Peringatan Mojtaba: Kekalahan Trump Tak Akan Hentikan Permusuhan AS

27 menit yang lalu 1

Jakarta, CNN Indonesia --

Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, memperingatkan kekalahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dalam pemilihan paruh waktu tidak akan mengubah sikap Washington terhadap Teheran.

Ia menilai siapa pun yang mengharapkan perubahan kebijakan AS terhadap negaranya "sangat keliru".

Pernyataan tersebut disampaikan Khamenei melalui pernyataan tertulis yang dipublikasikan di situs resminya. Ia menyampaikan pesan itu beberapa jam setelah pemilihan paruh waktu AS memberikan pukulan politik kepada Trump, dengan Partai Demokrat meraih kemenangan di kedua kamar Kongres.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Mereka yang masih menyimpan secercah harapan bahwa perilaku sistem hegemonik dapat berubah melalui pergeseran partisan atau faksional, atau yang membayangkan bahwa memberikan konsesi kepada Amerika Serikat dapat mencegahnya dari permusuhan terhadap bangsa Iran, sangat keliru," kata Khamenei, seperti dilaporkan Al Jazeera.

Khamenei juga menyinggung kendali Iran atas Selat Hormuz. Menurutnya, langkah tersebut telah menghancurkan mitos mengenai ketidak terkalahkan militer AS.

Ia juga memperingatkan Washington agar tidak kembali melancarkan serangan terhadap Iran. Khamenei menegaskan setiap serangan baru akan memicu respons yang lebih luas dari Teheran.

"Jika pelanggaran berulang, hal itu akan meluas ke dimensi yang jauh lebih besar," ujarnya.

Pernyataan tersebut disampaikan bertepatan dengan peringatan penyitaan Kedutaan Besar AS di Teheran pada 1979. Iran setiap tahun memperingati peristiwa tersebut sebagai "Hari Nasional Perjuangan Melawan Kesombongan Global".

Khamenei sendiri belum pernah tampil di hadapan publik sejak ayah sekaligus pendahulunya, Ali Khamenei, tewas dalam serangan AS-Israel terhadap kantornya pada Februari lalu.

Di sisi lain, Presiden Trump mengakui perang AS-Israel melawan Iran kemungkinan turut memengaruhi buruknya hasil pemilu Partai Republik. Namun, ia menilai kenaikan harga bensin menjadi faktor yang lebih berpengaruh terhadap pilihan masyarakat AS.

"Saya rasa bukan perang penyebabnya. Saya rasa penyebabnya adalah harga bensin," kata Trump kepada Fox News, Selasa (3/11).

Trump mengatakan masyarakat AS mungkin mendukung kebijakannya terhadap Iran, tetapi belum tentu bersedia menanggung dampak ekonomi jangka pendek, terutama kenaikan harga bahan bakar.

"Orang-orang setuju dengan apa yang saya lakukan terkait Iran, tetapi mereka mungkin sebenarnya tidak bersedia menanggung konsekuensi jangka pendek berupa kenaikan harga bensin," ujarnya.

Trump juga membuka kemungkinan melancarkan serangan militer besar-besaran terhadap Iran. Dalam wawancara dengan program Fox & Friends pada Selasa (3/11), ia mengatakan sejumlah pihak mendorong opsi tersebut.

"Banyak orang ingin melakukan serangan besar. Banyak juga yang tidak," kata Trump.

Sejumlah pejabat tinggi Iran juga berkomentar terkait hasil pemilihan paruh waktu AS. Kepala negosiator Iran dengan Washington sekaligus Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, mengatakan hasil pemilu menunjukkan masyarakat AS menolak perang.

"Hati nurani atau biaya hidup, rakyat Amerika mengatakan TIDAK PADA PERANG, dan kami mendukung pesan ini," tulis Ghalibaf di X.

"Jika pemerintah AS mengkhianati kehendak publik mereka untuk melayani para pemberi dana dan pemeras internasional, mereka akan menyadari bahwa penolakan kita akan berujung pada mimpi buruk," tambahnya.

Seorang penasihat sekaligus asisten pemimpin tertinggi Iran, Mohammad Mokhber, juga menanggapi hasil pemilu AS. Ia menyebut Trump telah "ditampar oleh rakyatnya sendiri".

"Pemenang sejati di arena ini adalah Iran, yang membebankan biaya perang kepada Amerika Serikat," tulisnya di X.

[Gambas:Video CNN]

(mge/dna)

Baca Artikel Selengkapnya