Prof Said Agil Al-Munawar: Sanad Ilmu Bawa Keberkahan

2 jam yang lalu 1

Bireuen, NU Online

Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta Prof KH Said Agil Husin Al-Munawar menegaskan pentingnya menjaga sanad, talaqqi, dan tahqiq dalam tradisi pendidikan Islam. Ketiga unsur tersebut diperlukan agar ilmu agama diperoleh dari sumber yang jelas, dapat dipertanggungjawabkan, serta mendatangkan keberkahan.

Hal itu disampaikan Prof Said Agil saat memberikan muhadarah ammah di Dayah Ma’hadal ‘Ulum Diniyyah Islamiyyah (MUDI) Masjid Raya Samalanga, Kabupaten Bireuen, Aceh. Ceramah tersebut diikuti para masyaikh, dewan guru, santriwan, santriwati, dan sejumlah tamu undangan, Selasa, (23/6/2026)

Menurut Prof Said Agil, sanad merupakan hubungan keilmuan yang bersambung antara seorang murid dengan guru, para ulama, hingga pengarang kitab yang dipelajari. Kejelasan sanad menjadi bagian penting dalam menjaga kemurnian ilmu agama.

“Supaya ilmu kita jelas. Kita dapat dari guru-guru yang jelas, sanadnya jelas dan bersambung kepada para pengarang kitab-kitab keagamaan, termasuk Al-Qur’anul Karim. Inilah yang membawa keberkahan,” kata Prof Said Agil.

Ia menjelaskan, mempelajari kitab di hadapan guru tidak hanya bertujuan mengetahui arti teks. Seorang santri juga perlu memahami maksud pengarang, konteks pembahasan, metode berpikir, dan batas-batas dalam menarik kesimpulan hukum.

Karena itu, menurutnya, seorang penuntut ilmu tidak cukup hanya mengandalkan buku, ruang kelas, atau bangku perkuliahan. Santri perlu mendatangi dan belajar langsung kepada para ulama yang memiliki kompetensi dalam bidang keilmuan tertentu.

“Setiap kita membaca sebuah kitab, jangan mencukupkan ilmu itu dari bangku sekolah dan bangku kuliah. Kita harus mendatangi guru sesuai dengan spesialisasi keilmuannya,” ujarnya.

Belajar kepada ulama besar

Dalam ceramahnya, Prof Said Agil menceritakan pengalamannya selama 12 tahun menuntut ilmu di Arab Saudi. Ia tinggal selama empat tahun di Madinah dan delapan tahun di Makkah.

Pada masa tersebut, ia berkesempatan belajar kepada sejumlah ulama besar yang memiliki keahlian dalam bidang fiqih, ushul fiqih, maqashid syariah, hadits, dan tafsir.

Prof Said Agil mengaku tidak hanya mengikuti pembelajaran di ruang kuliah. Seusai kegiatan akademik, ia mendatangi rumah para ulama untuk membaca kitab secara langsung sesuai dengan bidang keahlian masing-masing.

Salah seorang guru yang dikenangnya adalah Syekh Mahmud Abdul Daim, ulama fiqih Mazhab Syafi’i yang mendapat julukan Syafi‘iyul ‘Ashr atau Imam Syafi’i pada zamannya.

Ketika mengajarnya, Syekh Mahmud telah berusia sekitar 96 tahun. Meskipun demikian, daya ingat dan semangatnya dalam mengajar masih sangat kuat.

Prof Said Agil mengisahkan, selama tiga bulan mempelajari kitab Qalyubi wa ‘Umairah, pembelajaran masih membahas bagian pendahuluan. Ia kemudian bertanya kepada gurunya mengenai waktu dimulainya pembahasan utama kitab tersebut.

“Guru saya menjawab, ‘Inilah ilmu, wahai anakku. Ilmu itu bagaikan lautan yang sangat luas,” tuturnya.

Pengalaman tersebut, lanjut Prof Said Agil, mengajarkan bahwa penuntut ilmu tidak boleh tergesa-gesa dalam memahami kitab. Setiap bagian perlu dipelajari secara teliti dengan bimbingan guru yang benar-benar menguasai bidang tersebut.

Pentingnya menghormati guru

Prof Said Agil juga menekankan pentingnya adab dan penghormatan kepada guru. Menurutnya, menghormati guru tidak hanya ditunjukkan melalui sikap sopan ketika berhadapan dengannya.

Penghormatan juga harus diwujudkan dengan mendengarkan penjelasan secara sungguh-sungguh, mencatat materi, mengulang pelajaran, mencari sumber tambahan, serta mengamalkan ilmu yang telah diterima.

Ia mencontohkan kebiasaannya mencatat setiap penjelasan guru saat mempelajari ilmu hadis. Seusai perkuliahan, ia mendatangi toko buku untuk mencari kitab-kitab yang disebutkan oleh gurunya.

Catatan tersebut kemudian dipelajari dan dihafalkan. Ketika materi itu keluar dalam ujian, ia mampu menjawab seluruh pertanyaan dengan baik hingga memperoleh nilai sempurna.

“Karena saya cinta ilmu pengetahuan, saya membiarkan guru menjelaskan secara luas. Semua penjelasannya saya catat, saya cari kitabnya, kemudian saya pelajari,” ungkapnya.

Prof Said Agil turut menceritakan kedekatannya dengan Syekh Muhammad Yasin bin Isa al-Fadani, ulama asal Nusantara yang dikenal dengan gelar Musnidud Dunya karena keluasan penguasaan sanad hadits dan ilmu-ilmu keislaman.

Dari Syekh Yasin al-Fadani, Prof Said Agil memperoleh sanad berbagai disiplin ilmu. Menurutnya, kemampuan para ulama menguasai banyak kitab tidak diperoleh secara instan, tetapi melalui proses belajar yang panjang, disiplin, dan berkesinambungan.

Para ulama, kata dia, menghafal matan, membaca banyak kitab, menjaga hubungan dengan guru, serta terus melakukan pengkajian dan penelitian terhadap sumber-sumber keislaman.Oleh karena itu, ia mengingatkan para santri agar tidak merasa cukup dengan ringkasan atau jawaban singkat dari sumber yang tidak diketahui otoritas keilmuannya.

Tahqiq cegah kesalahan pahami agama

Selain sanad dan talaqqi, Prof Said Agil menekankan pentingnya tahqiq. Tahqiq merupakan sikap teliti, kritis, dan bertanggung jawab dalam membaca serta memahami sumber-sumber ajaran Islam.

Menurutnya, seorang pelajar tidak boleh tergesa-gesa menyampaikan suatu pendapat sebelum memastikan kebenaran teks, sumber rujukan, konteks pembahasan, dan maksud ulama yang dikutip.

Sikap tahqiq diperlukan agar ilmu yang disampaikan kepada masyarakat tidak menimbulkan kesalahan pemahaman. Tahqiq juga mengajarkan seorang santri untuk tidak mudah mengeluarkan hukum hanya berdasarkan bacaan sepintas.

Sebelumnya, Mudir Tanfidzi Dayah MUDI Masjid Raya Samalanga Tgk H Zahrul Mubarak atau akrab disapa Abi MUDI mengatakan, tradisi keilmuan dayah dibangun di atas tiga pilar utama, yakni sanad, talaqqi, dan tahqiq.

Sanad menjaga kemurnian transmisi ilmu dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Talaqqi memastikan ilmu diterima secara langsung dari guru yang memiliki kompetensi dan integritas keilmuan.

Sementara tahqiq membentuk sikap kritis, cermat, dan bertanggung jawab dalam memahami serta mengembangkan khazanah keilmuan Islam.

Ia berharap kehadiran Prof Said Agil dapat memperkuat semangat para santri untuk terus menuntut ilmu, menjaga sanad keilmuan, dan mempersiapkan diri menjadi ulama yang kokoh dalam ilmu serta bijaksana dalam menghadapi persoalan umat.

Al-Qur’an fondasi keilmuan

Pada bagian lain ceramahnya, Prof Said Agil mendorong para santri untuk memperkuat hafalan Al-Qur’an. Menurutnya, Al-Qur’an merupakan dasar utama dalam mengembangkan berbagai disiplin ilmu keislaman.

Kebiasaan menghafal Al-Qur’an akan membantu santri dalam mengingat hadits, matan kitab, kaidah fiqih, ushul fiqih, dan berbagai materi pelajaran lainnya.

“Hafalkan Al-Qur’anul Karim. Dengan menghafal Al-Qur’an, Allah akan memudahkan yang lainnya,” pesannya.

Meskipun demikian, ia mengingatkan bahwa tantangan terbesar bukan hanya membaca dan menghafal Al-Qur’an, tetapi mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Menurutnya, ilmu yang benar harus melahirkan perubahan dalam diri penuntutnya. Ilmu harus membentuk akhlak, kedisiplinan, kerendahan hati, penghormatan kepada guru, serta tanggung jawab terhadap agama dan masyarakat.

Karena itu, keberhasilan seorang santri tidak hanya diukur dari banyaknya kitab yang telah dibaca atau tingginya jenjang pendidikan yang ditempuh. Keberhasilan juga ditentukan oleh kejelasan guru, kesinambungan sanad, kesungguhan belajar, ketelitian memahami dalil, dan konsistensi dalam mengamalkan ilmu.

Baca Artikel Selengkapnya