Analis: Kenaikan suku bunga global tak goyahkan daya tarik pasar Asia

1 jam yang lalu 2

Jakarta (ANTARA) - Equity PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) Caroline Rusli menilai potensi kenaikan suku bunga global tidak serta-merta menghilangkan daya tarik pasar saham Asia di mata investor.

Sebab, pendorong utama kinerja pasar Asia saat ini bukan lagi semata-mata harapan terhadap pelonggaran kebijakan moneter bank sentral AS atau The Fed, melainkan pertumbuhan laba perusahaan yang ditopang oleh perkembangan teknologi, khususnya kecerdasan artifisial (AI).

"Kami memperkirakan walaupun valuasi pasar saham harus dievaluasi ulang akibat kenaikan suku bunga global, pada akhirnya pasar yang mampu menunjukkan pertumbuhan laba riil tetap dapat mempertahankan daya tarik. Kondisi ini menjelaskan mengapa saham Asia tertentu tetap naik meski latar makro tidak ideal," ujar Caroline dalam keterangannya di Jakarta, Senin.

Ia menilai pertumbuhan belanja modal perusahaan teknologi global menjadi salah satu faktor yang menopang prospek kawasan Asia.

Investasi yang terus meningkat dari perusahaan-perusahaan teknologi raksasa diperkirakan akan memberikan dampak positif terhadap rantai pasok di kawasan, terutama industri semikonduktor, komponen elektronik, material canggih, dan infrastruktur pendukung energi.

Di sisi lain, Caroline mengingatkan investor untuk tetap memperhatikan volatilitas yang masih berpotensi terjadi di pasar Asia.

Berdasarkan data 12 bulan berjalan, arus dana asing ke kawasan berkembang Asia sempat mencapai sekitar 229 miliar dolar AS pada akhir 2025, kemudian turun tajam menjadi sekitar 64 miliar dolar AS sebelum kembali pulih ke kisaran 113 miliar dolar AS.

Meski demikian, pasar saham Asia tetap mampu mencatatkan kinerja yang kuat walaupun arus dana asing belum sepenuhnya kembali ke level sebelumnya.

"Kondisi ini menunjukkan pasar mulai ditopang oleh narasi fundamental yang lebih kuat, bukan hanya oleh likuiditas," ujar Caroline.

Lebih lanjut, ia memandang strategi investasi berbasis Asia Pasifik masih relevan bagi investor yang ingin memperoleh eksposur terhadap berbagai sumber pertumbuhan ekonomi di kawasan.

Menurutnya, Asia memiliki katalis pertumbuhan laba yang lebih konkret dibandingkan banyak pasar lainnya, terutama melalui siklus AI dan kekuatan sektor manufaktur.

"Di tengah perubahan arah kebijakan moneter dan risiko geopolitik, pasar saham global kini menuntut selektivitas yang lebih tinggi. Asia terlihat menonjol karena memiliki katalis pertumbuhan laba yang lebih konkret dibanding banyak pasar lain, terutama melalui siklus AI dan kekuatan manufakturnya," katanya.

Pewarta: Bayu Saputra
Editor: Kelik Dewanto
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Baca Artikel Selengkapnya