Beberapa waktu terakhir, ada satu pertanyaan yang terus berputar-putar di kepala saya setiap kali membaca sejarah Nahdlatul Ulama dan mengamati berbagai dinamika yang berkembang di dalam tubuh organisasi ini. Pertanyaan itu bukan tentang siapa yang akan menjadi ketua umum pada muktamar berikutnya. Bukan pula tentang siapa yang benar dan siapa yang salah dalam berbagai perdebatan yang sesekali muncul di ruang publik. Pertanyaan itu jauh lebih sederhana, tetapi justru karena kesederhanaannya ia terasa sangat mendasar: masihkah kita berani berpikir melampaui diri kita sendiri?
Pertanyaan ini muncul karena semakin saya mempelajari sejarah para muassis, semakin saya menyadari bahwa mereka tidak pernah mendirikan NU untuk mengurus NU semata. Tahun 1926 bukanlah tahun yang lahir dari suasana tenang. Dunia Islam sedang mengalami keguncangan besar setelah runtuhnya Kekhalifahan Turki Utsmani. Banyak negeri Muslim berada di bawah kolonialisme. Umat Islam kehilangan pusat gravitasi politiknya. Masa depan dunia Islam tampak kabur dan penuh ketidakpastian. Namun para ulama Nusantara tidak memilih menjadi penonton sejarah. Mereka membaca perubahan zaman dengan sangat serius, lalu menghadirkan jawaban melalui ikhtiar yang kelak bernama Nahdlatul Ulama.
Karena itulah saya selalu meyakini bahwa NU selalu menjadi besar ketika ia berpikir melampaui dirinya sendiri. Para pendirinya tidak hanya memikirkan pesantrennya. Mereka tidak hanya memikirkan daerahnya. Bahkan mereka tidak hanya memikirkan bangsa yang saat itu belum merdeka. Mereka memikirkan masa depan umat dan peradaban. Mereka berusaha menjawab persoalan yang lebih besar daripada organisasi yang mereka dirikan. Mungkin karena itulah hingga hari ini NU tetap hidup dan dicintai oleh jutaan orang.
Kini, pada usia telah melewati satu abad, saya merasa pertanyaan yang sama perlu kembali diajukan. Sebab dunia yang kita hadapi hari ini sedang berubah dengan kecepatan yang mungkin belum pernah terjadi sebelumnya. Kecerdasan buatan (artificial intelligence) mulai menggantikan banyak pekerjaan manusia. Algoritma media sosial membentuk cara berpikir generasi muda. Krisis lingkungan mengancam keberlangsungan kehidupan. Struktur ekonomi global mengalami perubahan besar. Bahkan cara manusia belajar, bekerja, berinteraksi, dan beragama sedang mengalami transformasi yang sangat mendasar. Dalam situasi seperti ini, saya merasa Muktamar ke-35 NU tidak cukup hanya menjadi arena pergantian kepemimpinan atau penyusunan program kerja lima tahunan. Muktamar harus menjadi ruang untuk memperjelas arah perjalanan NU pada abad keduanya.
Kegelisahan pertama saya berkaitan dengan generasi muda Nahdliyyin. Jujur saja, saya tidak terlalu khawatir mereka meninggalkan Islam. Saya juga tidak terlalu khawatir mereka membenci NU. Yang justru saya khawatirkan adalah ketika mereka tidak lagi merasa memiliki hubungan emosional dengan NU. Banyak anak muda NU hari ini tumbuh di dunia yang berbeda dari generasi sebelumnya. Mereka belajar melalui YouTube, berdiskusi melalui podcast, membangun komunitas melalui media sosial, dan membentuk identitasnya di ruang digital yang nyaris tanpa batas. Jika NU ingin tetap hidup pada abad keduanya, maka generasi muda tidak boleh hanya ditempatkan sebagai peserta kegiatan atau objek kaderisasi. Mereka harus dilibatkan sebagai subjek peradaban, sebagai pihak yang ikut memikirkan dan menentukan arah masa depan organisasi. Sebab pada akhirnya, masa depan NU tidak akan ditentukan oleh seberapa banyak anak muda hadir dalam acara-acara NU, melainkan oleh seberapa banyak anak muda merasa bahwa NU adalah rumah perjuangan mereka.
Di sisi lain, saya juga melihat perlunya keberanian untuk memikirkan fondasi ekonomi organisasi secara lebih serius. Kita semua memahami bahwa organisasi sebesar NU membutuhkan sumber daya yang besar untuk menjalankan berbagai amanatnya. Namun sudah saatnya kita mulai berpikir melampaui satu periode kepengurusan. Karena itu saya memandang gagasan Dana Abadi NU layak dipertimbangkan secara serius. Bukan sekadar sebagai instrumen keuangan, tetapi sebagai ikhtiar membangun kemandirian organisasi dalam jangka panjang. Kita perlu membayangkan sebuah sistem yang memungkinkan pendidikan, kaderisasi, riset, pengembangan pesantren, hingga dakwah digital tetap berjalan dengan baik tanpa terlalu bergantung pada dinamika politik maupun sumber pendanaan jangka pendek. Organisasi besar dunia bertahan bukan hanya karena banyaknya anggota, tetapi karena kemampuannya membangun institusi yang melampaui umur para pemimpinnya.
Dalam konteks yang sama, saya juga merasa penting untuk menegaskan kembali posisi NU sebagai kekuatan moral bangsa yang independen. Saya memahami bahwa kader-kader NU berada di berbagai partai politik dan lembaga negara. Itu adalah kenyataan yang tidak mungkin dihindari dalam sistem demokrasi modern. Namun organisasi NU sendiri harus tetap berdiri di atas semua golongan. NU harus tetap menjadi rumah bersama yang mampu berbicara kepada semua pihak tanpa kehilangan kemandiriannya. Sebab ketika masyarakat mulai melihat organisasi terlalu dekat dengan kepentingan politik tertentu, maka yang sesungguhnya sedang dipertaruhkan bukan hanya citra organisasi, melainkan kepercayaan umat yang dibangun dengan susah payah selama hampir satu abad.
Hal lain yang menurut saya perlu mendapat perhatian lebih besar adalah isu lingkungan hidup. Selama ini banyak orang menganggap persoalan lingkungan sebagai isu teknis atau isu aktivis. Padahal sesungguhnya ia adalah persoalan peradaban. Kerusakan alam pada akhirnya akan bermuara pada kemiskinan, konflik sosial, krisis pangan, bahkan penderitaan manusia. Dengan jaringan pesantren, masjid, madrasah, dan komunitas akar rumput yang begitu luas, saya melihat NU memiliki peluang besar untuk menjadi pelopor gerakan ekologi Islam dunia. Green Pesantren, pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular, konservasi air, energi terbarukan, dan pendidikan lingkungan hidup berbasis nilai-nilai Islam bukan lagi pilihan tambahan, melainkan kebutuhan masa depan. Saya bahkan berani mengatakan bahwa salah satu warisan terbesar NU pada abad kedua bisa jadi bukan berasal dari ruang politik, melainkan dari keberhasilannya merawat bumi sebagai amanat Tuhan.
Pada saat yang sama, saya melihat perlunya penguatan badan usaha milik NU melalui tata kelola yang profesional dan berkelanjutan. Kita semua memahami bahwa pergantian kepemimpinan adalah keniscayaan. Namun aset ekonomi umat tidak boleh ikut menjadi korban dari setiap pergantian rezim organisasi. Yang harus dibangun bukan hanya perusahaan, tetapi sistem. Yang harus diwariskan bukan hanya aset, tetapi tata kelola. Organisasi yang sehat tidak diukur dari siapa ketuanya, melainkan dari kemampuannya menjaga kesinambungan ketika ketuanya berganti. Karena itu badan usaha NU harus dibangun dengan prinsip profesionalisme, transparansi, dan akuntabilitas sehingga mampu bertahan melampaui siklus politik internal organisasi.
Kegelisahan berikutnya berkaitan dengan dakwah. Kita sedang hidup pada zaman ketika jutaan anak muda mencari jawaban keagamaan melalui layar telepon genggam. Suka atau tidak suka, ruang dakwah telah berpindah ke dunia digital. Karena itu saya memandang perlunya sebuah Akademi Da'i Digital NU yang mampu mencetak generasi baru para pendakwah yang menguasai turats sekaligus memahami teknologi. Kita membutuhkan ulama yang mampu membaca kitab kuning sekaligus membaca algoritma. Kita membutuhkan da'i yang memahami sanad keilmuan sekaligus memahami bahasa generasi digital. Sebab jika para muassis dahulu membangun pesantren sebagai benteng peradaban, maka generasi hari ini harus membangun benteng yang sama di ruang digital.
Semua gagasan tersebut pada akhirnya bermuara pada satu hal yang lebih besar, yaitu perlunya meneguhkan kembali mandat global NU sebagai gerakan peradaban dunia. Saya melihat langkah-langkah yang selama ini dilakukan melalui gagasan Fikih Peradaban dan berbagai forum internasional merupakan arah yang tepat dan perlu terus diperkuat. Dunia hari ini tidak hanya membutuhkan organisasi Islam yang besar. Dunia membutuhkan organisasi Islam yang mampu menawarkan solusi. Solusi bagi krisis kemanusiaan, solusi bagi kerusakan lingkungan, solusi bagi polarisasi sosial, dan solusi bagi krisis makna yang melanda manusia modern. Dalam konteks itulah saya merasa semboyan "Merawat Jagat dan Membangun Peradaban" bukan sekadar slogan, melainkan mandat sejarah yang harus terus dijaga.
Pada akhirnya, saya tidak terlalu khawatir apabila suatu hari NU kehilangan popularitas. Saya juga tidak terlalu khawatir apabila NU kehilangan jabatan-jabatan politik. Yang justru saya khawatirkan adalah apabila NU kehilangan alasan mengapa ia dilahirkan oleh para muassisnya. Sebab NU tidak pernah lahir untuk membesarkan NU semata. NU lahir untuk menghadirkan maslahat. NU lahir untuk menjaga agama sekaligus kemanusiaan. NU lahir untuk merawat jagat dan membangun peradaban. Dan selama keberanian untuk berpikir melampaui diri sendiri itu masih hidup, saya yakin Nahdlatul Ulama akan tetap menjadi salah satu ikhtiar terbaik umat dalam mengelola maslahat, mencegah mafsadah, dan menyiapkan masa depan dunia yang lebih baik.
KH Ahmad Nurul Huda Haem, Pengasuh Pesantren Motivasi Indonesia, Burangkeng, Bekasi, Jawa Barat.

2 jam yang lalu
2





English (US) ·
Indonesian (ID) ·