Mencegah Konflik Rumah Tangga dengan Komunikasi yang Sehat

5 jam yang lalu 4

Pernahkah Anda merasa kesal karena istri seolah tidak memahami apa yang sedang dirasakan? Atau sebaliknya, sudah berusaha menjelaskan dengan baik, tetapi yang terjadi justru salah paham dan berujung pada pertengkaran?

Sering kali masalah dalam rumah tangga bukan bermula dari persoalan besar. Bukan karena kurangnya cinta, bukan pula karena hilangnya rasa sayang. Banyak konflik justru berawal dari hal-hal sederhana yang tidak tersampaikan dengan baik.

Seorang istri sebenarnya sedang membutuhkan bantuan, tetapi memilih diam karena berharap suami peka. Di sisi lain, suami merasa tidak ada masalah karena tidak mendengar keluhan apa pun. Akhirnya, kekecewaan menumpuk sedikit demi sedikit hingga berubah menjadi pertengkaran.

Karena itulah, komunikasi menjadi salah satu fondasi terpenting dalam kehidupan rumah tangga. Ketika komunikasi berjalan sehat, hubungan suami-istri terasa lebih hangat, kebutuhan masing-masing lebih mudah dipahami, dan konflik dapat diselesaikan tanpa harus melukai hati satu sama lain.

Sebaliknya, komunikasi yang buruk dapat menjadi pintu masuk bagi berbagai masalah yang sebenarnya tidak perlu terjadi. Bahkan berbagai data perceraian menunjukkan bahwa buruknya komunikasi menjadi salah satu faktor yang kerap memperbesar konflik dalam keluarga, hingga bisa berujung pada perceraian. 

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa sepanjang tahun 2024 terjadi 399.921 kasus perceraian di Indonesia. Yang lebih memprihatinkan, menurut keterangan Penyuluh Hukum Madya BPHN (Badan Pembinaan Hukum Nasional), lebih dari 64 persen perceraian dipicu oleh perselisihan dan pertengkaran yang terus-menerus.

Angka tersebut mengingatkan kita bahwa keretakan rumah tangga sering kali tidak berawal dari masalah besar. Banyak konflik justru tumbuh dari kesalahpahaman yang dibiarkan berlarut-larut, komunikasi yang tidak sehat, serta ketidakmampuan pasangan dalam mengelola perbedaan yang muncul dalam kehidupan sehari-hari.

Bagi keluarga yang telah memiliki anak, dampak konflik tentu tidak hanya dirasakan oleh suami dan istri. Anak-anak juga ikut menyerap suasana rumah yang penuh ketegangan. Mereka melihat, mendengar, dan merasakan apa yang terjadi di antara kedua orang tuanya.

Karena itu, menjaga keutuhan rumah tangga bukan hanya tentang mempertahankan hubungan suami-istri, melainkan juga tentang menghadirkan lingkungan yang aman dan menenangkan bagi tumbuh kembang anak-anak.

Dalam Islam, ikatan pernikahan sangat dijaga. Meski perceraian dibolehkan ketika memang menjadi jalan terakhir, Islam tidak menjadikannya sebagai pilihan yang ringan untuk diambil. Rasulullah SAW bersabda:


 
اَبْغَضُ الْحَلاَلِ اِلَى اللهِ الطَّلاَقُ

Artinya: “Perkara halal yang paling dibenci Allah adalah talak.” (HR. Imam Abu Dawud).


Tiga Gaya Komunikasi yang Sering Muncul di Rumah

Dalam kehidupan sehari-hari, cara kita berbicara ternyata sangat memengaruhi suasana rumah. Kata-kata yang sama bisa menghasilkan respon yang berbeda tergantung bagaimana cara menyampaikannya.

Para pakar komunikasi umumnya membagi gaya komunikasi menjadi tiga bentuk: pasif, agresif, dan asertif.

1. Gaya Komunikasi Pasif

Gaya komunikasi pasif biasanya ditandai dengan kesulitan mengungkapkan perasaan atau kebutuhan secara jelas.

Contohnya sangat dekat dengan kehidupan pasangan suami-istri.

Suami bertanya, "Bunda mau makan apa?"

Istri menjawab, "Terserah."

Ketika ditanya lagi, jawabannya tetap sama.

"Terserah."

Padahal dalam hati sebenarnya berharap suami memahami keinginannya. Kalimat "terserah" sering kali terdengar sederhana. Namun jika terus-menerus digunakan, pasangan justru kesulitan memahami apa yang sebenarnya kita rasakan. Akibatnya, salah paham lebih mudah terjadi.

2. Gaya Komunikasi Agresif

Berbeda dengan gaya pasif, gaya agresif sangat jelas dalam menyampaikan keinginan. Sayangnya, kejelasan itu sering disertai nada menyalahkan, merendahkan, atau melukai perasaan pasangan.

Misalnya ketika suami melihat pengeluaran rumah tangga membengkak lalu berkata:

"Kamu itu egois! Cari uang susah, tapi uang belanja baru dua puluh hari sudah habis."

Pesan yang ingin disampaikan mungkin benar. Namun cara penyampaiannya membuat pasangan merasa diserang. Akibatnya, yang muncul bukan solusi, melainkan pertahanan diri dan pertengkaran.

3. Gaya Komunikasi Asertif

Inilah gaya komunikasi yang paling sehat untuk dibangun dalam keluarga.

Asertif berarti mampu menyampaikan kebutuhan dan perasaan dengan jelas tanpa merendahkan pasangan.

Misalnya seorang istri berkata:

"Mas, hari ini saya cukup lelah mengurus anak-anak. Bisa bantu merapikan tempat tidur mereka? Saya ingin menyelesaikan cucian dulu."

Kalimat ini tetap tegas. Tetap jelas. Namun tidak menyalahkan dan tidak memaksa.​​​​​​​ Dalam komunikasi asertif, seseorang menghargai dirinya sendiri sekaligus menghargai orang lain. Ia berani menyampaikan kebutuhan, tetapi tetap menjaga perasaan pasangan.


Pentingnya Komunikasi Sehat bagi Pasutri dalam Perspektif Islam

Dalam Islam pun, nilai-nilai tentang pentingnya komunikasi sehat bagi pasutri merupakan salah satu dari ajaran yang didengungkan. Iya, meskipun, sejauh penelusuran penulis, belum menemukan uraian yang secara eksplisit mengklasifikasikan komunikasi sebagaimana yang telah dikemukakan. 

Allah SWT berfirman dalam Surat Ar-Rum ayat 21:

وَمِنْ اٰيٰتِهٖٓ اَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوْٓا اِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَّوَدَّةً وَّرَحْمَةًۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ

Artinya, "Di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah bahwa Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari (jenis) dirimu sendiri agar kamu merasa tenteram kepadanya. Dia menjadikan di antaramu rasa cinta dan kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir." (QS. Ar-Rum [30]:  21).

Ayat ini mengisyaratkan bahwa dalam membangun atau menciptakan komunikasi sehat dalam konteks hubungan pasutri harus berasaskan saling rasa cinta (mawadah) dan saling kasih sayang (rahmah). Tujuannya jelas, kenapa komunikasi sehat harus dibangun, supaya tercipta rasa tenteram (sakinah) dan konflik karena faktor komunikasi buruk pun bisa kita hindari.

Berkaitan dengan berasaskan saling rasa cinta dan kasih sayang, penjelasan Imam Baghawi berikut menarik untuk kita simak.

لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً: جَعَلَ بَيْنَ الزَّوْجَيْنِ الْمَوَدَّةَ وَالرَّحْمَةَ فَهُمَا يَتَوَادَّانِ وَيَتَرَاحَمَانِ

Artinya, "Agar kamu merasa tenteram kepadanya. Dia menjadikan di antaramu rasa cinta dan kasih sayang, yakni Dia (Allah) menjadikan rasa cinta dan kasih sayang di antara pasangan suami-istri. Maka, keduanya (hendaknya) saling mencintai dan menyayangi." (Abu Muhammad Baghawi. Tafsirul Baghawi, [Riyadh: Dar Thaibah, 1997], jilid VI, hlm. 266).

Lebih jauh lagi, jika membaca cara Nabi Muhammad SAW berkomunikasi, khususnya bagaimana beliau berkomunikasi dengan para istrinya, kita akan melihat teladan agung yang bisa kita ikuti. Hadits yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi ini menggambarkan seperti apa cara Nabi Muhammad SAW berkomunikasi.

Mari simak hadits berikut:

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ مَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْرُدُ سَرْدَكُمْ هَذَا وَلَكِنَّهُ كَانَ يَتَكَلَّمُ بِكَلَامٍ بَيْنَهُ فَصْلٌ يَحْفَظُهُ مَنْ جَلَسَ إِلَيْهِ 
 
 

Artinya, “Diceritakan dari Siti ‘Aisyah, dia berkata, ‘Rasulullah SAW tidak pernah berbicara dengan terburu-buru seperti pembicaraan kalian ini. Akan tetapi beliau berbicara dengan penjelasan yang terperinci (jelas) dan dapat dihafal oleh orang yang duduk bersamanya'.” (HR. Imam At-Tirmidzi).

Perhatikan gaya komunikasi yang tergambar dalam hadits ini. Jika kita cermati, gaya ini mirip dan bahkan sudah memenuhi ciri-ciri dari gaya asertif. Jelas, lugas, dan dapat dimengerti oleh pendengarnya. 

Artinya, Nabi Muhammad SAW telah memakai gaya komunikasi yang seeimbang antara menghormati diri sendiri dan menghormati orang lain, sebagaimana ciri dari gaya komunikasi asertif di muka.

Penjelasan lebih detail tentang gaya komunikasi Nabi Muhammad SAW dijelaskan oleh Syekh Muhammad Abdurrahman dalam kitab Tuhfatul Ahwadzi. Berikut redaksinya:

وَالْمَعْنَى لَمْ يَكُنْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُتَابِعُ الْحَدِيثَ اسْتِعْجَالًا بَعْضَهُ إِثْرَ بَعْضٍ لِئَلَّا يَلْتَبِسَ على المستمع زاد الاسماعيلي من رواية بن الْمُبَارَكِ عَنْ يُونُسَ إِنَّمَا كَانَ حَدِيثُ رَسُولِ الله صلى الله عليه وسلم فصلا فَهْمًا تَفْهَمُهُ الْقُلُوبُ كَذَا فِي الْفَتْحِ (يُبَيِّنُهُ) صِفَةٌ لِكَلَامٍ أَيْ كَانَ يَتَكَلَّمُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِكَلَامٍ يُوَضِّحُهُ (فَصْلٍ) صِفَةٌ ثَانِيَةٌ لِكَلَامٍ أَيْ بَيِّنٌ ظَاهِرٌ يَكُونُ بَيْنَ أَجْزَائِهِ فَصْلٌ

Artinya, "Makna (hadits tersebut) adalah bahwa Rasulullah SAW tidak pernah berkomunikasi dengan kalimat yang tergesa-gesa supaya tidak ada yang mendengar tidak kebingungan. Imam al-Isma'ili dari riwayat Imam Ibnu Mubarak dari riwayat Imam Yunus bahwa komunikasi Rasulullah hanya bermuatan kalimat yang jelas yang dapat dipahami oleh setiap hati. 

"Kata (yubayyinuhu) adalah sifat dari kata kalām. Artinya, ciri kalām (gaya berkomunikasi) Rasulullah SAW bersifat tegas. Dan kata (fashlun) adalah sifat kedua dari kata kalām. Maksudnya, gaya berkomunikasinya juga dengan kalimat yang jelas dimana antara bagian-bagian kalimat terperinci." (Syekh Muhammad Abdurrahman, Tuhfatul Ahwadzi, [Beirut: Darul Kutub al-Ilmiyah, 1353 H], jilid X, hlm. 86).

Secara sederhana, gaya komunikasi Nabi SAW berorientasi pada penghormatan kepada lawan interaksi. Bertumpu pada kalimat yang jelas, lugas, jauh dari kata terburu-buru sehingga siapa saja lawan interaksinya dapat memahaminya dengan baik. Pesan tersampaikan dengan maksimal. Komunikasi sehat pun tercipta.


Walhasil, komunikasi yang sehat adalah salah satu kunci menjaga kehangatan rumah tangga. Komunikasi yang dibangun di atas rasa cinta dan kasih sayang, yang menghormati diri sendiri tanpa merendahkan pasangan, serta disampaikan dengan jelas, tenang, dan penuh empati. Dengan membiasakan cara berkomunikasi seperti ini, konflik yang tidak perlu dapat diminimalkan dan hubungan suami-istri pun semakin kuat.

Lebih dari itu, komunikasi yang baik tidak hanya berdampak pada pasangan, tetapi juga pada anak-anak yang setiap hari menyaksikan interaksi orang tuanya. Dari ayah dan ibunya, mereka belajar tentang cara menghargai orang lain, menyelesaikan perbedaan, dan membangun hubungan yang sehat. 

Karena itu, mari menjaga lisan dan cara berkomunikasi sebagai ikhtiar sederhana untuk menghadirkan keluarga yang sakinah, penuh mawaddah dan rahmah. Wallahu a'lam.

-------------
Syifaul Qulub Amin, alumnus PP Nurul Cholil, Sekarang Aktif Menjadi Perumus LBM PP Nurul Cholil dan Editor Website PCNU Bangkalan.

Baca Artikel Selengkapnya