PB PMII Kritik Pernyataan Prabowo soal Aksi Bayaran, Sebut Delegitimasi Suara Rakyat

3 jam yang lalu 2

Jakarta, NU Online

Kepala Bidang Advokasi Pengurus Besar (PB) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Arafat, menilai pernyataan Presiden Prabowo Subianto mengenai adanya pihak yang mendanai aksi massa berpotensi menjadi upaya mendelegitimasi suara rakyat dan membungkam daya kritis mahasiswa.


"Menganggap mahasiswa bergerak karena bayaran adalah bentuk pengabaian terhadap nalar kritis mahasiswa yang telah melakukan riset, kajian, dan pembacaan situasi kebangsaan secara mendalam," katanya kepada NU Online, Kamis (25/6/2026).


Menurut Arafat, pernyataan tersebut juga dapat dipandang sebagai bentuk penghinaan terhadap kapasitas intelektual mahasiswa.


"Narasi aksi bayaran merupakan bentuk gaslighting politik yang berbahaya dan mencerminkan kegagalan pemerintah dalam memahami akar persoalan bangsa yang sesungguhnya," tegasnya.


Ia menilai sikap Presiden Prabowo justru berpotensi memperlebar fragmentasi sosial daripada membuka ruang dialog dan mendengarkan aspirasi masyarakat untuk mencari solusi atas berbagai persoalan bangsa.


"PB PMII menyayangkan sikap yang justru menimbulkan fragmentasi yang kian meruncing," ujarnya.


Lebih lanjut, Arafat menilai Presiden Prabowo melakukan pengalihan isu. Menurutnya, alih-alih merespons tuntutan mahasiswa terkait evaluasi Kabinet Merah Putih, Presiden justru mempertanyakan integritas dan moral para demonstran.


"Ini adalah cermin pemimpin yang antikritik dan tidak mampu menyerap aspirasi rakyat secara sehat," katanya.


Arafat menegaskan bahwa gerakan PMII lahir dari aspirasi rakyat dan berlandaskan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah.


"Pergerakan kami berlandaskan analisis data, keberpihakan kepada kaum tertindas (mustad'afin), dan kemurnian idealisme," ujarnya.


"Kami tegaskan bahwa nurani dan akal budi mahasiswa tidak bisa dibeli oleh kepentingan oligarki maupun kekuasaan mana pun," sambungnya.


Sementara itu, Presiden Prabowo Subianto menyatakan terdapat pihak-pihak yang terlibat dalam pendanaan sejumlah aksi demonstrasi yang terjadi belakangan ini. Ia juga menilai sebagian peserta aksi tidak memahami substansi tuntutan yang mereka suarakan.


"Saudara-saudara sekalian, hati-hati loh, saya kasih peringatan mereka-mereka itu. Saya tahu siapa yang bayar-bayar demo, gue tahu itu. Tapi enggak, main demo ditanya anak-anak demo enggak ngerti. Mau demo apa? Ya, kami dibayar Rp200.000, tapi ada," kata Prabowo saat menghadiri Puncak Pekan Nasional Petani Nelayan XVII 2026 di Gorontalo, Rabu (24/6/2026).

Baca Artikel Selengkapnya