Sulit Terima Partai Arab, Koalisi Eisenkot Lobi Bekas Sekutu Netanyahu

18 menit yang lalu 1

Jakarta, CNN Indonesia --

Kubu oposisi Israel yang dipimpin Gadi Eisenkot disebut mulai mencari peluang untuk melengserkan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dengan "melobi" bekas sekutunya.

Kubu Eisenkot sejak kampanyenya disebut berupaya merangkul kalangan sekuler dan liberal di Israel, demi membentuk pemerintahan bersama kelompok Arab Israel yang perolehan kursinya melonjak di pemiliu Israel kemarin.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pada Jumat (6/11), Eisenkot mengeklaim telah membuat kemajuan dalam upaya membentuk pemerintahan untuk menggantikan Netanyahu. Dia juga berharap akan segera menerima mandat dari Presiden Isaac Herzog.

"Kami telah membuat kemajuan yang signifikan dan mencapai terobosan secara diam-diam dan bersahaja, dengan banyak hal yang masih berlangsung di balik layar," tulis Eisenkot di X.

Pemimpin utama kelompok kiri Israel yang merupakan bagian dari blok oposisi, Yair Golan, mengatakan "upaya serius" sedang dilakukan untuk membentuk koalisi.

"Saya lebih optimis dibandingkan setelah hasil pemilu keluar. Ada kemajuan. Ada keinginan," kata Yair Golan

Lobi yang dilakukan oleh kubu oposisi salah satunya adalah ke kelompok Yahudi ultra-Ortodoks yang mulai melunakkan sikap mereka soal wajib militer. Langkah ini disebut membuka jalan bagi aliansi yang sebelumnya dianggap mustahil dengan kelompok tersebut.

Pengecualian wajib militer bagi kelompok Yahudi ultra-Ortodoks telah memicu kebencian luas di kalangan warga Israel lainnya, terutama karena banyak tentara cadangan yang harus berkali-kali ditugaskan dalam berbagai perang yang dihadapi Israel sejak 7 Oktober 2023.

Netanyahu sendiri telah lama mengandalkan kelompok ultra-Ortodoks. Dia membiarkan komunitas yang mencakup sekitar 14 persen populasi itu untuk mengirimkan anak-anak mereka ke sekolah agama, alih-alih mengikuti wajib militer.

Gagasan untuk berkoalisi dengan kelompok Arab-Israel sendiri sebenarnya ditentang keras oleh mitra oposisi, Avigdor Liberman.

Meski menyatakan tetap pada pendiriannya untuk tidak bekerja sama dengan kelompok Arab-Israel, namun dia menyerukan dialog dengan kelompok Yahudi ultra-Ortodoks.

Menekankan bahwa tujuan terpenting saat ini adalah menyingkirkan Netanyahu, Liberman mengatakan sudah saatnya berkompromi dan "menyadari keinginan untuk mendapatkan segalanya justru berisiko dan membuat kita tidak mendapatkan apa-apa".

"Ini termasuk isu undang-undang wajib militer," ujarnya dalam sebuah pernyataan di media sosial.

"Hal ini menyakitkan bagi saya, dan saya tahu banyak orang lain juga merasakan hal yang sama. Namun, mengingat berbagai tantangan yang kita hadapi saat ini, kepentingan nasional Negara Israel dan bangsa Yahudi harus diutamakan di atas pertimbangan lainnya," kata Liberman, dikutip France24.

Sejumlah partai ultra-Ortodoks secara total memiliki total 13 kursi, sehingga jumlah tersebut cukup untuk membantu Eisenkot berkuasa dan membentuk pemerintahan baru Israel.

(dna)

Baca Artikel Selengkapnya