Hilangnya Hutan dan Ekspansi Industri Ekstraktif Perparah Krisis Iklim di Indonesia

2 jam yang lalu 2

Jakarta, NU Online

Manajer Advokasi dan Kampanye, Walhi Riau, Ahlul Fadli mengatakan bahwa deforestasi, alih fungsi ruang, peningkatan emisi gas efek rumah kaca, hingga semakin intensnya bencana ekologis, merupakan sebuah sinyal bahwa krisis iklim saat ini adalah kenyataan yang harus dihadapi Indonesia.


Ahlul menyampaikan bahwa di Sumatera, bentang alam Bukit Barisan yang selama ini menjadi sumber penghidupan masyarakat sekaligus penyangga ekosistem terus mengalami tekanan akibat ekspansi industri ekstraktif.


Dampaknya terlihat dari meningkatnya bencana ekologis seperti banjir dan longsor yang terjadi di berbagai wilayah di Sumatra. Sementara itu, di Riau saat ini terjadi kehilangan hutan alam secara masif dalam tiga dekade terakhir.


Dampaknya terlihat dari meningkatnya bencana ekologis seperti banjir dan longsor yang terjadi di berbagai wilayah di Sumatera. Sementara itu di Riau, saat ini tengah mengalami kehilangan hutan alam secara masif dalam tiga dekade terakhir.

“Di Riau sendiri, selama 30 tahun terakhir, hutan alam yang tadinya lima juta hektare berkurang menjadi 1,3 juta hektare. Riau juga didominasi lahan gambut, hampir seluas 60 persen, yang hingga bulan Oktober berada pada status siaga darurat yang seharusnya diproteksi oleh negara,” ujarnya dalam konferensi pers Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 di Jakarta, pada Jumat (5/6/2026).

“Namun faktanya, ekspansi industri perkebunan kelapa sawit masih masif terjadi yang akhirnya mengorbankan lahan yang seharusnya dapat mengurangi dampak krisis iklim,” sambung Ahlul.


Menurutnya, pemberian izin usaha eksploitasi alam yang terus berlangsung di berbagai wilayah berpengaruh terhadap kondisi lingkungan. Pada saat yang sama, konflik antara masyarakat dan perusahaan terkait penguasaan ruang juga terus terjadi.


“Banjir yang datang hari ini sebenarnya didahului oleh keputusan-keputusan politik mengenai tata ruang. Di saat yang sama, sengketa antara perusahaan dan masyarakat terus terjadi, dan masyarakat yang sering kali dirugikan,” ujarnya.


Sementara itu, Koordinator Mapala Se-Jabodetabeka Nurma Anisa mengatakan bahwa generasi muda memiliki peran penting dalam membangun kesadaran lingkungan sekaligus mendorong perubahan kebijakan.

Baca Artikel Selengkapnya