Huntara Rusak, Ansor Aceh Minta Pemerintah Percepat Hunian Tetap bagi Warga Langkahan

6 jam yang lalu 6

Banda Aceh, NU Online

Penderitaan warga korban banjir di Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara, kembali bertambah. Setelah kehilangan rumah akibat banjir bandang pada akhir tahun 2025, kini puluhan hunian sementara (huntara) yang mereka tempati kembali rusak diterjang angin kencang.

Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) mencatat hingga Jumat (5/6/2026), jumlah huntara yang rusak telah mencapai 66 unit. Dari jumlah tersebut, delapan unit mengalami kerusakan akibat cuaca ekstrem dalam beberapa hari terakhir, terdiri atas enam unit rusak berat dan dua unit rusak ringan di Gampong Rumoh Rayeuk dan Buket Linteung, Kecamatan Langkahan.

Sebelumnya, pada Selasa (2/6/2026), sebanyak 58 unit huntara juga mengalami kerusakan akibat angin kencang yang melanda kawasan tersebut.

Ketua PW GP Ansor Aceh H Azwar A Gani menyampaikan keprihatinan mendalam atas kondisi yang dialami masyarakat Langkahan yang hingga kini masih berjuang bangkit dari dampak banjir besar yang melanda wilayah tersebut pada akhir tahun lalu.

“Ini adalah ujian berlapis yang dialami masyarakat. Setelah kehilangan rumah akibat banjir bandang, kini huntara yang menjadi tempat berlindung sementara juga mengalami kerusakan akibat cuaca ekstrem. Kondisi ini membutuhkan perhatian serius dari semua pihak,” ujar Azwar, Jumat (5/6/2026).

Menurutnya, bertambahnya jumlah huntara yang rusak menunjukkan bahwa warga masih hidup dalam kondisi rentan dan membutuhkan percepatan penanganan yang lebih komprehensif.

Ia menilai hunian sementara sejatinya hanya menjadi solusi darurat dalam jangka pendek. Karena itu, pembangunan hunian tetap bagi para korban banjir harus segera direalisasikan agar masyarakat memiliki tempat tinggal yang aman dan layak.

“Pemerintah perlu mempercepat pembangunan hunian tetap. Jangan sampai masyarakat terlalu lama bertahan di huntara yang secara konstruksi memang tidak dirancang untuk menghadapi kondisi cuaca ekstrem secara terus-menerus,” katanya.

Azwar juga mengapresiasi langkah cepat pemerintah daerah, BPBD, dan berbagai pihak yang terus melakukan pendataan, evakuasi, serta penanganan terhadap warga terdampak.

Namun demikian, ia berharap pemerintah pusat dapat memberikan dukungan lebih besar agar proses rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana berjalan lebih cepat.

Menurutnya, persoalan yang dihadapi warga Langkahan bukan hanya soal kerusakan bangunan, tetapi juga menyangkut aspek psikologis dan sosial masyarakat yang sudah berbulan-bulan hidup dalam ketidakpastian.

“Anak-anak, lansia, dan perempuan menjadi kelompok yang paling rentan dalam situasi seperti ini. Karena itu, pemulihan pascabencana harus dilakukan secara menyeluruh, bukan hanya membangun kembali fisik bangunan,” ujarnya.

Azwar juga mengajak organisasi sosial, lembaga kemanusiaan, dunia usaha, dan masyarakat luas untuk memperkuat solidaritas membantu warga yang terdampak.

“Semangat gotong royong merupakan kekuatan utama masyarakat Aceh dalam menghadapi bencana. Kita berharap seluruh elemen bangsa dapat hadir membantu saudara-saudara kita yang sedang mengalami kesulitan,” katanya.

Ia berharap cuaca ekstrem tidak kembali memperburuk kondisi warga yang masih tinggal di huntara dan pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk mempercepat pembangunan hunian tetap.

“Korban banjir di Langkahan tidak boleh terus-menerus hidup dalam ketidakpastian. Mereka berhak mendapatkan tempat tinggal yang aman, layak, dan bermartabat. Ini menjadi tanggung jawab bersama yang harus segera diwujudkan,” pungkasnya.

Baca Artikel Selengkapnya