Dominasi Senat Amerika Runtuh, Politisi Republik: Momentum Bergeser ke Partai Demokrat

2 jam yang lalu 1

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Kecemasan mulai mengemuka di kalangan Partai Republik menjelang pemilihan Senat Amerika Serikat. Sejumlah politisi dan ahli strategi mengakui, mayoritas mereka di Senat tidak lagi seaman yang diperkirakan sebelumnya, terutama di tengah tekanan ekonomi dan konflik geopolitik yang belum mereda.

Wawancara dengan sejumlah tokoh Partai Republik, ketua partai, serta ahli strategi di berbagai negara bagian menunjukkan adanya kekhawatiran yang terus meningkat. Mereka menilai, semakin lama konflik dengan Iran berlangsung dan ekonomi tetap lesu, semakin berat upaya mempertahankan dominasi di Senat.

“Momentum telah bergeser ke Partai Demokrat,” kata Jason Roe, seorang ahli strategi Partai Republik yang berbasis di Michigan.

Meski demikian, Partai Demokrat juga tidak sepenuhnya di atas angin. Mereka masih menghadapi tantangan besar untuk merebut kendali parlemen. Namun, perubahan dinamika politik nasional membuat persaingan menjadi jauh lebih ketat dibandingkan beberapa bulan sebelumnya.

“Partai Republik memiliki kandidat terbaik yang mereka miliki dalam waktu yang lama, tetapi menghadapi tantangan serius,” kata ahli strategi Partai Republik New Hampshire, Mike Dennehy.

Seorang tokoh Partai Republik dari Georgia bahkan mengakui ketidaknyamanan yang berkembang di internal partai. “Saya tidak akan mengatakan bahwa saya merasa nyaman dan senang dengan keadaan saat ini,” ujarnya, seraya meminta identitasnya dirahasiakan, sebagaimana diberitakan Politico.

Awalnya, peta politik pemilihan paruh waktu dinilai menguntungkan Partai Republik. Partai Demokrat diperkirakan harus bekerja keras mempertahankan seluruh kursi mereka, sekaligus merebut sejumlah kursi dari kubu lawan.

Namun, kondisi nasional yang memburuk, dipicu oleh kenaikan biaya hidup dan konflik Iran, telah mengubah kalkulasi tersebut. Para kandidat Demokrat dinilai tampil lebih kuat, sementara sentimen publik menjadi lebih sulit diprediksi.

Roe mengingatkan, lonjakan harga bahan bakar akibat konflik Iran berpotensi memicu kemarahan publik. Dennehy menilai situasi dapat berubah jika mantan Presiden Donald Trump mampu meningkatkan popularitasnya secara signifikan di mata pemilih, sebagaimana diberitakan The Wall Street Journal.

Baca Artikel Selengkapnya