Keluarga Pejabat Iran yang Sekolah-Bekerja di AS, Diusir dan Dimusuhi

2 jam yang lalu 1

Jakarta, CNN Indonesia --

Dokter Fatemeh Ardeshir-Larijani adalah asisten profesor di departemen hematologi dan onkologi medis di sekolah kedokteran Universitas Emory di Atlanta, Amerika Serikat.

Dalam situs web resminya, dia fokus meneliti "penemuan target baru dan pendefinisian mekanisme resistensi imun pada kanker paru-paru." Ternyata, Fatemeh adalah anak dari Ali Larijani, petinggi garda revolusi Iran, yang tewas dalam serangan AS Februari lalu.

Isu tersebut dengan cepat menarik perhatian beberapa anggota parlemen. Dalam surat resmi, Anggota Kongres Buddy Carter menyerukan pemecatannya dan berpendapat bahwa lembaga-lembaga AS seharusnya tidak bertindak sebagai "tempat perlindungan" bagi mereka yang terkait dengan rezim yang bermusuhan. Carter juga memperingatkan bahwa kehadirannya yang berkelanjutan merupakan ancaman bagi keamanan nasional.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Setelah seruan itu, Fetemeh sudah tidak bekerja lagi di sana sejak Januari 2026 atau sebulan sebelum AS menyerang Iran. Dia diberhentikan karena desakan sejumlah pihak, termasuk anggota parlemen dan warga Iran di AS yang tidak mendukung rezim para mullah. Sebuah petisi di Change.org yang ditandatangani oleh lebih dari 156.000 orang mendesak pemerintahan Trump untuk mendeportasi Ardeshir-Larijani.

Pihak berwenang AS kemudian mengusir Fatemeh dan suaminya, Seyed Kalantar Motamedi. Menurut pihak berwenang, keduanya diusir sebagai bagian dari kampanye ketat terhadap orang-orang yang terkait dengan pemerintahan anti-Amerika.

"Seorang dokter yang merupakan putri dari pejabat senior pemerintah Iran bukan lagi karyawan Emory," kata Institut Kanker Winship universitas tersebut, tempat Larijani bekerja, sebagai tanggapan atas pertanyaan dari media Iran International.

"Karena ini adalah masalah kepegawaian, kami tidak dapat memberikan informasi tambahan," kata universitas tersebut.

Universitas Emory tidak merinci apakah pemecatannya terkait dengan sanksi AS, tetapi mengatakan bahwa "karyawannya dipekerjakan sepenuhnya sesuai dengan hukum negara bagian dan federal serta persyaratan lain yang berlaku."

Sementara Departemen Keuangan AS pernah menjatuhkan sanksi kepada Ali Larijani, karena "mengkoordinasikan" respons Republik Islam terhadap protes nasional atas nama Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei.

[Gambas:Video CNN]

Kasus Fatemeh semakin menyoroti upaya yang semakin meluas untuk menargetkan warga negara asing yang terhubung dengan kelas penguasa Iran, termasuk mereka yang terintegrasi ke dalam lembaga-lembaga Amerika yang bergengsi.

Para pejabat AS menekankan tidak akan mengizinkan orang-orang yang mendukung atau berafiliasi dengan rezim teroris anti-Amerika untuk tinggal di negara tersebut.

Kepergiannya menggarisbawahi meningkatnya kesadaran mengenai afiliasi asing dalam pendidikan tinggi Amerika, terutama dalam kaitannya dengan pemerintah yang dianggap memusuhi AS. Dan ketegangan makin memuncak setelah AS dan Israel menyerang Iran.

Mereka bekerja dan belajar

Fatemeh bukan satu-satunya anak pejabat Iran yang belajar dan bekerja di AS. Warga Iran di AS yang anti rezim bahkan sampai membuat petisi agar keberadaan mereka diusir. New York Post membuat liputan khusus pada Maret lalu, atau sebulan setelah serangan AS ke Iran, tentang anak-anak dari pemimpin rezim Iran di AS.

"Anak-anak pemimpin rezim dan tokoh-tokoh penting bersekolah di universitas-universitas bergengsi di seluruh AS, termasuk Union College di University of Massachusetts, New York, dan George Washington University," seperti diungkapkan New York Post.

Sumber-sumber mengatakan bahwa mengizinkan orang-orang yang terkait dengan rezim untuk menduduki posisi berpengaruh seperti itu dapat menimbulkan ancaman terhadap nilai-nilai AS.

Leila Khatami misalnya, seorang profesor matematika di Union College di bagian utara New York. Dia adalah putri dari Mohammad, seorang ulama Syiah yang menjabat sebagai presiden Iran dari tahun 1997 hingga 2005.

"Saya rasa akan ada risiko keamanan karena akademisi Iran telah berperan penting dalam membentuk opini publik di kalangan kiri di AS, pada dasarnya menipu kaum liberal agar berpikir bahwa rezim tersebut lebih progresif, padahal rezim tersebut masih menjalankan agenda garis keras yang sama," kata Janatan Sayeh, seorang analis Iran di Foundation for the Defense of Democracies, sebuah lembaga think tank yang berbasis di Washington, DC.

Mohammad Khatami menjabat sebagai presiden dari tahun 1997 hingga 2005, dan meskipun ia dianggap sebagai seorang reformis dalam sistem politik negara itu, para pembangkang mengatakan bahwa ia masih merupakan bagian dari pemerintahan yang mentolerir pelanggaran hak asasi manusia dan penindasan terhadap warganya sendiri.

Menyusul serangan udara AS terhadap Iran, yang dimulai bulan lalu, foto dan biografi Leila Khatami dihapus dari halaman web fakultas dan staf Departemen Matematika. Bibi Khatami adalah cucu dari Ayatollah Ruhollah Khomeini, yang memerintah Iran setelah revolusi tahun 1979 hingga kematiannya pada tahun 1989.

"Mereka telah mengubah Iran menjadi neraka bagi kita orang Iran, sementara anak - anak mereka tinggal di Barat, memegang posisi kunci di universitas dan menyebarkan nilai-nilai anti-Barat," kata seorang kritikus rezim di X.

Menyusul serangan udara AS terhadap Iran, foto dan biografi Leila Khatami dihapus dari halaman web fakultas dan staf Departemen Matematika. Bibi Khatami adalah cucu dari Ayatollah Ruhollah Khomeini, yang memerintah Iran setelah revolusi tahun 1979 hingga kematiannya pada tahun 1989.

"Mereka telah mengubah Iran menjadi neraka bagi kita orang Iran, sementara anak - anak mereka tinggal di Barat, memegang posisi kunci di universitas dan menyebarkan nilai-nilai anti-Barat," kata seorang anti rezim di X.

Ehsan Nobakht, seorang Profesor Madya Kedokteran di Fakultas Kedokteran Universitas George Washington, juga mendapat tekanan yang sama.

Ehsan Nobakht punya keahlian khusus dalam penyakit ginjal dan hipertensi. Ia adalah putra Ali Nobakht, seorang dokter terkenal di Iran dan mantan anggota Parlemen reformis yang pernah menjabat sebagai wakil menteri di Departemen Kesehatan negara tersebut.

Begitu pula dengan Mousemeh Ebtekar, mantan wakil presiden Republik Islam Iran yang anaknya, Eissa Hashemi, adalah seorang profesor madya di Chicago School of Professional Psychology di Los Angeles.

Ketika muda, Masoumeh Ebtekar, adalah mata-mata bagi mahasiswa radikal yang menyandera diplomat Amerika selama 444 pasca revolusi Iran 1979, dengan julukan "Mary yang Berteriak" oleh media AS karena retorikanya yang intens saat menyampaikan pesan rezim dalam bahasa Inggris.

Masoumeh Ebtekar pernah berbicara di Konferensi Perubahan Iklim Dunia (COP21) di depan bendera PBB dan Prancis.

Bersambung ke halaman berikutnya...

Baca Artikel Selengkapnya