Jakarta (ANTARA) - Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian menilai pendekatan proaktif melalui pertemuan langsung (direct engagement) dengan investor global menjadi langkah strategis untuk memperbaiki persepsi pasar terhadap ekonomi Indonesia.
Pertemuan Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo dengan institusi besar seperti BlackRock di New York, AS, dinilai kian relevan di tengah dinamika pasar global yang kompleks dan penuh ketidakpastian.
"Pendekatan langsung seperti ini efektif untuk memperbaiki narrative gap antara kondisi domestik dan persepsi investor global. Dalam pasar yang sangat dipengaruhi sentimen dan story, komunikasi yang presisi menjadi krusial," ujar Fakhrul kepada ANTARA di Jakarta, Rabu.
Meski demikian, ia memberikan catatan langkah tersebut bukan satu-satunya faktor penentu dalam membentuk persepsi pasar.
"Ini bukan pengganti fundamental. Market noise tidak bisa sepenuhnya dilawan hanya dengan komunikasi, tetap dibutuhkan konsistensi kebijakan dan eksekusi di lapangan," katanya.
Fakhrul menilai pendekatan issuer-investor engagement seperti ini mencerminkan pergeseran strategi komunikasi kebijakan yang kini semakin proaktif dan adaptif terhadap praktik global.
"Kita mulai melihat Indonesia bergerak dari pola komunikasi yang reaktif menjadi lebih forward-looking. Ini mendekati praktik institusi global seperti Goldman Sachs, di mana pengelolaan ekspektasi pasar menjadi bagian dari kebijakan itu sendiri," jelasnya.
Sebab, dalam konteks saat ini kebijakan tidak hanya soal substansi, tetapi juga bagaimana kebijakan tersebut dikomunikasikan dan dipahami oleh pasar.
Dalam pertemuan tersebut, Menkeu juga menyampaikan adanya lonjakan penawaran terhadap Surat Berharga Negara (SBN).
Terkait permintaan lelang SBN yang mencapai Rp78,44 triliun itu, Fakhrul menilai faktor eksternal masih memainkan peran signifikan dalam jangka pendek.
Menurut dia, peningkatan permintaan SBN tak bisa lepas dari membaiknya sentimen global yang kembali optimis.
Ekspektasi terhadap eskalasi konflik geopolitik, khususnya terkait dinamika AS dan Iran, mulai mereda seiring adanya upaya diplomasi yang menurunkan premi risiko global.
"Hal ini mendorong aliran dana kembali ke emerging markets, termasuk Indonesia,” ujarnya.
Meski demikian, Fakhrul mengingatkan pentingnya membedakan antara perbaikan sentimen jangka pendek dan pemulihan kepercayaan yang bersifat struktural.
"Ini adalah window of opportunity. Tantangannya adalah bagaimana momentum ini dikonversi menjadi sticky capital melalui reformasi berkelanjutan dan pendalaman pasar keuangan domestik," kata Fakhrul.
Baca juga: Menkeu Purbaya yakinkan investor global soal ketahanan fiskal RI
Baca juga: Di depan investor global, Gubernur BI tegaskan kebijakan RI "on track"
Baca juga: BI komitmen optimalkan seluruh instrumen operasi moneter
Pewarta: Bayu Saputra
Editor: Kelik Dewanto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.









English (US) ·
Indonesian (ID) ·