Es Thung-Thung dan Takdir Kebaikan

1 jam yang lalu 1

Karena terburu-buru akan berangkat, bocah itu lupa menutup sepotong tahu goreng di meja seusai sarapan. Padahal, itu adalah lawuh alias lauk makan adiknya yang tampak asyik bermain mobil-mobilan truk mengangkuti butir-butir debu yang dibayangkan sebagai pasir di halaman. Sementara itu ibunya pamit sebentar ke rumah tetangga karena suatu keperluan. Karenanya kini, mendapati situasi dapur sedemikian rupa, seekor condol alias tikus yang bersembunyi di sela antara lemari dan dinding tidak menyia-nyiakan kesempatan, segera berlari ke arah meja itu. Akan tetapi begitu hampir sampai di salah satu kaki meja, sekonyong-konyong gesit ia belok ke kiri untuk kemudian ngibrit berlari secepatnya menghindari seekor kucing yang sesaat tadi bersembunyi di balik pintu setengah terbuka untuk kemudian menyergapnya dari kanan.

Kemudian, kendati si tikus berhasil keluar lewat pintu belakang, si kucing terus memburunya hingga-hingga kegaduhan yang ditimbulkan oleh mereka mengagetkan
seekor ayam jago yang sedang asyik koreh, mengoker-oker tanah pekarangan mencari makan. Untuk beberapa saat si jago lari kelimpungan sembari kedua sayapnya ia kepak-kepakkan. Akan tetapi, kendati awalnya rada dongkol, rasa itu segera pergi begitu pelariannya, tidak ia nyana, malah mendekatkannya pada sisa-sisa sayur lodeh yang beberapa saat lalu ditaruh oleh seseorang di pekarangan. Ini barang tentu menjadikannya lahap menyantapnya dengan riang.
 


​​​​​​​Orang itu kini berjalan menuntun sepeda jangki yang bannya bocor beberapa saat tadi, sementara grobogan es thung-thung alias es krim tampak temangkrong di boncengan. Ini menjadikannya rada berat, tidak bisa cepat-cepat, kemudian ditambah waktu istirahat pertama sekolah yang ia tuju sepertinya sebentar lagi, maka wajar apabila sekonyong-konyong timbul keinginan dalam benaknya untuk mengeluhkan keadaan. Akan tetapi, alhamdulillah, seiring rasa syukur ia teringat bahwa Gusti Allah Ta’ala menakdirkannya sepagi ini telah berbuat kebaikan—yakni menaruh sisa makanan yang ia niati sebagai sedekah untuk sesama makhluk ciptaan-Nya—maka rada malu rasanya mengeluh sembari benaknya berusaha mengumpulkan ketabahan.
 


​​​​​​​Mengumpulkan ketabahan dengan cara mengingat, beberapa hari lalu seorang temannya di pertemuan RT-an bercerita, bahwa pagi tadi saat temannya tersebut bersiap-siap berangkat menemui rombongan mbawon, buruh panen padi, istrinya sekonyong-konyong memintanya mengantarkan ke warung untuk membeli suatu kebutuhan. Padahal biasanya istrinya ke warung sendiri, sementara pagi beranjak siang dan sepertinya ia telah ditunggu oleh rombongan. Karenanya ia emoh alias tidak mau mengantarkan. Akan tetapi istrinya tetap minta diantar, sepertinya sedang aleman alias kolokan. Mau tidak mau, setelah mempertimbangkan bahwa apabila ketinggalan ia bakal segera menyusul rombongan, ia mengantarkannya sembari rada muring-muring alias uring-uringan. Tidak dinyana kemudian, di teras warung, saat menunggu istrinya belanja, ia dihampiri oleh seorang yang terkenal memiliki sawah luas di kampung itu yang sekonyong-konyong memintanya ikut mbawon—kerja memetik padi—di sawahnya karena sedang kekurangan orang.
 


​​​​​​​Sejenak ia berhenti, bertanya pada seseorang yang tampak membersihkan halaman rumah di pinggir jalan perihal tempat bengkel tambal ban. Orang itu memberitahunya untuk terus, sampai pertigaan belok kanan. Usai menyampaikan terima kasih yang dibalas dengan ucapan sama-sama, ia meneruskan perjalanan.
Unik, demikian ia teringat kesimpulan temannya di ujung cerita, andai temannya tersebut tetap menolak permintaan istrinya, bisa jadi ia bersama rombongan dapat kerja mbawon kendatipun diawali dengan bertanya-tanya dahulu mencari orang yang sedang panen di sawah sekitar kampung itu untuk kemudian hasilnya dibagi rata ke semua rombongan. Ndilalah, Gusti Allah Ta’ala menghendakinya menuruti permintaan sang istri, yang karenanya dua hal ia dapati, yakni selain dapat membantu istri tercinta ia mendapat embretan alias pekerjaan yang datangnya di luar dugaan.
 


Kemudian, sembari terus menuntun sepedanya, nasihat khatib Jumat beberapa hari lalu sekonyong-konyong melintasi benaknya, yakni untuk selalu berprasangka baik kepada Gusti Allah Ta’ala pada setiap keadaan. Karena manusia tidak tahu terkait apa yang direncanakan oleh Gusti Allah Ta’ala yang mengatur kehidupan ini dengan penuh kebijaksanaan.

Sekarang, seiring rasa ingin mengeluh tersebut pergi diguyur ketabahan menjalani hingga beberapa saat kemudian, tidak ia nyana, benaknya ditimpa selaksa kegembiraan: beberapa jarak di depan tampak bengkel ban yang kian dekat jarak kian tampak bahwa di depannya adalah sebentang tanah lapang di mana beberapa tenda didirikan di samping banyak bocah sekolah mengikuti upacara, sepertinya itu suatu perkemahan.
 


​​​​​​​Karenanya seusai menurunkan grobogan di pinggir lapangan, tempat beberapa pedagang jajanan mangkal, ia segera menuntun sepedanya ke bengkel untuk kemudian rada buru-buru kembali ke grobogan-nya karena upacara telah selesai, dan ke arah para pedagang bocah-bocah tampak mulai berhamburan.

Seiring rasa senang sembari benaknya bersyukur kepada Gusti Allah Ta’ala, rada repot ia melayani sebagian bocah-bocah itu membeli sama-sama meminta didahulukan. Kemudian, karena satu di antara mereka adalah tetangganya, maka kepada anak itu, ia menggratiskan. Ini barang tentu menjadikan bocah yang pagi tadi berangkat terburu-buru itu jadi senang. Sementara ia juga bertambah senang: selain karena dampak memberi, sekonyong-konyong ia teringat bahwa srawung alias kehidupan bertetangga di lingkungan alias kampung tempat ia tinggal sarat dengan nilai-nilai kebaikan. Adakalanya lewat pemberian, pinjaman hingga kadang permintaan. Semisal saat istrinya mau memasak, akan tetapi kehabisan lombok alias cabe atau brambang alias bawang merah, sementara untuk membeli rasanya ketanggungan atau sedang tidak ada uang, maka istrinya meminta kepada istri tetangganya beberapa butir bumbu tersebut yang mana kemudian istri tetangganya dengan senang memberikan.


Maturnuwun, Lik, ucap si bocah yang ia sambut dengan sebaris senyum dan anggukan. Ini satu lagi kebaikan, demikian benaknya sembari tangannya cekatan memasukan kerukan es krim ke dalam kerupuk berbentuk contong seperti topi ulang tahun yang dibalikkan. Kebaikan dalam bentuk panggilan. Yakni di kampungnya, kendatipun tidak ada hubungan kekeluargaan, akan tetapi sudah jamak dilakukan memanggil lik kependekan dari lilik alias om atau tante pada siapa pun yang lebih muda ketimbang orang tua si pemanggil dan memanggil uwak alias pakde atau bude pada siapa pun yang lebih tua ketimbang orang tua si pemanggil, ini menjadikan seakan-akan mereka kerabat hingga terjalin keakraban. Sementara maturnuwun adalah terima kasih, yang mana tanpa ia ketahui kata itu juga diucapkan oleh istrinya pagi tadi kepada ibu si bocah karena ibu si bocah memberinya setandan pisang buah pohon di halaman rumah yang telah matang.

Kesugihan, 11 Shafar 1446.

Baca Artikel Selengkapnya