Dulu Sembunyi, Sekarang Terang-Terangan: Strategi CIA Ubah Hasil Pemilu Dunia Terungkap

2 jam yang lalu 1

Logo Central Intelligence Agency terlihat di lobi markas mata mata tersebut di Langley, Virginia.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Demokrasi global sedang menghadapi paradoks yang kian terang: pemilu yang seharusnya menjadi ekspresi kedaulatan rakyat justru kerap menjadi arena kontestasi kekuatan asing. Jika dahulu intervensi dilakukan secara senyap melalui operasi intelijen, kini praktik tersebut semakin terbuka, bahkan kerap disampaikan tanpa rasa canggung di ruang publik.

Sejarah mencatat, praktik campur tangan dalam pemilu bukanlah fenomena baru. Pada era Perang Dingin, Amerika Serikat melalui CIA secara sistematis melakukan operasi tersembunyi untuk memengaruhi hasil pemilu di berbagai negara. Salah satu contohnya terjadi di Jepang pada 1958, ketika Washington berupaya memastikan kemenangan kubu pro-Barat dengan cara yang begitu tertutup hingga baru terungkap puluhan tahun kemudian.

Pendekatan serupa juga terjadi di Italia pascaperang. Ketika ancaman komunisme menguat, pemerintah AS menggelontorkan dana besar dan menjalankan propaganda rahasia untuk mendukung kandidat yang sejalan dengan kepentingannya. Logika di balik operasi ini sederhana: menjaga keseimbangan kekuasaan global dengan memastikan negara-negara kunci tetap berada dalam orbit politik Barat.

Namun, satu prinsip yang hampir selalu dijaga pada masa itu adalah kerahasiaan. Para perancang operasi memahami bahwa keterlibatan asing, jika terungkap, justru dapat memicu reaksi negatif dari pemilih. Demokrasi, dalam logika ini, tetap harus terlihat murni, meski di balik layar terjadi rekayasa yang kompleks.

Kini, lanskap tersebut berubah secara drastis. Dalam beberapa tahun terakhir, praktik intervensi pemilu memasuki fase baru: dari operasi tersembunyi menuju dukungan terbuka. Pernyataan politik lintas negara, kampanye melalui media sosial, hingga sinyal diplomatik terang-terangan menjadi instrumen baru dalam memengaruhi opini publik di negara lain.

Langkah mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump menjadi ilustrasi paling gamblang dari perubahan ini. Ia secara terbuka memberikan dukungan kepada kandidat asing, mulai dari Jepang hingga Eropa Timur, dengan bahasa yang nyaris identik dengan kampanye domestik. Dukungan yang dahulu disampaikan melalui saluran rahasia, kini diumumkan secara publik, bahkan melalui media sosial.

Baca Artikel Selengkapnya