Tafsir Surat Al-Munafiqun ayat 4: Pesan Al-Qur’an tentang Orang Munafik

3 hari yang lalu 13

Pernahkah kita menjumpai seseorang yang tampak nyaris sempurna di mata orang lain? Penampilannya meyakinkan, tutur katanya memikat, dan citra dirinya di hadapan publik begitu baik. Namun, seiring waktu, perlahan-lahan tersingkap sesuatu yang berbeda. Janji kerap diingkari, sikap mudah berubah, dan tindakan tak selalu sejalan dengan perkataan.

Fenomena semacam ini bukan sekadar potret kehidupan masyarakat hari ini. Jauh sebelum kita mengenalnya dalam berbagai rupa, Al-Qur’an telah menghadirkan sebuah perumpamaan yang tajam tentang orang-orang munafik. Dalam QS. Al-Munafiqun ayat 4, Allah menggambarkan mereka seperti kayu-kayu yang tersandar, tampak tegak dari luar, tetapi menyimpan makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar penampilan fisik.

Mengapa Al-Qur’an memilih kayu yang tersandar sebagai perumpamaan bagi orang munafik? Apa pesan yang tersembunyi di balik gambaran tersebut? Apakah perumpamaan ini semata-mata menggambarkan kelemahan mereka, atau justru menjadi peringatan bagi kita tentang bahaya penampilan yang tak sejalan dengan kenyataan, kata-kata yang tak berakar pada kesadaran, dan citra diri yang tak ditopang oleh integritas?

Untuk memahami makna di balik perumpamaan tersebut, marilah kita menyimak firman Allah Swt. dalam QS. Al-Munafiqun ayat 4:

وَاِذَا رَاَيْتَهُمْ تُعْجِبُكَ اَجْسَامُهُمْ ۗ وَاِنْ يَّقُوْلُوْا تَسْمَعْ لِقَوْلِهِمْ ۗ كَاَنَّهُمْ خُشُبٌ مُّسَنَّدَةٌ ۗ يَحْسَبُوْنَ كُلَّ صَيْحَةٍ عَلَيْهِمْ ۗ هُمُ الْعَدُوُّ فَاحْذَرْهُمْ ۗ قَاتَلَهُمُ اللّٰهُ ۖ اَنّٰى يُؤْفَكُوْنَ

Artinya : “Apabila engkau melihat mereka, tubuhnya mengagumkanmu. Jika mereka bertutur kata, engkau mendengarkan tutur katanya (dengan saksama karena kefasihannya). Mereka bagaikan (seonggok) kayu yang tersandar. Mereka mengira bahwa setiap teriakan (kutukan) ditujukan kepada mereka. Mereka itulah musuh (yang sebenarnya). Maka, waspadalah terhadap mereka. Semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari kebenaran)?” (QS. Al-Munafiqun ayat 4).

Para ulama tafsir menjelaskan bahwa ayat ini memberi gambaran terkait orang-orang munafik, Al-Qur’an tidak serta-merta menunjukkan sisi buruk mereka, tetapi terlebih dahulu menyoroti hal-hal yang membuat mereka tampak menarik. Penampilan mereka terlihat mengagumkan, sementara ucapan yang disampaikan mampu memikat perhatian orang-orang di sekitarnya.

Selain itu, Syekh Wahbab Az-Zuhaili menjelaskan bahwa yang menjadi tokoh utamanya dalam ayat ini yaitu Abdullah bin Ubay, seorang yang berpenampilan secara fisik tegap, tampan. Lidahnya fasih dalam berbicara, dan membuat orang-orang tertarik padanya. 

Berikut penjelasannya :

وقد كان عبد الله بن أبي رأس المنافقين فصيحا جسيما جميلا، ولكنه وصحبه لا وعي ولا إدراك لديهم، لخلوهم عن الفهم النافع، والعلم الذي ينتفع به صاحبه، فهم صور بلا معان 


Artinya : Abdullah bin Ubay tokoh utama kaum munafik merupakan sosok yang fasih lidahnya, memiliki fisik yang proporsional, tegap, dan tampan. Akan tetapi, ia dan rekan rekan munafiknya adalah orang-orang yang tidak memiliki akal pikiran yang bisa berpikir, karena mereka tidak memiliki pemahaman yang bermanfaat dan ilmu pengetahuan yang tidak berguna. Mereka hanyalah fisik tanpa isi, gambar tanpa arti.  (Wahbah Az-Zuhaili, Tafsir al-Munir fil Aqidah wasy Syari’ah wal Manhaj, [Damaskus: Darul Fikr, 1411 H], Jilid XXVII, halaman 217).

Mengapa Digambarkan Seperti Kayu yang Tersandar?


Dalam kitab Jami’ul Bayan ‘an Ta’wil Ay al-Qur’an, Imam At-Thabari menjelaskan perumpamaan kayu yang tersandar menggambarkan orang munafik sebagai sosok yang tampak ada, tetapi kosong. Tidak ada kebaikan yang bisa diharapkan darinya, tidak ada ilmu yang bisa dipetik darinya. Ia hanya rupa tanpa isi, tubuh tanpa akal. (At-Thabari, Tafsir At-Thabari, [Makkah, Darut Tarbiyyah wat Turats, 1422 H.] juz 22, halaman 653).

Senada dengan hal tersebut, Imam Al-Qurtubi juga menjelaskan maksud dari kayu yang tersandar, simak penjelasan berikut :

شَبَّهَهُمْ بِخُشُبٍ مُسَنَّدَةٍ إِلَى الْحَائِطِ لَا يَسْمَعُونَ وَلَا يَعْقِلُونَ، أَشْبَاحٌ بِلَا أَرْوَاحٍ وَأَجْسَامٌ بِلَا أَحْلَامٍ

Artinya : “Seakan-akan mereka adalah kayu yang disandarkan : Allah menyerupakan mereka dengan kayu yang disandarkan` ke dinding, karena mereka itu tidak dapat mendengar dan tidak dapat memahani. Mereka adalah hantu yang tidak mempunyai ruh dan tubuh yang tidak mempunyai impian.” (Imam Qurthubi, Tafsir Al-Jami' li Ahkami Al-Qur'an, [Mesir : Dar al-Kutub al-Misriyyah, 1384 H], jilid XVII, halaman 124).

Pada dasarnya melalui QS. Al-Munafiqun ayat 4, Allah Swt. menggambarkan orang munafik sebagai orang-orang yang memiliki penampilan menarik dan tutur kata yang manis. Namun, mereka tidak berusaha memahami apa yang telah didengar, serta enggan mengamalkan tuntunan yang seharusnya lahir dari iman dan pemahaman tersebut.


Karena itu, mereka diumpamakan seperti kayu yang tersandar, tampak kokoh dari luar, tetapi tidak memiliki kesadaran dan keteguhan yang semestinya. Di sisi lain, Imam Fakhrudin Ar-Razi juga menambahkan secara rinci maksud Allah menyerupakan orang munafik dengan kayu yang tersandar, bukan dengan benda-benda lain yang bermanfaat.

Simak penjelasan berikut :

الْخُشُبُ الْمُسَنَّدَةُ فِي الْأَصْلِ كَانَتْ غُصْنًا طَرِيًّا يَصْلُحُ لِأَنْ يَكُونَ مِنَ الْأَشْيَاءِ الْمُنْتَفَعِ بِهَا، ثُمَّ تَصِيرُ غَلِيظَةً يَابِسَةً، وَالْكَافِرُ وَالْمُنَافِقُ كَذَلِكَ كَانَ فِي الْأَصْلِ صَالِحًا لِكَذَا وَكَذَا، ثُمَّ يَخْرُجُ عَنْ تِلْكَ الصَّلَاحِيَّةِ الثَّالِثَةُ: الْكَفَرَةُ مِنْ جِنْسِ الْإِنْسِ حَطَبٌ، كَمَا قَالَ تَعَالَى: حَصَبُ جَهَنَّمَ أَنْتُمْ لَها وارِدُونَ [الْأَنْبِيَاءِ: ٩٨] وَالْخُشُبُ الْمُسَنَّدَةُ حَطَبٌ أَيْضًا الرَّابِعَةُ: أَنَّ الْخُشُبَ الْمُسَنَّدَةَ إِلَى الْحَائِطِ أَحَدُ طَرَفَيْهَا إِلَى جِهَةٍ، وَالْآخَرُ إِلَى جِهَةٍ أُخْرَى، وَالْمُنَافِقُونَ كَذَلِكَ، لِأَنَّ الْمُنَافِقَ أَحَدُ طَرَفَيْهِ وَهُوَ الْبَاطِنُ إِلَى جِهَةِ أَهْلِ الْكُفْرِ، وَالطَّرَفُ الْآخَرُ وَهُوَ الظَّاهِرُ إِلَى جِهَةِ أَهْلِ الْإِسْلَامِ

Artinya : Kayu yang disandarkan itu pada asalnya adalah ranting yang masih segar dan layak menjadi benda yang bermanfaat, kemudian ia menjadi tebal dan kering. Orang kafir dan munafik pun demikian: pada asalnya ia layak untuk ini dan itu, kemudian ia keluar dari kelayakan tersebut.Yang ketiga : Orang-orang kafir dari golongan manusia adalah kayu bakar, sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya kamu (orang kafir) dan apa yang kamu sembah selain Allah adalah bahan bakar (neraka) Jahanam. Kamu (pasti) masuk ke dalamnya” (QS. Al-Anbiya’: 98). 

Kayu yang disandarkan juga merupakan kayu bakar. Keempat : Kayu yang disandarkan ke dinding, salah satu ujungnya menghadap ke satu arah dan ujung lainnya menghadap ke arah yang lain. Orang munafik pun demikian: satu ujungnya, yaitu batinnya, menghadap ke pihak orang-orang kafir, dan ujung yang lain, yaitu lahirnya, menghadap ke pihak orang-orang Islam. (Abu Abdillah Muhammad bin Umar al-Raziy, Mafatih al-Ghaib al-Tafsir al-Kabir, [Beirut, Dar Ihya’ al-Turats al-‘Arabiy: 1420 H], juz 30, halaman 548).

Jika melihat penjelasan tersebut, kayu yang sudah dipotong lalu disandarkan pada dinding tidak serta-merta menjadi bagian yang memperkuat bangunan. Ia memang memiliki bentuk, tetapi keberadaannya belum tentu memberi fungsi atau manfaat bagi sesuatu yang lebih besar. Begitulah orang munafik, sejatinya yang tidak konsisten, bersandar dengan pijakan yang lemah. Tidak ada manfaat secara baik dalam hidupnya.


Maka, dilihat konteks kehidupan bahwa perumpamaan kayu yang tersandar dapat dipahami sebagai kritik terhadap orang yang lebih mengutamakan penampilan dan kepintaran berbicara, tetapi tidak mengimbanginya dengan kualitas batin yang baik. Perlunya kita menyelaraskan antara batin dan lahiriah seperti yang sudah disebutkan dalam hadis Nabi Muhammad saw :

إِنَّ اللهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ


Artinya : “Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk tubuhmu dan bentuk rupamu, akan tetapi melihat kepada hati dan pekerjaanmu”. (HR. Muslim)

Dalam kehidupan masa kini, pesan tersebut tetap relevan di berbagai bidang, mulai dari kehidupan beragama, dunia pendidikan, lingkungan kerja, hingga aktivitas di ruang digital. Identitas dan citra diri tidak semestinya hanya menjadi simbol atau tampilan luar, tetapi perlu tercermin dalam tindakan nyata yang menjunjung kejujuran, tanggung jawab, serta bermanfaat secara lahir dan batin.


Walhasil, dari ayat ini kita belajar, bahwa penampilan dan kepandaian bicara tidak bisa menggantikan kejujuran dan keteladanan. Orang yang bernilai adalah orang yang perkataan dan perbuatannya sejalan. Karena itu,melalui perumpamaan ‘kayu yang tersandar’ mengajak kita menengok ke dalam diri. 


Jangan sampai kita rajin merapikan lahiriah, tetapi lupa mengisi dan menguatkan secara batin, atau lihai berbicara tentang kebaikan tetapi lamban mengamalkannya. Waallahu a’alam.

---------
Muhammad Syaf’ul Iktafi_Alumni Pondok Pesantren Tarrbiyatul Islam Al-Falah Salatiga, Dosen Komunikasi dan Penyiaran Islam Institut Agama Islam An-Nawawi Purworejo
 

Baca Artikel Selengkapnya