Saatnya Indonesia mengurangi ketergantungan pada dolar

1 jam yang lalu 1

Jakarta (ANTARA) - Setiap kali dolar Amerika Serikat menguat, kegelisahan yang sama kembali muncul di Indonesia.

Nilai tukar rupiah melemah, biaya impor meningkat, tekanan inflasi menguat, dan dunia usaha mulai menghitung ulang berbagai risiko yang harus dihadapi.

Fenomena ini bukan hal baru. Dalam berbagai episode gejolak ekonomi global, mulai dari krisis Asia 1998, Taper Tantrum 2013, pandemi COVID-19, hingga ketidakpastian ekonomi dunia saat ini, rupiah hampir selalu berada di bawah tekanan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa perekonomian Indonesia masih sangat sensitif terhadap pergerakan dolar AS.

Padahal, dari sisi fundamental, Indonesia saat ini jauh lebih kuat dibandingkan dengan dua dekade lalu. Cadangan devisa Indonesia masih berada di kisaran 145-150 miliar dolar AS atau setara lebih dari enam bulan impor, jauh di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.

Namun, fakta bahwa setiap penguatan dolar hampir selalu diikuti pelemahan rupiah menunjukkan bahwa persoalan yang dihadapi bukan semata-mata soal cadangan devisa atau intervensi bank sentral. Ada ketergantungan struktural yang membuat ekonomi nasional masih terlalu rentan terhadap perubahan arah kebijakan moneter Amerika Serikat dan dinamika pasar keuangan global.

Dolar dominan

Dominasi dolar dalam ekonomi dunia merupakan warisan panjang sistem keuangan internasional setelah Perang Dunia II. Hingga saat ini, dolar masih menjadi mata uang utama dalam perdagangan internasional, transaksi keuangan lintas negara, pembiayaan global, dan cadangan devisa berbagai negara.

Bahkan, berbagai penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar transaksi perdagangan internasional masih menggunakan dolar sebagai mata uang penagihan maupun pembayaran. Salah satu studi mencatat bahwa sekitar 98 persen ekspor Indonesia masih ditagihkan menggunakan dolar AS.

Dominasi tersebut menciptakan apa yang sering disebut sebagai dollar dependency. Ketika dolar menguat, hampir seluruh negara berkembang menghadapi tekanan. Namun, dampaknya akan jauh lebih besar bagi negara-negara yang perdagangan, pembiayaan, dan investasinya sangat bergantung pada dolar. Dalam konteks ini, dolar tidak hanya berfungsi sebagai alat pembayaran, tetapi juga menjadi faktor yang menentukan biaya perdagangan, biaya utang, hingga arus modal internasional.

Karena itu, setiap keputusan suku bunga yang diambil oleh bank sentral Amerika Serikat sering kali memiliki dampak yang lebih besar terhadap negara berkembang dibandingkan keputusan yang dibuat oleh pemerintah negara berkembang itu sendiri. Situasi inilah yang mendorong semakin banyak negara mulai mencari cara untuk mengurangi ketergantungan yang berlebihan terhadap dolar.

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Baca Artikel Selengkapnya