KJRI Chengdu akan fokus tingkatkan kerja sama RI-China barat daya

2 jam yang lalu 1

Beijing (ANTARA) - Duta Besar Republik Indonesia untuk Tiongkok dan Mongolia Djauhari Oratmangun menyebut pembukaan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Chengdu semakin dekat dengan fokus peningkatan kerja sama di China barat daya.

"Pada Maret 2026, Presiden RI telah menandatangani Peraturan Presiden No. 10 Tahun 2026 yang menjadi dasar pembukaan KJRI Chengdu. Hal ini merefleksikan prioritas Indonesia untuk terus meningkatkan kerja sama strategis antara Indonesia dengan kawasan Tiongkok barat daya, dengan Chengdu di provinsi Sichuan sebagai 'gateway-nya'," kata Dubes Djauhari dalam keterangan tertulis.

Hal itu disampaikan sang dubes saat bertemu dengan "Party Secretary" Partai Komunis China di provinsi Sichuan Wang Xiaohui di Chengdu, provinsi Sichuan pada Jumat (17/4).

"Dengan besarnya potensi Indonesia dan provinsi Sichuan, ada banyak bidang kerja sama yang dapat terus kita kembangkan, termasuk industri dan hilirisasi, energi terbarukan seperti solar panel, o bat-obatan dan kesehatan, pengembangan 'battery storage' dan ekosistem energi," tambah Dubes Djauhari.

Dubes Djauhari menambahkan bahwa hubungan antar masyarakat juga menjadi pilar penting kerja sama Indonesia-Sichuan, baik melalui pendidikan, pariwisata dan budaya.

"Tahun lalu bayi panda yang diberi nama 'Ksatrio' atau 'Rio' lahir di Taman Safari Bogor, menjadi simbol persahabatan yang kuat antara Indonesia-China, khususnya Sichuan, mengingat Sichuan merupakan pusat konservasi panda," ungkap dia.

Selain itu, sektor pariwisata juga menjadi bidang kerja sama yang sangat menjanjikan karena sudah dibukanya penerbangan langsung dari Chengdu ke Jakarta dan Bali.

Sedangkan 'Party Secretary' PKC Wang Xiaohui mengatakan provinsi Sichuan merupakan provinsi dengan ekonomi terbesar ke-6 di China. Produk Domestik Bruto (PDB) Sichuan pada 2025 mencapai sekitar 1 triliun dolar AS dengan pertumbuhan ekonomi 5,5 persen atau 0.5 persen lebih tinggi dari pertumbuhan nasional China.

Selain itu, KBRI Beijing juga mengadakan program sosialisasi di Chengdu bertajuk "Indonesia Updates: Partnership for Resilience" yang dihadiri seratusan undangan dari kalangan media, pengusaha, dan akademisi serta perwakilan pemerintah.

"Tahun lalu, perdagangan Indonesia-provinsi Sichuan mencapai lebih dari 2,1 miliar dolar AS. Dengan pembukaan ini, Chengdu akan menjadi titik penghubung penting bagi penguatan kerja sama tidak hanya bidang ekonomi, perdagangan dan investasi, tapi juga sektor kesehatan, transformasi industri dan energi, pendidikan dan juga pariwisata", ungkap Dubes Djauhari dalam acara tersebut.

Koordinator Fungsi Ekonomi KBRI Beijing, Anindityo Adi Primasto, dalam acara yang sama, menekankan bahwa dengan komposisi penduduk usia muda yang besar, sumber daya alam melimpah, dan kebijakan ekonomi pemerintah RI menjadikan Indonesia tidak hanya mitra ekonomi menjanjikan, tapi juga saling melengkapi bagi Sichuan.

Sementara untuk sektor pendidikan, Atase Pendidikan di KBRI Beijing Lestari Puspitaningsih menyampaikan bahwa kerja sama pendidikan kedua negara semakin intensif.

"Makin banyak mahasiswa Tiongkok yang berminat belajar di Indonesia, termasuk dengan memanfaatkan beasiswa Darmasiswa," kata Lestari.
`
Selanjutnya Atase Imigrasi KBRI Beijing Herawan Sukoaji menjelaskan bahwa kebijakan imigrasi Indonesia juga mendukung upaya penguatan kerja sama ekonomi dan "people-to-people".

"Fasilitas 'golden visa' memberikan kesempatan bagi investor, inovator dan diaspora Indonesia untuk tinggal di Indonesia selama 5-10 tahun untuk berinvestasi dan mendukung pembangunan di Indonesia," ungkap Herawan.

Perwakilan Pemerintah Provinsi Sichuan, Liu Min dalam acara tersebut menekankan kesiapan Sichuan untuk meningkatkan kerja sama dengan Indonesia.

KBRI Beijing juga mempromosikan durian beku Indonesia yang telah masuk pasar China sejak Januari 2026 dan berbagai produk makanan dan minuman Indonesia lainnya seperti chips, kerupuk, kopi, dll.

Secara keseluruhan, perdagangan bilateral Indonesia-China pada 2025 mencapai lebih dari 167 miliar dolar AS atau sekitar Rp2.862 triliun, sedangkan investasi mencapai 7,5 miliar dolar AS atau sekitar Rp128,5 triliun.

Provinsi Sichuan dikenal memiliki kapasitas industri di bidang elektronik, energi terbarukan, kereta api dan transportasi, fotovoltaik, kimia, dan AI. Sichuan juga memiliki industri baterai yang menguasai 10 persen produksi baterai dunia.

Provinsi Sichuan juga sudah memiliki kerja sama "provinsi kembar" dengan Jawa Barat, sementara itu Chengdu memiliki kerja sama "kota kembar" dengan Medan.

Selain Provinsi Sichuan, KJRI Chengdu nantinya akan menangani kerja sama dengan kota Chongqing, provinsi Yunnan, provinsi Shaanxi dan provinsi Gansu.

Indonesia saat ini sudah memiliki tiga Konsulat Jenderal di China yaitu di Guangzhou, Shanghai dan Hong Kong. Sementara beberapa negara ASEAN lain telah memiliki lebih dari dua konsulat. Thailand misalnya memiliki delapan konsulat, Vietnam memiliki lima konsulat dan Malaysia punya sembilan konsulat.

Pewarta: Desca Lidya Natalia
Editor: Aditya Eko Sigit Wicaksono
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Baca Artikel Selengkapnya