BI nilai Indonesia perlu perkuat keuangan syariah agar tak tertinggal

51 menit yang lalu 3
Indonesia saat ini berada dalam peringkat keempat dari global soal pengembangan ekonomi dan keuangan syariah

Surabaya, Jawa Timur (ANTARA) -

Bank Indonesia (BI) menilai perlu adanya penguatan ekonomi dan keuangan syariah Indonesia agar potensi pasar global yang besar dapat dimanfaatkan secara optimal terutama pada sektor keuangan syariah yang masih menghadapi sejumlah tantangan.

"Indonesia saat ini berada dalam peringkat keempat dari global soal pengembangan ekonomi dan keuangan syariah. Kita sangat ditolong dengan modest fashion yang sekarang sudah sangat mendunia, kemudian makanan halal," kata Gubernur BI Destry Damayanti dalam pembukaan Festival Ekonomi Syariah (Fesyar) Jawa 2026 di Surabaya, Sabtu.

Destry mengingatkan posisi Indonesia di peringkat keempat tersebut merupakan penurunan dari peringkat ketiga sebelumnya yang salah satunya menunjukkan masih perlunya penguatan pada sektor lain di luar modest fashion dan produk halal khususnya keuangan syariah.

Menurut dia, pengembangan keuangan syariah di Indonesia masih banyak yang harus dibenahi.

"Jadi yang yang kita enggak boleh terlalu leha-leha. Keuangannya khususnya. Keuangan syariah itu kita PR-nya masih banyak sekali, karena kita di itu ketat, sehingga produk keuangan syariah memang menjadi sangat terbatas," ujarnya.

Indonesia yang memiliki skor 96, kata Destry, masih di bawah negara-negara seperti Malaysia yang mendapat skor mencapai 186,1 dalam pengembangan ekonomi dan keuangan syariah sehingga membuatnya menjadi peringkat pertama dunia.

Selain Malaysia, terdapat pula United Arab Emirates (UAE) dengan skor 137,5 dan Arab Saudi dengan skor 107,9.

"Jujur saja ranking empat ini sebenarnya penurunan dari ranking tiga dulu. Kita turun akhirnya bukan di fashion-nya, bukan di produk halalnya, tapi untuk hal lainnya," ujar Destry.

Destry pun menyoroti langkah sejumlah negara ASEAN seperti Filipina dan Thailand yang mulai membidik posisi sebagai pusat keuangan syariah meskipun bukan negara dengan mayoritas penduduk Muslim.

Ia menuturkan kedua negara tersebut melihat nilai ekonomi syariah yang dinilai menarik bagi investor global sehingga ingin menjadi pusat keuangan syariah dunia.

Oleh sebab itu, ia mengajak seluruh pemangku kepentingan mengembangkan ekonomi dan keuangan syariah Indonesia secara lebih universal dengan berpegang pada prinsip inklusivitas, keberlanjutan, dan keadilan agar mampu menjangkau pasar yang lebih luas.

"Mari kita bersama-sama mengembangkan ekonomi keuangan syariah ini dengan melihat dengan lebih universal lagi, karena ini adalah suatu suatu model kegiatan yang sangat baik sekali dan dia akan sangat terbuka. Inklusif itu definitif harus kita pegang, kemudian sustainable, dan otomatis fairness," kata Destry.

Baca juga: BI sebut nilai ekonomi syariah semakin relevan secara global

Baca juga: BI: Jatim punya modal besar perkuat ekonomi syariah nasional

Pewarta: Astrid Faidlatul Habibah
Editor: Ahmad Wijaya
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Baca Artikel Selengkapnya