WHO: Kolera, Demam Berdarah, dan Campak Meluas di Yaman

1 jam yang lalu 5

REPUBLIKA.CO.ID, JENEWA — Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan sistem kesehatan Yaman semakin mendekati titik kritis ketika konflik kembali meningkat dan tiga penyakit menular, yakni kolera, demam berdarah dengue, dan campak, menyebar bersamaan. Ribuan kasus telah tercatat ketika fasilitas kesehatan, obat-obatan, dan kemampuan pelayanan medis justru semakin terbatas.

Direktur Kedaruratan WHO untuk kawasan Mediterania Timur, Annette Heinzelmann, mengatakan kepada wartawan di Jenewa pada Selasa (29/9/2026), lebih dari satu dekade konflik telah melemahkan sistem kesehatan Yaman. Eskalasi terbaru kini memperbesar jumlah korban, memicu gelombang pengungsian baru, dan menambah tekanan terhadap layanan kesehatan yang sebelumnya sudah rapuh.

“Eskalasi terbaru mendorong sistem kesehatan yang sudah rapuh menuju titik kritis,” kata Heinzelmann dalam pengarahan PBB.

WHO mencatat 7.784 kasus suspek kolera atau diare berair akut dengan 22 kematian. Pada saat yang sama, terdapat 9.604 kasus demam berdarah dengue dengan 37 kematian.

Situasi campak dinilai lebih mengkhawatirkan. Lebih dari 22 ribu kasus suspek telah dilaporkan sepanjang tahun ini dengan 128 kematian.

Angka tersebut menunjukkan krisis kesehatan Yaman tidak hanya berasal dari korban langsung konflik. Perpindahan penduduk dalam jumlah besar, buruknya sanitasi, keterbatasan air bersih, dan kepadatan di lokasi pengungsian menciptakan kondisi yang memungkinkan penyakit menular menyebar lebih cepat.

Sistem Kesehatan Menuju Titik Kritis

Bahkan sebelum pertempuran terbaru meningkat, hanya sekitar 60 persen fasilitas kesehatan Yaman yang beroperasi penuh. Kapasitas untuk melakukan operasi trauma, transfusi darah, serta perawatan intensif juga telah sangat terbatas.

WHO melaporkan sembilan fasilitas atau aset kesehatan telah rusak, ditutup, tidak dapat digunakan, atau terkena serangan. Sebagian besar berada di wilayah Taiz, Lahj, dan Al Hudaydah.

Tekanan terhadap rumah sakit bahkan memaksa dua fasilitas di Marib dan Ras Al-Arah menghentikan layanan obstetri darurat komprehensif dan perawatan bayi baru lahir. Tenaga medis dan kapasitas operasional di kedua rumah sakit tersebut dialihkan untuk menangani korban trauma akibat konflik.

Kondisi itu menggambarkan dilema berat fasilitas kesehatan Yaman. Ketika jumlah korban luka akibat perang bertambah, tenaga dan sumber daya yang seharusnya digunakan untuk persalinan, bayi baru lahir, imunisasi, dan penyakit umum harus dialihkan menuju layanan trauma.

Pada saat bersamaan, kebutuhan masyarakat tidak berkurang. Perempuan hamil tetap membutuhkan layanan persalinan, anak-anak memerlukan imunisasi, pasien penyakit kronis membutuhkan obat, sementara penyakit menular terus menyebar.

Lebih dari 180 Ribu Orang Mengungsi

WHO mencatat lebih dari 180.500 orang telah mengungsi di 10 provinsi akibat eskalasi konflik terbaru. Sejak 10 September, lebih dari 3.600 warga Yaman juga telah menyeberang menuju Djibouti, hampir separuh di antaranya anak-anak.

Mitra kemanusiaan bahkan mempersiapkan kemungkinan kedatangan sekitar 5.000 hingga 10 ribu warga Yaman tambahan ke Djibouti dalam beberapa pekan mendatang. Gelombang tersebut berpotensi menambah tekanan terhadap sistem kesehatan Djibouti yang juga menghadapi persoalan malnutrisi, kolera, campak, dan malaria.

PBB sebelumnya memperingatkan kepadatan di lokasi pengungsian meningkatkan risiko penyebaran kolera dan campak. Kondisi air yang tidak aman dan sanitasi buruk membuat penyakit yang sebenarnya dapat dicegah menjadi semakin sulit dikendalikan.

Sejak 6 Agustus, otoritas kesehatan yang berbasis di Aden melaporkan 4.481 korban akibat eskalasi konflik, termasuk 838 orang meninggal. Data tersebut menjadi gambaran lain mengenai besarnya beban yang kini harus ditanggung sistem kesehatan Yaman.

Baca Artikel Selengkapnya