Ekonom nilai bank perlu jaga keseimbangan di tengah gejolak pasar

1 jam yang lalu 2

Jakarta (ANTARA) - Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede memandang industri perbankan perlu menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan kehati-hatian di tengah gejolak pasar keuangan yang terjadi belakangan ini.

Menurutnya, bank sebaiknya tidak terlalu agresif mengejar pertumbuhan kredit di tengah gejolak, tetapi juga tidak terlalu defensif hingga menghambat pembiayaan ekonomi.

"Strategi yang tepat adalah menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan kehati-hatian. Kredit perlu diarahkan ke sektor yang memiliki arus kas kuat, permintaan domestik stabil, pendapatan ekspor, atau keterkaitan dengan program produktif pemerintah," kata Josua saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Senin.

Di sisi lain, menurutnya, pemerintah dan otoritas juga perlu menjaga kepercayaan pasar melalui komunikasi kebijakan yang konsisten, disiplin fiskal, stabilitas rupiah, dan kepastian regulasi.

"Jika kepercayaan pasar pulih, kinerja perbankan pada paruh kedua tahun ini masih berpeluang tetap solid," kata dia.

Secara umum, Josua menilai kemampuan perbankan saat ini untuk meredam gejolak jauh lebih kuat dibandingkan periode krisis besar sebelumnya.

Setelah krisis 1998 dan berbagai penguatan pengawasan sektor keuangan, catat dia, bank memiliki modal lebih tebal, pengelolaan risiko lebih baik, cadangan kerugian lebih memadai, serta pengawasan yang lebih ketat dari otoritas.

Rasio kecukupan modal yang masih tinggi dinilai menjadi bantalan penting apabila terjadi penurunan kualitas kredit atau tekanan pasar surat berharga.

Selain itu, likuiditas juga masih memadai, sehingga bank tidak berada dalam posisi terpaksa menarik pembiayaan dari sektor riil secara mendadak.

"Ini menjadi pembeda utama dibandingkan periode krisis ketika perbankan jauh lebih rapuh," jelas dia.

Meski demikian, Josua mengingatkan ketahanan perbankan tidak boleh membuat pelaku pasar lengah. Menurutnya, risiko terbesar saat ini bukan berasal dari kelemahan perbankan itu sendiri, tetapi dari penurunan kepercayaan terhadap aset rupiah dan arah kebijakan ekonomi.

Jika kepercayaan pasar terhadap rupiah, fiskal, dan stabilitas kebijakan melemah, ia mengatakan bahwa tekanan dapat menjalar ke biaya dana, bunga kredit, permintaan kredit, dan kualitas debitur.

"Karena itu, perbankan perlu menjaga likuiditas secara konservatif, memperketat pemantauan debitur yang rentan kurs dan suku bunga, meningkatkan cadangan kerugian secara memadai, serta tetap menyalurkan kredit secara selektif ke sektor produktif," kata Josua.

Kredit perbankan pada April 2026 tumbuh sebesar 9,98 persen secara tahunan (yoy) menjadi sebesar Rp8.755 triliun, merujuk data Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Berdasarkan jenis penggunaan, kredit investasi tumbuh tertinggi yaitu sebesar 19,48 persen, diikuti oleh kredit konsumsi sebesar 6,13 persen, sedangkan kredit modal kerja sebesar 6,04 persen.

Di sisi lain, dana pihak ketiga (DPK) tumbuh sebesar 11,39 persen (yoy) menjadi Rp10.077 triliun, dengan giro, deposito dan tabungan masing-masing tumbuh sebesar 16,99 persen (yoy), 8,65 persen (yoy), dan 9,00 persen (yoy).

Kualitas kredit tetap terjaga dengan rasio NPL gross sebesar 2,17 persen dan NPL net terjaga di level 0,84 persen. Sementara itu, capital adequacy ratio (CAR) sebesar 23,97 persen, menandakan ketahanan permodalan perbankan yang kuat sebagai bantalan mitigasi risiko yang memadai.

Baca juga: Ekonom: Kinerja bank kuartal II terjaga meski ruang tumbuh terbatas

Baca juga: OJK pastikan tidak ada potensi "bank rush" di tengah pelemahan rupiah

Baca juga: Pengamat: Pemangkasan BI Rate positif ke sektor riil dan perbankan

Pewarta: Rizka Khaerunnisa
Editor: Kelik Dewanto
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Baca Artikel Selengkapnya