membuat identitas para anggota parlemen yang mendukungnya tidak dapat diketahui, sementara belum ada konfirmasi dari CDU mengenai kesepakatan politik sebagaimana diklaim Rausch.
Ketua Fraksi CDU di Sachsen-Anhalt, Sven Schulze, mengatakan tidak dapat menjelaskan dari mana suara tambahan bagi Rausch berasal. Menurut laporan Deutschlandfunk yang mengutip dpa, Schulze menegaskan tidak ada anggota fraksinya yang sebelumnya menyatakan akan memberikan suara setuju kepada kandidat AfD. Meski demikian, ia mengakui sejumlah anggota CDU telah mengisyaratkan tidak akan mengikuti anjuran abstain dan memilih memberikan suara menolak.
Di tingkat federal, Ketua Fraksi CDU/CSU di Bundestag, Thorsten Frei, juga menolak anggapan bahwa anggota CDU membantu kemenangan Rausch sebagai sesuatu yang sudah terbukti. Ia menyebut tudingan tersebut masih berupa spekulasi, sedangkan pimpinan partai menghadapi tuntutan untuk memberikan penjelasan lebih jauh.
Wakil Kanselir sekaligus Ketua SPD, Lars Klingbeil, mengecam terpilihnya Rausch sebagai pelanggaran tabu politik. Ia menuntut penjelasan dari CDU dan BSW mengenai bagaimana seorang politikus dari partai yang diklasifikasikan ekstremis sayap kanan di Sachsen-Anhalt dapat memperoleh dukungan untuk memimpin parlemen negara bagian.

1 jam yang lalu
2






English (US) ·
Indonesian (ID) ·