4 Pilar Kasih Sayang Rasulullah dalam Surat At-Taubah Ayat 128

1 jam yang lalu 2

Dalam benak kita, sosok Rasulullah SAW kerap kali hadir sebagai figur yang teramat agung: pimpinan negara yang ulung, panglima di medan laga, atau hamba kekasih Allah yang dadanya senantiasa tersambung dengan wahyu langit.

Sisi keagungan dan kemuliaan spiritual yang begitu tinggi itu acap kali memercikkan rasa segan yang teramat dalam, namun di sisi lain, menyisakan jarak yang seolah memisahkan kita. Kita yang sering jatuh bangun dalam keterbatasan ini kerap bertanya-tanya: mungkinkah pribadi yang dipenuhi noda dan kelemahan ini sanggup meneladani jejak langkah Sang Rasul yang sedemikian sempurna?

Al-Qur'an secara bijak mengarahkan kembali pandangan kita ke atas tanah kenyataan: bahwa sebelum memikul amanah wahyu yang agung, Rasulullah SAW adalah seorang manusia biasa. Beliau merasakan gigilan dingin, perihnya lapar, letihnya tubuh setelah berjuang, serta duka yang menggelayuti dada sebagaimana yang kita rasakan.

Justru dalam bingkai kemanusiaan itulah, kasih sayang beliau memancar begitu hangat dan nyata. Salah satu gambaran yang paling indah dan menggetarkan jiwa tentang betapa dalamnya kepedulian beliau kepada manusia terpahat indah dalam Surah At-Taubah ayat 128:

لَقَدْ جَاۤءَكُمْ رَسُوْلٌ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ عَزِيْزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيْصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِيْنَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ

Artinya: “Sungguh, benar-benar telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri. Berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, dan (bersikap) penyantun dan penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (QS. At-Taubah: 128).

Membedah Sisi Humanis Nabi Muhammad


Ayat ini hadir bukan sekadar sebagai untaian pujian tinggi dari langit, melainkan sebagai cermin jiwa yang memperlihatkan betapa dekat dan hangatnya ikatan batin antara Rasulullah SAW dan umatnya. Ketika kita menyelami maknanya lebih dalam, terungkaplah sebuah pilar kepemimpinan yang amat berharga: empati yang begitu tulus dan mendalam.

Rasa peka terhadap kesulitan orang lain inilah yang melunakkan hati manusia, meruntuhkan benteng penolakan, serta menjadi kunci utama yang membuat ajaran beliau meresap indah ke dalam kehidupan masyarakat. Mari kita bedah satu persatu sisi humanis beliau saw. melalui potongan ayat-ayat berikut:

1. Min Anfusikum (Dari Kalanganmu Sendiri)


Melalui ketegasan frasa min anfusikum, Al-Qur'an mengingatkan kita bahwa Rasulullah SAW hadir dari jenis yang sama dengan kita: seorang manusia biasa yang bernapas, berkeringat, dan memiliki dinamika rasa, bukan wujud malaikat yang terasing dari bumi.

Simak interpretasi indah dari Syekh Mutawalli Asy-Sya’rawi berikut:


وهنا يقول الحق سبحانه: ﴿لَقَدْ جَآءَكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ﴾ أي: أن الحق سبحانه لم يأت بإنسان غريب عنكم، بل جاء بواحد منكم قادر على التفاهم معكم. ولقوله الحق: ﴿مِّنْ أَنفُسِكُمْ﴾ معان متعددة، فمرة يكون معناها ب «من جنسكم»، مثلما قال الحق عن حواء: ﴿وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا ...﴾ [النساء: ١] أي: خلق حواء من نفس جنس آدم البشري، فلا يقولن أحد: كيف بعث الله لنا بشرًا رسولًا؟ لأن الحق أراد الرسول من البشر رحمة بالناس؛ ولذلك يؤكد ﷺ َ على بشريته أكثر من مرة وفي مواقع كثيرة. والقرآن يقول: ﴿وَمَا مَنَعَ الناس أَن يؤمنوا إِذْ جَآءَهُمُ الهدى إِلاَّ أَن قالوا أَبَعَثَ الله بَشَرًا رَّسُولًا﴾ [الإسراء: ٩٤] إذن: فبشرية رسول الله ﷺ َ لا تؤخذ على الله، ولكن تؤخذ لله؛ لأنه أرسل واحدًا من نفس الجنس؛ ليكون قادرًا على أن يتفاهم مع البشر، وتكون الأسوة به سهلة.

Artinya: “Dan di sini Allah SWT berfirman: (Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rasul dari kalangan/jenis kalian sendiri). Maknanya: Bahwasanya Allah SWT tidak mendatangkan seorang sosok yang asing bagi kalian, melainkan mendatangkan seorang individu dari golongan kalian sendiri yang mampu berkomunikasi dan saling memahami (at-tafāhum) dengan kalian.

Firman-Nya مِّنْ أَنفُسِكُمْ  memiliki berbagai ragam makna. Salah satu maknanya adalah 'sejenis dengan kalian' (min jinsikum), sebagaimana firman Allah tentang penciptaan Hawa:...dan Dia menciptakan daripadanya istrinya...[QS. An-Nisā': 1], yakni menciptakan Hawa dari jenis yang sama dengan Adam sebagai manusia.

Maka, tidak boleh ada seorang pun yang berkata: 'Bagaimana mungkin Allah mengutus seorang manusia biasa sebagai Rasul kepada kami?' Sebab, Allah menghendaki Rasul dari kalangan manusia justru sebagai bentuk kasih sayang (raḥmah) bagi manusia. Oleh karena itu, Rasulullah SAW menegaskan sifat kemanusiaannya berkali-kali di berbagai kesempatan.

Al-Qur'an sendiri merekam keberatan orang-orang terdahulu: Dan tidak ada sesuatu yang menghalangi manusia untuk beriman ketika petunjuk datang kepada mereka, melainkan karena mereka berkata: 'Apakah Allah mengutus seorang manusia menjadi rasul?' [QS. Al-Isra': 94]

Dengan demikian, sifat kemanusiaan (basyariah) Rasulullah SAW bukanlah poin cela yang ditujukan kepada Allah, melainkan bukti karunia ilahi; karena Allah mengutus seseorang dari jenis yang sama agar ia sanggup berkomunikasi dengan manusia, serta menjadikan proses peneladanan (uswah) kepadanya berlangsung secara mudah dan rasional.” (Tafsir Khawatir Haulal Qur’an, [Kairo, Akhbarul Yaum: 1997 M], jilid. IX, hal. 5604)


Dari keterangan  ini dapat kita ketahui bahwa diutusnya Nabi Muhammad SAW dari kalangan manusia biasa (basyar) adalah wujud kasih sayang (rahmah) dan karunia Allah yang begitu nyata bagi kita. Bayangkan jika risalah ini diampu oleh sosok yang terasing dari dinamika bumi; betapa sulitnya kita menjalin komunikasi dan memahami pesan-pesan Ilahi.


Justru karena beliau memeluk sifat kemanusiaan yang sama, sekat-sekat itu runtuh. Setiap ajaran dan sunnah beliau terasa begitu dekat, masuk akal, dan mudah untuk kita teladani dalam manis pahitnya kehidupan sehari-hari.


2. ‘Azizun ‘Alaihi Ma ‘Anittum (Berat Terasa Olehnya Penderitaanmu)

Frasa ini menghadirkan puncak keindahan empati yang tiada tandingnya. Diksi ‘anat merujuk pada setiap jengkal kesulitan, perihnya kemiskinan, dan beratnya himpitan hidup.

Simak penjelasan Syekh Ibnu ‘Asyur dalam karyanya,  At-Tahrir wat Tanwir berikut:


وَالْعَنَتُ: التَّعَبُ، أَيْ شَاقٌّ عَلَيْهِ حُزْنُكُمْ وَشَقَاؤُكُمْ.


Artinya: “Dan kata Al-'Anat bermakna: kesukaran/kelelahan (at-ta'ab). Artinya, sangat berat dirasakan oleh beliau (Rasulullah SAW) duka cita dan kesengsaraan yang menimpa kalian.” (At-Tahrir wat Tanwir, [Tunisia, Daru Tunisia: 1984 M), jilid. XI, hal. 72)


Lebih jauh, melalui frasa ‘anat ini, Syekh Ibnu ‘Asyur juga menguraikan keterkaitan langsung antara akhlak personal Nabi SAW dan dampak keasihan beliau bagi umat. Simak paparan berikut:


وَذُكِرَ هَذَا فِي صِفَةِ الرَّسُولِ عليه السلام يُفِيدُ أَنَّ هَذَا خُلُقٌ لَهُ فَيَكُونُ أَثَرُ ظُهُورِهِ الرِّفْقَ بِالْأُمَّةِ وَالْحَذَرَ مِمَّا يُلْقِي بِهِمْ إِلَى الْعَذَابِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ. وَمِنْ آثَارِ ذَلِكَ شَفَاعَتُهُ لِلنَّاسِ كُلِّهِمْ فِي الْمَوْقِفِ لِتَعْجِيلِ الْحِسَابِ. ثُمَّ إِن ذَلِك يومىء إِلَى أَنَّ شَرْعَهُ جَاءَ مُنَاسِبًا لِخُلُقِهِ فَانْتَفَى عَنْهُ الْحَرَجُ وَالْعُسْرُ

Artinya: “Dan penyebutan hal ini dalam menggambarkan sifat Rasulullah SAW memberikan faedah bahwa hal tersebut merupakan akhlak bawaan (khuluq) bagi beliau. Maka dampak dari munculnya akhlak tersebut adalah berupa sikap lemah lembut (ar-rifq) kepada umat, serta kehati-hatian/kekhawatiran beliau dari segala hal yang dapat menjerumuskan mereka ke dalam azab di dunia maupun di akhirat.

Di antara dampak dari akhlak tersebut adalah Syafaat beliau bagi seluruh manusia di Padang Mahsyar (al-maufiq) demi menyegerakan proses hisab. Kemudian, hal tersebut juga memberikan isyarat bahwa syariat yang beliau bawa datang dalam bentuk yang selaras dan sesuai dengan akhlak beliau; sehingga tergusur dan terhapuslah darinya segala bentuk kesulitan dan kesukaran.” (hal. 72).


Walhasil, ini menyimpan kedalaman empati Rasulullah SAW yang begitu menggetarkan: dada beliau ikut sesak setiap kali menyaksikan umatnya tertimpa penderitaan. Rasa kasih sayang yang bergelora di dalam jiwa beliau ini bukan sekadar tangisan haru tanpa bekas, melainkan menjelma menjadi pilar keselamatan yang nyata.


Di akhirat kelak, kasih itu hadir dalam wujud pertolongan syafaat bagi manusia yang kebingungan; sementara di dunia, kasih itu membeku menjadi ruh Syariat Islam yang ramah, kelapangan hukum yang membumi, serta kebebasan dari aturan yang menyulitkan dan meremukkan ketahanan kita sebagai manusia.


3. Harisun ‘Alaikum (Sangat Menginginkan Kebaikan Bagimu) 


Sifat haris memancarkan rasa peduli yang begitu luar biasa, menghadirkan getaran kasih yang hampir serupa dengan gelisah dan cemasnya hati seorang ibu saat menjaga anak kandungnya. Di dalam jiwa Rasulullah SAW, terikat kerinduan yang tak pernah padam agar tak satupun manusia tersesat atau jatuh dalam penderitaan.


Beliau senantiasa mencurahkan seluruh daya dan doanya demi membentangkan jalan kebaikan, merengkuh keselamatan, serta memastikan kebahagiaan sejati bagi kita, baik ketika mengarungi kerasnya hidup di dunia maupun saat menghadap Ilahi di akhirat kelak. Simak penjelasan Syekh Wahbah Zuhaili dalam Tafsirul Munir-nya berikut:


حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ﴾ أي حريص على هدايتكم وإيصال الخيرات إليكم في الدنيا والآخرة.


Artinya: “(Sangat menginginkan kebaikan bagi kalian), artinya: beliau sangat bersemangat/menginginkan petunjuk (hidayah) bagi kalian, serta tersampaikannya berbagai kebaikan kepada kalian, baik di dunia maupun di akhirat.” (Tafsirul Munir, [Damaskus, Darul Fikr: 1411 H], jilid. XI, hal. 90)

Walhasil, dari diksi haris ini membuka mata kita akan betapa besarnya harapan dan kesungguhan yang memenuhi dada Rasulullah SAW demi keselamatan kita. Beliau tidak pernah setengah-setengah dalam memperjuangkan umatnya. Ada gelora rindu dan tekad yang begitu membara di dalam jiwa beliau agar setiap manusia dapat merengkuh indahnya hidayah, terbebas dari marabahaya, serta memetik kebahagiaan sejati.


Seluruh perjuangan dan doa beliau dicurahkan tanpa sisa; memastikan agar kita tidak hanya selamat saat melintasi kerasnya dunia, tetapi juga tersenyum bahagia ketika menginjakkan kaki di akhirat.

4. Ra'ufun Rahim (Penyantun dan Penyayang) 


Dua nama agung yang disematkan Allah kepada Rasulullah SAW; Ra’uf dan Rahim, membuka tabir keindahan batin beliau yang begitu memikat. Sifat Ra’uf adalah kelembutan mendalam yang menggerakkan tangan beliau untuk mengusap air mata dan mengangkat penderitaan dari pundak sesama.


Sementara itu, Rahim adalah samudra kasih sayang yang tak pernah kering, mengalir secara tulus dan berkesinambungan. Perpaduan kelembutan dan kasih yang membumi inilah yang membungkus setiap insan di sekeliling beliau dengan rasa aman, membuat siapapun merasa dihargai, diterima, dan dicintai tanpa syarat.

Simak penjelasan Syekh Thanthawi dalam karyanya, At-Tafsir Al-Wasith berikut:


وقوله: «بالمؤمنين رءوف رحيم» أى: شديد الرأفة والرحمة بكم- أيها المؤمنون- والرأفة عبارة عن السعى في إزالة الضرر، والرحمة عبارة عن السعى في إيصال النفع، فهو ﷺ يسعى بشدة في إيصال الخير والنفع للمؤمنين، وفي إزالة كل مكروه عنهم.

Artinya: “Firman Allah SWT: بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ, artinya: beliau sangat mendalam rasa ra'fah (belas kasih) dan raḥmah (kasih sayang)-Nya kepada kalian—wahai orang-orang mukmin. Ar-Ra'fah (الرَّأْفَةُ) adalah ungkapan untuk upaya mengeliminasi/menghilangkan bahaya, sedangkan Ar-Raḥmah (الرَّحْمَةُ) adalah ungkapan untuk upaya mendatangkan kemanfaatan.

Oleh karena itu, Rasulullah SAW senantiasa berupaya secara sungguh-sungguh untuk menyampaikan kebaikan dan kemanfaatan bagi orang-orang beriman, serta menghilangkan setiap hal yang tidak disukai (keburukan/bahaya) dari mereka.” (At-Tafsir Al-Wasith, [Mesir, Darun Nahdhah: 1998 M], jilid. VI, hal. 433).

Lebih jauh, Syekh Thanthawi juga menegaskan sebuah hal yang teramat indah dan menggetarkan jiwa terjadi pada penutup ayat ini: Allah SWT berkenan menyematkan dua nama agung-Nya sendiri, yakni Ar-Ra’uf dan Ar-Rahim, untuk melukiskan kelembutan hati Rasulullah SAW.

Sepanjang Al-Qur'an, tidak ada sosok hamba yang disimbolkan secara langsung dengan kombinasi nama-nama keagungan Ilahi tersebut. Hal ini menjadi bukti betapa dalamnya kasih sayang yang mengalir di dalam dada Sang Nabi, seolah-olah kepribadian beliau adalah cermin paling murni yang memantulkan kehangatan dan kelembutan cinta Allah kepada seluruh makhluk di bumi. Simak penjelasan beliau berikut:

قال بعضهم: لم يجمع الله- تعالى- لأحد من الأنبياء اسمين من أسمائه إلا للنبي ﷺ فإنه قال «بِالْمُؤْمِنِينَ رَؤُفٌ رَحِيمٌ» وقال عن ذاته- سبحانه- إِنَّ اللَّهَ بِالنَّاسِ لَرَؤُفٌ رَحِيمٌ

Artinya: “Sebagian ulama berkata: 'Allah SWT tidak pernah menghimpun dua nama dari nama-nama keagungan-Nya untuk seorang pun dari para nabi melainkan bagi Nabi SAW. Sungguh Allah berfirman (tentang Nabi SAW): بِالْمُؤْمِنِينَ رَؤُفٌ رَحِيمٌ  [QS. At-Taubah: 128]), sedangkan Dia menyifati Diri-Nya sendiri dengan firman-Nya: إِنَّ اللَّهَ بِالنَّاسِ لَرَؤُفٌ رَحِيمٌ [QS. Al-Baqarah: 143/Al-Ḥajj: 65].’” (hal. 433)

Walhasil, dapat kita simpulkan bahwa surah At-Taubah ayat 128 ini membuka mata hati kita bahwa sifat kemanusiaan (humanis) Rasulullah SAW adalah wujud kasih sayang Allah yang paling nyata, dihadirkan agar kita dapat meneladani langkah hidup beliau tanpa rasa asing.

Kepribadian agung ini dibingkai oleh empat pilar yang begitu menyentuh: empati mendalam yang ikut merasakan perihnya penderitaan umat (‘anat), kesungguhan tanpa lelah dalam membimbing manusia menuju cahaya (haris), serta kelembutan dan kasih yang tak pernah padam (ra’uf dan rahim). Inilah benteng perlindungan sejati yang memeluk umatnya, membentangkan jalan keselamatan di dunia, serta menuntun kita menuju kedamaian abadi di akhirat.

Meneladani Rasulullah SAW pada hakikatnya adalah sebuah perjalanan melunakkan jiwa: belajar untuk membuka pintu cinta lebih lebar, melapangkan dada untuk memaafkan lebih cepat, serta mengasah kepekaan untuk peduli lebih dalam. Jejak keteladanan beliau yang sejati terpancar tatkala keberadaan kita sanggup menjadi pelukan yang menenangkan, penawar bagi luka-luka sosial, serta penyebar kasih sayang yang menghidupkan alam semesta. Wallahu a’lam.

-----------
Muhammad Ryan Romadhon, Alumni Ma’had Aly Al-Iman Bulus, Purworejo, Jawa Tengah.

Baca Artikel Selengkapnya