Rais Syuriyah PBNU Ungkap Hubungan Resolusi Jihad dan Dukungan Palestina

2 jam yang lalu 4

Surabaya, NU Online

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menggelar agenda Mujahadah Kemanusiaan untuk Palestina (22/10/2026) sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Santri Nasional. 

Forum spiritual dan kebangsaan ini dihadiri jajaran pimpinan tertinggi organisasi, mulai dari Rais Aam, Katib Aam, Ketua Umum, Wakil Ketua Umum, Sekjen, serta jajaran Pengurus Wilayah (PWNU) Jawa Timur dan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) di wilayah Jawa Timur.

Selain diisi dengan pembacaan dzikir dan doa bersama untuk keselamatan warga Palestina, agenda ini juga menjadi ruang penegasan kembali basis historis perjuangan kemerdekaan.

Dalam forum tersebut, PBNU mengaitkan simpul sejarah antara kepemimpinan Hadratussyaikh KH Hasyim Asy'ari, pengorbanan para santri dalam Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya, serta dukungan bertubi-tubi dari rakyat Palestina pada masa awal berdirinya Republik Indonesia.

Rais Syuriyah PBNU KH Ahmad Tajul Mafakhir menyampaikan bahwa dalam tinjauan historis yang mengemuka pada peringatan tersebut, kepemimpinan ulama dan aksi fisik para santri ditempatkan sebagai pemicu utama perlawanan di Surabaya.

Saat itu, Rais Akbar PBNU Hadratussyekh KH Hasyim Asy'ari mengeluarkan fatwa Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945 setelah berkonsultasi dengan para kiai se-Jawa dan Madura.

"Fatwa ini menetapkan bahwa membela tanah air dari agresi Sekutu dan NICA hukumnya fardhu 'ain bagi setiap Muslim yang berada dalam radius 94 kilometer dari pusat pertempuran," katanya.

Hal tersebut tidak berhenti pada fatwa belaka, melainkan dilanjutkan dengan gerakan mobilisasi Laskar Hizbullah dan Sabilillah. Resolusi Jihad, jelasnya, menggerakkan puluhan ribu santri dari berbagai pesantren untuk bergerak menuju Surabaya.

"Di bawah komando para kiai, Laskar Hizbullah dan Laskar Sabilillah bahu-membahu bersama Tentara Keamanan Rakyat membendung gelombang pasukan Sekutu," katanya.

Kiai Tajul juga menjelaskan bahwa Resolusi Jihad menjadi katalisator pertempuran 10 November 1945. Hal tersebut merupakan gelora perjuangan yang dipantik oleh Hadratussyekh KH Hasyim Asy'ari dan para kiai serta pimpinan pesantren yang menjadi fondasi moral Pertempuran 10 November 1945. 

"Keberanian para santri mempertahankan Surabaya tidak hanya mengejutkan pasukan Sekutu, tetapi juga bergema hingga ke mancanegara," katanya.

4 pilar relevansi sejarah dan dukungan Palestina

Lebih lanjut, Kiai Tajul menjelaskan bahwa gema perjuangan santri di Surabaya kiranya juga berhasil memperkuat gelombang solidaritas di kawasan Timur Tengah, khususnya Palestina. Hal itu terwujud dalam empat kontribusi.

Pertama, pernyataan dukungan dan mobilisasi opini publik. Mufti Besar Palestina Syekh Muhammad Amin al-Husaini menggalang opini publik internasional untuk mendukung perjuangan umat Islam di Indonesia.

"Beliau memanfaatkan jaringan media di Kairo dan Berlin untuk menyuarakan bahwa perlawanan di Indonesia adalah perjuangan kemerdekaan yang sah," ujarnya.

Kedua, dukungan finansial untuk misi diplomasi. Saudagar Palestina sekaligus Pemimpin Redaksi surat kabar Al-Shura, Muhammad Ali Taher, menyerahkan seluruh dana pribadinya di Bank Arabia kepada utusan diplomatik Indonesia, M Zein Hassan.

"Bantuan ini membiayai operasional delegasi RI yang sedang memperjuangkan pengakuan kedaulatan di kawasan Arab," katanya.

Berikutnya, respons pertempuran Surabaya dan boikot logistik. Kabar gugurnya para santri dan rakyat dalam Pertempuran 10 November memicu aksi protes massa di Palestina. Imbauan para tokoh Palestina menggerakkan buruh pelabuhan di kawasan Terusan Suez untuk menolak melayani kapal-kapal perang Sekutu dan Belanda, yang mengangkut persenjataan menuju Indonesia.

Selanjutnya, tekanan diplomasi terhadap Liga Arab. Tokoh-tokoh perjuangan Palestina pula secara aktif menggalang konsolidasi politik bersama diplomasi Indonesia di Kairo.

"Langkah ini mendesak negara-negara anggota Liga Arab memberikan pengakuan de facto dan de jure kepada Republik Indonesia pada rentang tahun 1946-1947," ujarnya.

Mengingat hal tersebut, dalam penutup rangkaian agenda, PBNU menegaskan bahwa peringatan Hari Santri yang berakar dari Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 mengandung amanat solidaritas universal.

"Dukungan terhadap Palestina hari ini dipandang sebagai bentuk kesetiaan pada garis perjuangan ulama terdahulu sekaligus penegasan atas kewajiban sejarah bangsa Indonesia dalam menghapuskan segala bentuk penjajahan," pungkasnya.

Baca Artikel Selengkapnya