RI Pesan 48 Jet KAAN, Mampukah Teknologi Turki Menyamai F-35 AS?

1 jam yang lalu 3

JAKARTA -- Rencana Indonesia mendatangkan 48 jet tempur generasi kelima KAAN buatan Turki memasuki perkembangan penting menyusul kemajuan pengujian prototipe pesawat tersebut. Turkish Aerospace Industries (TAI) menargetkan penerbangan perdana prototipe KAAN P1 sebelum akhir 2026, sementara Amerika Serikat (AS) memperkuat keberlanjutan produksi F-35 Lightning II melalui kesepakatan kerangka pengadaan ratusan pesawat untuk satu dekade mendatang.

Perkembangan tersebut memperlihatkan persaingan teknologi pesawat tempur generasi kelima yang melibatkan dua negara dengan tingkat kematangan industri pertahanan berbeda. Turki sedang mengembangkan KAAN menuju tahap produksi dan pengoperasian, sedangkan Amerika Serikat telah mengoperasikan F-35 secara luas bersama sejumlah negara mitranya.

Laporan Hurriyet Daily News pada Sabtu (31/10/2026) kembali menegaskan target TAI menerbangkan prototipe KAAN berkode P1 sebelum penghujung tahun. Target tersebut sebelumnya disampaikan Direktur Utama TAI Mehmet Demiroglu pada 2 Oktober 2026, setelah prototipe menyelesaikan pemeriksaan sistem dan pengujian pergerakan berkecepatan rendah di landasan.

Pengembangan KAAN kini diarahkan pada penyelesaian pengujian darat lanjutan, termasuk pengujian pergerakan berkecepatan tinggi atau high-speed taxi test. Tahapan tersebut diperlukan untuk memastikan kesiapan sistem pesawat sebelum mendapatkan persetujuan penerbangan perdana.

Sementara itu, pemerintah AS dan Lockheed Martin pada 22 Oktober 2026 mengumumkan kesepakatan kerangka produksi F-35 untuk periode 10 tahun. Rencana tersebut mencakup sedikitnya 850 pesawat bagi kebutuhan militer AS, selain pengadaan untuk pelanggan internasional, dengan sasaran produksi keseluruhan mencapai 156 pesawat per tahun.

Kesepakatan tersebut masih memerlukan persetujuan kewenangan pembelian tahun jamak dan pendanaan dari Kongres AS sebelum menjadi kontrak pengadaan definitif. Namun, skala rencana produksi tersebut menunjukkan kemampuan industri Amerika dalam mempertahankan pasokan pesawat tempur yang telah beroperasi secara luas.

Berdasarkan laporan Lockheed Martin kepada Securities and Exchange Commission (SEC), sebanyak 1.387 unit F-35 telah dikirimkan sejak program dimulai hingga 27 September 2026. Jumlah tersebut memberikan gambaran mengenai pengalaman produksi dan penggunaan pesawat yang belum dimiliki program KAAN.

Bagi Indonesia, perkembangan kedua program itu menghadirkan pertanyaan strategis mengenai arah modernisasi kekuatan udara nasional. Selain mempertimbangkan kecanggihan pesawat, pemerintah perlu memperhitungkan kematangan teknologi, kesiapan operasional, kepastian pengiriman, serta manfaat kerja sama industri yang dapat diperoleh dari pengadaan KAAN.

RI Teken Kontrak 48 Jet Tempur KAAN

Indonesia telah menandatangani kontrak implementasi pengadaan 48 pesawat tempur KAAN dari Turki pada 26 Juli 2025. Penandatanganan berlangsung dalam rangkaian pameran International Defence Industry Fair (IDEF) di Istanbul dan disaksikan Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin.

Kementerian Pertahanan Republik Indonesia mengonfirmasi kesepakatan tersebut melalui siaran pers pada 28 Juli 2025. Kontrak itu merupakan tindak lanjut kesepakatan antarpemerintah yang sebelumnya dicapai pada 11 Juni 2025 di Jakarta.

Turkish Aerospace menyebut pengadaan tersebut sebagai salah satu tonggak penting dalam pengembangan pasar ekspor KAAN. Indonesia menjadi pelanggan ekspor pertama program pesawat tempur generasi kelima yang dikembangkan Turki tersebut.

Kerja sama kedua negara tidak terbatas pada pembelian pesawat, tetapi juga mencakup rencana pengembangan kemampuan industri pertahanan. Sejumlah kegiatan yang direncanakan meliputi peningkatan kapasitas manufaktur lokal, pelatihan, dukungan teknis, serta pertukaran pengetahuan teknologi.

Dalam pengumuman awal pada Juni 2025, TAI menyebut rencana penyerahan 48 pesawat dalam jangka waktu 120 bulan. Namun, jadwal tersebut merupakan sasaran pelaksanaan program yang masih bergantung pada perkembangan produksi, kesiapan teknologi, dan implementasi kontrak.

Persoalan pendanaan menjadi bagian penting dalam realisasi pengadaan tersebut. Pemerintah Indonesia harus memastikan bahwa kebutuhan pembiayaan, jadwal pembayaran, dan tahapan pelaksanaan kontrak sejalan dengan kemampuan anggaran pertahanan nasional.

Pada 2 April 2026, Kepala Biro Informasi Pertahanan Sekretariat Jenderal Kementerian Pertahanan, Brigadir Jenderal TNI Rico Ricardo Sirait, menjelaskan bahwa pengadaan KAAN menggunakan mekanisme pinjaman luar negeri. Ia menyebut kontrak awal dalam jumlah terbatas masih menjalani proses aktivasi melalui koordinasi dengan Kementerian Keuangan.

"Untuk KAAN, sudah ada kontrak awal dalam jumlah terbatas yang saat ini masih dalam proses aktivasi melalui mekanisme pinjaman luar negeri (PLN) bersama Kementerian Keuangan," kata Rico, sebagaimana dikutip ANTARA. Ia juga menjelaskan bahwa pengadaan akan dilaksanakan secara bertahap dengan mempertimbangkan kesiapan anggaran dan kebutuhan TNI.

Penjelasan tersebut memperlihatkan bahwa penandatanganan kontrak dan realisasi pendanaan merupakan dua tahapan yang perlu dibedakan. Kesepakatan pengadaan 48 pesawat telah diumumkan, tetapi pelaksanaannya tetap mengikuti prosedur pembiayaan pemerintah.

Kementerian Pertahanan juga belum memberikan perincian nilai final pengadaan dalam konfirmasi April 2026 tersebut. Karena itu, angka perkiraan nilai kontrak yang beredar di publik perlu dibedakan dari informasi resmi pemerintah yang telah terverifikasi.

Prototipe KAAN Bersiap Memasuki Pengujian Baru

KAAN merupakan proyek pesawat tempur nasional Turki yang sebelumnya dikenal dengan nama TF-X. Pesawat tersebut dikembangkan sebagai platform tempur multiperan dengan karakteristik pengurangan deteksi radar, avionik modern, sistem persenjataan internal, serta kemampuan operasi berbasis jaringan.

Program KAAN merupakan bagian dari strategi Ankara untuk memperkuat kemandirian teknologi pertahanan. Melalui pengembangan tersebut, Turki berupaya membangun kemampuan nasional dalam merancang, memproduksi, dan mengintegrasikan sistem pesawat tempur berteknologi tinggi.

Demonstrator awal KAAN berkode P0 berhasil melaksanakan penerbangan perdana pada 21 Februari 2024. Dalam penerbangan sekitar 13 menit, pesawat mencapai ketinggian 8.000 kaki dengan kecepatan sekitar 230 knot.

Penerbangan kedua berlangsung pada 6 Mei 2024 dengan durasi sekitar 14 menit dan ketinggian mencapai 10.000 kaki. Kedua penerbangan tersebut menjadi bagian dari pembuktian awal karakteristik penerbangan dan kemampuan dasar rancangan KAAN.

Namun, keberhasilan demonstrator P0 belum berarti seluruh kemampuan tempur generasi kelima telah dapat digunakan secara operasional. Pesawat masih memerlukan pengujian lanjutan terhadap struktur, avionik, sistem kendali, persenjataan, dan berbagai teknologi pendukung.

Karena itu, pengembangan prototipe P1 dan P2 menjadi tahapan penting dalam perjalanan program KAAN. Kedua prototipe dirancang lebih mendekati konfigurasi produksi dengan sejumlah penyempurnaan berdasarkan pengalaman pengujian demonstrator awal.

Pada 31 Juli 2026, TAI memperlihatkan prototipe P1 melakukan pengujian pergerakan di landasan menggunakan tenaga mesinnya sendiri. Kegiatan tersebut memungkinkan tim pengembang mengevaluasi kesiapan sistem pengereman, kemudi, kendali pesawat, dan berbagai perangkat pendukung.

Demiroglu pada awal Oktober menyatakan bahwa pemeriksaan sistem dan pengujian pergerakan berkecepatan rendah telah diselesaikan. Pengujian berikutnya diarahkan untuk memastikan pesawat memenuhi persyaratan keselamatan sebelum melaksanakan penerbangan perdana.

TAI merencanakan pembangunan enam prototipe dalam rangkaian pengembangan KAAN. Perusahaan juga menargetkan penyerahan awal pesawat kepada Angkatan Udara Turki mulai akhir 2028, meskipun jadwal tersebut masih bergantung pada hasil pengujian dan kesiapan produksi.

Target penyerahan tidak otomatis menunjukkan seluruh kemampuan pesawat telah selesai divalidasi. Sistem avionik, persenjataan, peperangan elektronik, serta karakteristik siluman masih memerlukan pembuktian sesuai konfigurasi yang akan digunakan secara operasional.

Baca Artikel Selengkapnya