Rusia Tangkap Warga yang Tuding Pemilu Curang, Dipukul hingga Disetrum

17 menit yang lalu 1

Jakarta, CNN Indonesia --

Dua warga Rusia ditangkap dan diduga disiksa usai menuding curang partai yang partai yang menang dalam pemilihan parlemen September lalu. Partai ini didukung Presiden Vladimir Putin. 

Partai Rusia Bersatu, yang didukung oleh Putin, memenangkan pemilihan parlemen (State Duma) pada September lalu. Pemerintah Rusia mengatakan, hasil tersebut memperlihatkan 'tingkat kohesi yang luar biasa' di sekitar Putin, meski negara tengah menghadapi tantangan ekonomi akibat perang dan sanksi Barat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berdasarkan laporan AFP, kedua pria tersebut kini berada di balik jeruji. Keduanya adalah aktivis lingkungan Dmitry Morozov dan pakar politik Alexander Kynev. Keduanya ditangkap atas tuduhan narkoba usai secara terbuka menuding adanya kecurangan pemilu.

Disiksa dan disetrum

Usai pemilihan parlemen pada September lalu, Morozov mengunggah beberapa video di Telegram yang menuding bahwa 'pemilu telah dicuri' untuk menguntungkan Partai Rusia Bersatu.

Tak lama kemudian, agen dari dinas keamanan FSB Rusia menggeledah apartemen orang tua Morozov di Izhevsk dan mengaku menemukan 1,38 gram (g) narkoba sintetis.

Berdasarkan penuturan kekasihnya, Morozov kemudian ditangkap dan disiksa.

"Saat penangkapannya, dia [Morozov] dipukuli, disetrum di wajah, tulang rusuk, dan kakinya, serta digantung terbalik dengan kakinya diborgol," ujar kekasihnya, Bagina, dalam sebuah unggahan media sosial.

"Setelah disiksa dalam waktu lama, dia terus ditendang. Mereka [polisi] mencoba memaksanya untuk mengaku dengan mengklaim bahwa dia telah memberikan dana pada Ukraina," tambah dia.

Pengacara Morozov, Denis Varlamov, melihat ada kejanggalan dalam penangkapan kliennya. Terdakwa dalam kasus narkoba serupa, menurut dia, umumnya dijatuhi hukuman percobaan.

"Namun, karena ada unsur politik di sini, dia langsung ditahan tanpa pemeriksaan atau diskusi apa pun," ujar Varlamov.

Hal yang sama juga dialami warga lain. Kelompok hak asasi manusia setempat mencatat, setidaknya 20 penangkapan selama pemilihan.

Alexander Kynev, yang kini juga dibui, sempat menuduh bahwa perolehan suara dan pemilih Partai Rusia Bersatu sebenarnya jauh lebih rendah daripada yang diumumkan secara resmi.

Pada hari yang sama, ia menulis di akun media sosialnya: 'sangat lelah setelah empat bulan memantau kampanye secara intensif'.

[Gambas:Video CNN]

Dua hari kemudian, Kynev ditangkap di Moskow dan dituduh melakukan perdagangan narkoba berskala besar. Ia menghadapi hukuman 20 tahun penjara jika terbukti bersalah.

Kynev juga mengaku dipukuli oleh polisi saat penangkapan. Ia bahkan sempat tampil melalui konferensi video di hadapan pengadilan Moskow dengan kaki yang dibalut gips dan mengaku menderita patah tulang ganda.

Ia ditahan di sel yang berisi 35 orang, di mana toilet hanya berupa sebuah lubang di lantai.

"Mustahil digunakan bagi seseorang yang memakai gips dari pinggul hingga ujung jari kakinya," ujar pengacara Kynev, Mikhail Biryukov.

(asr)

Baca Artikel Selengkapnya