Jakarta, CNN Indonesia --
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan belum memiliki gambaran lengkap mengenai dugaan kasus penyakit pes di Rusia setelah seorang pekerja laboratorium di Siberia meninggal dunia pekan lalu.
Pekerja tersebut, Darya Shipilova (28), meninggal dua hari setelah mengalami gejala yang menyerupai flu. Ia bekerja di sebuah institut penelitian anti wabah di Irkutsk, Rusia timur.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sejumlah laporan menyebut Shipilova diduga terinfeksi setelah mengalami kecelakaan kerja di laboratorium. Namun, otoritas Rusia membantah adanya hubungan antara kematiannya dan tempat ia bekerja.
Pemerintah Rusia mengatakan Shipilova meninggal akibat pneumonia dengan penyebab yang belum diketahui. Mereka juga menegaskan tidak ada ancaman wabah penyakit pes dan kondisi sanitasi serta epidemiologi di wilayah tersebut tetap stabil.
Meski demikian, otoritas Rusia menerapkan karantina ketat di laboratorium tempat Shipilova bekerja dan rumah sakit terdekat. Para pekerja bahkan sempat tidak diperbolehkan keluar dari institut selama tiga hari sambil menjalani pemeriksaan.
Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan badan tersebut masih membutuhkan informasi lebih lengkap dari pemerintah Rusia.
"Kita belum memiliki gambaran lengkap tentang peristiwa ini dan belum dapat melakukan penilaian risiko secara menyeluruh," kata Tedros pada Rabu (7/10), seperti dikutip The Guardian.
Tedros menilai Rusia perlu memberikan informasi yang tepat waktu, lengkap, dan transparan untuk menjelaskan laporan yang saling bertentangan mengenai kasus tersebut.
WHO juga meminta penjelasan terkait laporan media tentang kemungkinan adanya pekerja kedua yang mengalami pneumonia dengan penyebab yang belum diketahui.
"Kami mengevaluasi setiap laporan dari masyarakat. Kami meminta Rusia untuk menanggapi hal itu. Kami sedang menunggu jawabannya," ujar Tedros.
Direktur Manajemen Epidemi dan Pandemi WHO Maria Van Kerkhove mengatakan pihaknya juga belum mengetahui bagaimana Shipilova pertama kali terinfeksi. WHO bahkan masih mencari tahu penyakit apa yang sebenarnya menyebabkan kematiannya.
"Jika pneumonia dikesampingkan, sebenarnya dia meninggal karena apa?" kata Kerkhove.
Sementara itu, ibu Shipilova, Svetlana (64), membantah dugaan bahwa putrinya terinfeksi setelah memecahkan tabung reaksi di laboratorium.
"Saya tahu yang sebenarnya. Saya sedang membela diri dari teman-teman bodoh yang mempercayai ini. Tabung reaksi tidak bisa pecah, bahkan jika Anda melemparkannya ke dinding," ujar Svetlana dalam wawancara dengan media lokal.
Svetlana menggambarkan putrinya sebagai pekerja yang berdedikasi dan orang yang tulus serta sangat bertanggung jawab terhadap pekerjaannya.
Mantan teman sekelas Shipilova juga meragukan dugaan bahwa ia tertular penyakit di tempat kerja. Salah seorang dari mereka mengatakan Shipilova telah menjadi sasaran tuduhan tanpa penyelidikan yang memadai.
Di sisi lain, Kremlin berusaha meredam kekhawatiran mengenai insiden tersebut. Rusia juga menolak tawaran bantuan dari Presiden AS Donald Trump.
Gedung Putih sebelumnya meminta Moskow memberikan informasi lebih lanjut mengenai kasus tersebut.
Namun, AS menilai risiko penyebaran penyakit ke wilayahnya masih sangat rendah.
Pada Selasa (6/10), Trump mengatakan akan "segera" membahas persoalan tersebut dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.
Kremlin kemudian mengatakan belum ada jadwal pembicaraan, tetapi komunikasi antara keduanya dapat dilakukan dalam waktu dekat.
Menurut Baikal Medical Journal, petugas kesehatan disebut telah melakukan berbagai langkah untuk mencegah kemungkinan penyebaran penyakit di Irkutsk.
Sejumlah pekerja menggunakan pakaian pelindung dan masker saat mendisinfeksi bangunan tempat Shipilova tinggal. Bangunan tersebut beberapa kali disemprot setelah kematiannya pada Jumat (2/10).
Seorang warga sekitar mengatakan bau disinfektan sangat menyengat selama proses tersebut. Ia juga melihat petugas memasukkan pakaian kerja ke dalam kantong setelah melakukan penyemprotan.
Petugas disebut mengatakan penyemprotan dilakukan untuk membasmi kecoa.
Namun, warga tersebut mengaku tidak melihat adanya kecoa di bangunan itu dan sudah mengetahui adanya rumor mengenai dugaan wabah penyakit pes.
(mge/bac)

55 menit yang lalu
1






English (US) ·
Indonesian (ID) ·