DBS: Mayoritas bank sentral Asia “wait and see” jelang akhir tahun

54 menit yang lalu 1
Tetapi saya tidak melihat alasan bagi mereka untuk memperketat (kebijakan moneter dan suku bunga) terlalu banyak dan terlalu cepat.

Jakarta (ANTARA) - Ekonom Senior DBS Group Research Radhika Rao memproyeksikan bahwa mayoritas bank sentral di Asia cenderung mengambil posisi memantau perkembangan situasi (wait and see), sambil tetap tetap waspada terhadap inflasi dengan mempertahankan bias hawkish, tetapi tidak terburu-buru menaikkan suku bunga menjelang akhir tahun 2026.

“Saya pikir (mayoritas bank sentral di Asia) akan wait and see, sambil tentu saja mempertahankan bias hawkish mereka, tetapi saya tidak melihat alasan bagi mereka untuk memperketat (kebijakan moneter dan suku bunga) terlalu banyak dan terlalu cepat,” kata Rao dalam taklimat media secara daring dari Jakarta, Senin.

Ia mencontohkan sikap bank sentral Malaysia yang menunjukkan sinyal kewaspadaan (hawkish), tetapi belum cukup kuat untuk memicu kenaikan suku bunga resmi.

“Ada beberapa isyarat hawkish, tetapi belum cukup kuat bagi kami untuk memperkirakan kenaikan suku bunga resmi (bank sentral Malaysia),” ujarnya.

Meski demikian, Rao mengatakan beberapa bank sentral di Asia seperti Indonesia, Filipina, dan Singapura sudah lebih dulu menaikkan suku bunga di awal tahun untuk mencegah pembengkakan inflasi dan menahan tekanan pada mata uang lokal mereka.

Dia mengatakan, terdapat tiga faktor penentu kebijakan bank sentral hingga akhir tahun ini, yaitu kebijakan suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed), pergerakan harga minyak dunia terutama bagi negara-negara Asia yang bergantung pada impor minyak, serta tekanan pada nilai tukar mata uang lokal dan tingkat inflasi.

“Negara-negara ini melihat bahwa ekspektasi inflasi akan menjadi risiko ketika mata uang berada di bawah tekanan di awal tahun, terutama untuk Indonesia dan Filipina. Mereka bertindak secara preventif dan telah mulai menaikkan suku bunga,” ujar Rao.

Lebih lanjut, ia memprediksikan bank sentral Filipina dan India akan kembali menaikkan suku bunga menjelang akhir tahun ini.

“Menurut kami, di sisa tahun 2026, India dan Filipina adalah dua negara yang memperketat kebijakan. Untuk Filipina, kami memperkirakan akan ada satu kenaikan suku bunga lagi. Sementara untuk India, kami pikir setidaknya akan ada dua kenaikan suku bunga lagi pada kuartal akhir tahun,” kata Rao.

Baca juga: Perkembangan ekonomi global buka peluang besar bagi RI perkuat posisi

Baca juga: DBS Indonesia ajak masyarakat persiapkan masa pensiun sejak dini

Pewarta: Arnidhya Nur Zhafira
Editor: Budisantoso Budiman
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Baca Artikel Selengkapnya