War Journalism Training, Bertahan dari Sergapan Lawan di Lereng Bukit Ankara

56 menit yang lalu 3

REPUBLIKA.CO.ID, SUARA ledakan terdengar kencang memecah kesunyian malam perbukitan di pinggiran Kota Ankara, Turki. Jurnalis yang sedang menaiki bukit serentak merunduk mencari tempat perlindungan.

Mereka berlari ke arah lereng berbatuan. Beberapa ada yang berlindung ke sisi bukit, meski pada akhirnya ikut ke arah lereng.

Suasana 'kepanikan' terasa. Nafas terengah-engah sambil membawa ransel tentara.

Setelah ledakan berhenti, situasi kembali  tenang. Pendakian  dilanjutkan dengan jalur tidak mudah.

Kegiatan ini adalah bagian dari War Journalism Training Program yang digelar di Ankara, Turki. Wakil Republika menjadi satu-satu jurnalis dari Indonesia yang ikut terlibat. 

Pada hari ke-8 pelatihan, peserta yang berasal dari Turki dan 16 negara Asia Tenggara dan Pasifik mendapatkan pelatihan dari pasukan polisi khusus.

Sejumlah materi yang diajarkan seperti terkait penempatan pasukan hingga bagaimana membaca peta. Dalam hal menentukan arah misalnya, ada teknik membaca lewat jam, bayangan, maupun mengetahui arah dengan melihat jalur bintang.

Pendakian dimulai pada malam selepas Magrib. Para jurnalis mulai menaikin bukit di pinggir kota Ankara yang bertekstur bebatuan dan tanah kering.

Perbukitan ini terbilang khas dengan padang rumput kering dan vegetasi stepa.

Para jurnalis dibekali ransel tentara dengan isi matras, jas hujan, sleeping bag, dan makanan. Langkah awal tidak mudah karena harus mendaki 45 derajat sepanjang 200-300 meter.

Bagi yang tak terbiasa jalan, maka otot-otot kaki akan terasa panas. Apalagi ditambah dengan beban berat tas yang dipanggul.

Pada beberapa titik rute pendakian lereng bisa lebih curam hingga 70 derajat. Harus pelan-pelan dan mengatur nafas agar bisa dapat menuju puncak tujuan.

Dinginnya udara malam puncak tak terasa terbakar oleh keringat yang mengalir. Setidaknya ada tiga kali pemberhentian selama pendakian tersebut.

Pada pukul 22.00 peserta sampai ke titik puncak. Butuh sekitar 3 jam perjalanan untuk mencapai ke titik sasaran.

Tidak semua peserta bisa sampai ke atas. Beberapa di antaranya 'diculik' oleh petugas saat ledakan terjadi. Mereka yang disekap berjalan di posisi akhir atau ingin menyelamatkan temannya.

Sampai di atas, mereka yang diculik dijajarkan di depan dengan kondisi mata terikat. Peserta pun diminta merunduk layaknya sandera.

"Kamu dari mana," tanya seorang penyekap ketika tiba di titik puncak.

"Afghanistan," jawab seorang peserta yang diculik sambil mencoba memberontak.

Penyekapan ini merupakan bagian dari skenario pelatihan untuk menguji mental. Seorang instruktur menyatakan, dalam kondisi sebenarnya, tidak disarankan untuk menjadi 'pahlawan kesiangan' karena bisa membayakan diri sendiri maupun tim.

Sekitar pukul 22.30, semua peserta yang disekap kemudian dilepas dan partisipan melanjutkan dengan makan malam bersama.

Bertahan di tengah dingin

Baca Artikel Selengkapnya