Jakarta, NU Online
Ekonom Fakultas Ekonomi Bisnis (FEB) Universitas Indonesia (UI) Teguh Dartanto menyoroti kerentanan masyarakat kelas menengah bawah di tengah kenaikan harga pangan, penurunan daya beli, pemutusan hubungan kerja (PHK), dan sulitnya memperoleh pekerjaan.
Menurut Teguh, masyarakat Indonesia secara umum sangat rentan terhadap berbagai guncangan, mulai dari persoalan kesehatan, kematian pencari nafkah utama, kehilangan pekerjaan, hingga kenaikan harga pangan.
"Kejadian-kejadian tersebut dapat dengan mudah membuat masyarakat jatuh miskin," katanya kepada NU Online pada Rabu (23/9/2026).
Ia menjelaskan, kenaikan harga pangan memberikan tekanan besar terhadap kesejahteraan kelompok menengah bawah karena sebagian besar pengeluaran untuk kebutuhan primer.
"Besar dari belanja mereka untuk kebutuhan pangan dan bahan pokok lainnya," ujarnya.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa PHK juga menjadi persoalan serius bagi rumah tangga di Indonesia. Sebagian besar masyarakat khususnya kelompok menengah bawah, kata Teguh, dinilai tidak memiliki tabungan yang cukup untuk bertahan hidup ketika kehilangan pekerjaan.
Di sisi lain, Teguh menilai sempitnya kesempatan kerja dan tingginya persaingan membuat masyarakat yang terkena PHK kesulitan kembali mendapatkan pekerjaan di sektor formal.
"Sehingga memaksa mereka bekerja apa saja di sektor informal untuk bertahan hidup," katanya.
Teguh menyebut kelompok yang paling terdampak adalah masyarakat kelas menengah bawah, khususnya kelompok 40-70 persen. Kelompok tersebut dinilai tidak banyak memperoleh perlindungan sosial dari pemerintah karena tidak termasuk penerima bantuan sosial. Sementara kelompok 40 persen terbawah banyak menerima berbagai bantuan sosial.
Kondisi tersebut, jelas Teguh, membuat kelompok menengah bawah menjadi rentan ketika menghadapi guncangan ekonomi, seperti kehilangan pekerjaan atau kenaikan harga kebutuhan pokok.
"Salah satu dari indikatornya adalah penurunan jumlah tabungan dibawah Rp 100 juta dari 1,8 juta tahun 2024 dan menyusut menjadi Rp1,7 juta rekening tahun 2026," jelasnya.
Selain itu, Teguh membeberkan bahwa kondisi kredit masyarakat kelas menengah juga dinilai menunjukkan pemburukan.
"Data OJK mengenai NPL (Non performing loan) atau wanprestasi diatas 90 hari (TWP90) mencapai 4,62 persen pada April 2026, mengalami kenaikan dari 4,26 persen, terangnya.

53 menit yang lalu
1



English (US) ·
Indonesian (ID) ·