BI: PDB global 2026 akan lebih lambat, tetapi inflasi meningkat

5 hari yang lalu 3
PDB global akan lebih lambat dibanding 2025, tapi inflasinya lebih tinggi. Ini kondisi yang tidak terlalu bagus buat ekonomi global ya, namanya stagflasi

Jakarta (ANTARA) - Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengatakan dampak perang AS-Israel dengan Iran membuat produk domestik bruto (PDB) global tahun 2026 akan lebih lambat, tetapi level inflasi bakal lebih tinggi.

Ekonomi dunia 2026 diperkirakan melambat jadi 3,1 persen dari prakiraan sebelumnya sekitar 3,2 persen. Adapun tekanan inflasi global diprediksi naik dari 3,8 persen menjadi 4,1 persen.

“PDB global akan lebih lambat dibanding tahun 2025, tapi inflasinya akan lebih tinggi. Jadi ini, ini kondisi yang tidak terlalu bagus buat ekonomi global ya, namanya stagflasi. Ekonomi yang stagnan, inflasinya naik,” kata dia dalam agenda Central Banking Forum 2026 di Jakarta, Senin.

Dia mengungkapkan bahwa dampak perang ke global melalui jalur finansial, komoditas dan perdagangan.

Untuk pasar finansial, perang tersebut dinilai memberikan dampak tak langsung sangat besar. Dampak tidak langsung yang sangat besar disebabkan keterlibatan AS sebagai pusat keuangan global.

Baca juga: BI prakirakan kinerja penjualan eceran pada Maret 2026 tetap tumbuh

Baca juga: BI: Tekanan harga komoditas global berdampak baik untuk Indonesia

Selain itu posisi strategis Iran di kawasan tersebut memicu ketidakpastian pasar keuangan global, sehingga meningkatkan sentimen risiko secara meluas, tak hanya terbatas pada wilayah yang berkonflik.

Kondisi tersebut memicu perilaku risk-off di kalangan pelaku pasar, yakni ketika investor cenderung menghindari risiko dan beralih mencari aset yang lebih aman (safe haven activity).

Fenomena ini mengakibatkan aliran modal (capital flow) kembali ke negara-negara maju (advanced economies), yang tercermin pada penguatan indeks dolar (DXY) dan kenaikan imbal hasil (yeild) obligasi AS (US Treasury) yang menyentuh level 4,5-4,6 persen.

Sebaliknya, kata dia, aliran modal ke negara berkembang (emerging markets),termasuk Indonesia, mengalami penurunan.

Meskipun di pasar domestik mulai terdapat aliran masuk di Surat Berharga Negara (SBN), pasar saham, dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), secara keseluruhan Indonesia mencatat arus modal keluar (outflow) sekitar Rp21 triliun.

Perang tersebut turut menekan harga komoditas global akibat kenaikan harga minyak. Kendati kontribusi produksi minyak Iran hanya mencakup 5 persen dari total produksi global, posisi strategis Selat Hormuz sebagai jalur distribusi bagi 20 persen suplai minyak dunia menjadi faktor krusial.

Gangguan distribusi di selat tersebut menyebabkan hambatan pada pasokan minyak dari wilayah Teluk, yang memicu lonjakan harga minyak global.

Ketidakpastian mengenai kesepakatan gencatan senjata antara AS dengan Iran dinilai semakin memperburuk situasi. Kegagalan perundingan yang dilakukan di Pakistan itu telah menyebabkan harga minyak melonjak ke level 100 dolar AS per barel, yang diikuti pelemahan mata uang di tingkat regional maupun global.

Kenaikan harga minyak turut memberikan dampak tak langsung terhadap komoditas lainnya. Mulai dari emas sebagai aset aman (safe haven), hingga komoditas energi dan industri seperti batu bara, aluminium, dan CPO.

Peningkatan harga batu bara juga dipicu oleh langkah sejumlah negara yang mulai menyiapkan energi alternatif untuk mengantisipasi krisis.

Terakhir, dampak terhadap jalur perdagangan juga signifikan. Meskipun statistik pangsa Produk Domestik Bruto (PDB) dan kontribusi ekspor-impor Iran terhadap perdagangan dunia tergolong kecil karena berada di bawah satu persen, posisi geografis di kawasan negara tersebut dinilai memegang peranan vital.

Adanya gangguan di selat itu telah memicu disrupsi rantai pasok global yang merembet ke negara-negara seperti Uni Emirat Arab (UEA) dan Arab Saudi, serta mengganggu pasokan bagi mitra dagang utama Iran seperti Tiongkok, Irak, Turki, dan India.

Kondisi ini memaksa kenaikan biaya pengapalan dan premi asuransi, yang memperburuk stabilitas distribusi barang secara internasional.

Dampak berantai ini menyentuh pula sektor industri hilir seperti kenaikan harga bahan baku plastik dan produk pertanian yang terkait erat dalam sistem produksi dan distribusi global.

“Respons kebijakan (akibat berbagai dampak akibat perang) ini lebih penting. Beberapa negara, melakukan respons kebijakan, fiskalnya akan lebih longgar, pasti akan ke arah sana,” ujar dia.

“Kemudian juga kebijakan moneter yang tadi akan mulai turun ke bawah, mereka akan lebih berhati-hati. Kenapa? Karena masing-masing berlomba-lomba membuat aset logistik itu menjadi menarik. Jadi ini situasi yang dihadapi oleh ekonomi global,” ucap Deputi Gubernur Senior BI.

Baca juga: BI: Perang AS-Iran beri dampak tak langsung ke pasar finansial global

Baca juga: BI: Keyakinan konsumen terhadap ekonomi tetap kuat pada Maret 2026

Pewarta: M Baqir Idrus Alatas
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Baca Artikel Selengkapnya