RMI PBNU Resmi Tutup Program Inkubasi Beasiswa Santri ke Maroko 2026

1 jam yang lalu 3

Yogyakarta, NU Online

Rabithah Ma'ahid Islamiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (RMI PBNU) secara resmi menutup Program Inkubasi Beasiswa Santri ke Maroko 2026 di Yayasan Ali Maksum, Pondok Pesantren Krapyak, Yogyakarta, pada Sabtu (6/6/2026).

Program Inkubasi Beasiswa Santri ke Maroko merupakan upaya strategis dalam menyiapkan santri Nahdlatul Ulama yang memiliki kesiapan akademik, bahasa, dan keilmuan Islam untuk melanjutkan studi ke luar negeri.

Program ini merupakan bagian dari kerja sama berkelanjutan antara Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dengan Wizaratul Awqof wa Asy-Syu'un Al-Islamiyyah Kerajaan Maroko dalam pemberian beasiswa bagi santri NU pada lembaga Ta'lim 'Atiq di Maroko.

Dalam pelaksanaannya, PBNU mengamanahkan pengelolaan program ini kepada RMI PBNU sebagai lembaga yang secara khusus membidangi pengembangan pesantren dan santri NU, agar berjalan secara optimal, terarah, dan berkelanjutan.

Untuk diketahui, dalam dua tahun terakhir program beasiswa ini mendapat dukungan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) RI, dengan pengelolaan kegiatan berkoordinasi dengan NUS, NU Scholarship. Dukungan ini memperkuat keberlanjutan program dan memungkinkan lebih banyak santri NU untuk mendapatkan akses beasiswa.

Meskipun santri telah memiliki fondasi keilmuan turats yang kokoh, tantangan krusial muncul pada tahapan muqobalah (wawancara) langsung dengan pihak penguji dari Wizaratul Awqof. Tahapan ini menuntut lebih dari sekadar penguasaan materi, tetapi juga memerlukan kemampuan artikulasi ide yang sistematis, ketepatan logika berpikir, dan kesesuaian etika berkomunikasi sesuai standar akademik Maroko.

Seringkali, potensi besar santri tidak tersampaikan secara maksimal akibat kendala teknis dalam menyampaikan argumen lisan di bawah tekanan situasi ujian formal.

Oleh karena itu, program inkubasi ini difokuskan untuk mengatasi kesenjangan tersebut dengan menghadirkan para alumni Maroko sebagai mentor utama. Para alumni yang berpengalaman menempuh sistem Ta'lim 'Atiq memiliki pemahaman mendalam mengenai karakter pertanyaan penguji, penekanan pada aspek tahfiz Al-Qur'an, serta pendalaman ilmu alat seperti mantiq dan balaghah yang menjadi standar seleksi.

Melalui bimbingan taktis dan simulasi intensif, para santri diharapkan mampu menyelaraskan latar belakang keilmuan pesantren dengan strategi untuk lolos muqobalah.

Ketua RMI PBNU KH Hodri Ariev menegaskan bahwa kegiatan inkubasi ini pada prinsipnya merupakan pendampingan intensif agar para santri siap secara mental dan akademik menghadapi test lisan atau muqabalah oleh pihak Ta'limul 'Atiq Kerajaan Maroko.

"Saya berharap, ke manapun para santri belajar, jangan pernah meninggalkan karakteristiknya sebagai santri, jangan pernah meninggalkan pesantren, kiai, dan NU. Beasiswa ini merupakan ikhtiar untuk meningkatkan kapasitas personal dan khidmah kepada Jamaah dan Jam'iyah," tutur KH. Hodri Ariev di hadapan para peserta.

Kiai Hodri juga menyinggung berbagai framing negatif yang belakangan ini ditujukan kepada pesantren. Ia mengajak para santri untuk tetap fokus pada peningkatan kualitas diri.

"Ada banyak isu dan framing tidak baik tentang pesantren, mari kita fokus untuk menata diri, meningkatkan personal capacity, agar pada waktunya para santri mampu berperan lebih produktif dan kreatif untuk kebaikan dan kemajuan NU, Nahdliyin, serta bangsa kita. Tidak perlu merespon cacian dan makian, karena keduanya muncul dari hati yang sakit, kita jaga kewarasan nafsani dan ruhani kita," pungkasnya.

Sementara itu, PIC Beasiswa Maroko RMI PBNU Muhammad Iqbal menyampaikan bahwa capaian 108 santri yang kini tersebar di 7 kampus di Maroko menjadi bukti nyata potensi santri NU di kancah internasional. Ia menekankan bahwa santri Indonesia memiliki potensi besar untuk bersaing di Maroko, contohnya saat ini hanya delegasi PBNU yang dapat diterima di kampus-kampus Ta’limul ‘Atieq yang berada langsung di bawah naungan Kerajaan Maroko.

“108 santri di 7 kampus, dengan sejumlah prestasi di kampus masing-masing di Maroko, ini menunjukkan bahwa kader santri kita mampu mengharumkan nama Indonesia. Mereka juga mendapatkan fasilitas lengkap dari masing-masing kampus: makan, tempat tinggal, hingga paket liburan yang berbeda-beda. Harapannya, capaian ini menjadi semangat bagi calon-calon berikutnya, dan membuktikan bahwa santri kita berpotensi dan mampu mendominasi di Ta’limul ‘Atieq,” ujar Muhammad Iqbal.

Dengan selesainya program inkubasi ini, para santri peserta diharapkan tidak hanya siap secara administratif, tetapi juga memiliki daya saing tinggi untuk menempuh pendidikan di Maroko secara optimal dan membawa nama baik NU di kancah internasional. 

Dengan selesainya program inkubasi ini, para santri peserta diharapkan tidak hanya siap secara administratif, tetapi juga memiliki daya saing tinggi untuk menempuh pendidikan di Maroko secara optimal dan membawa nama baik NU di kancah internasional. 

Kegiatan penutupan ini dihadiri oleh Wakil Ketua RMI PBNU KH Mahrus El Mawa, Direktur Lakpesdam PBNU Asrul Raman jajaran pengurus RMI PBNU, Pengurus dan Pengasuh Yayasan Pondok Pesantren Krapyak Yayasan Ali Maksum, dewan pengajar inkubasi, serta para pengurus, musyrif, dan santri-santriwati Pesantren Krapyak.

Baca Artikel Selengkapnya