Jakarta, CNN Indonesia --
Presiden Rusia, Vladimir Putin, menandatangani dekrit baru untuk menambah jumlah personel resmi Angkatan Bersenjata Rusia menjadi 2,4 juta orang, termasuk 1,5 juta personel militer aktif.
Putin menandatangani dekrit bernomor 700 pada Senin (28/9). Dekrit tersebut dipublikasikan di portal informasi hukum resmi Rusia.
Menurut media milik negara Rusia, TASS, penambahan personel tersebut menjadi kenaikan keempat kalinya sepanjang 2026.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dekrit tersebut juga memerintahkan pemerintah mengalokasikan anggaran federal yang diperlukan kepada Kementerian Pertahanan untuk menjalankan ketentuan tersebut.
Naik empat kali lipat sepanjang 2026
Sebelumnya, Putin menaikkan jumlah personel angkatan bersenjata pada Maret, Juni, dan Juli.
Pada Maret, dekrit presiden menetapkan jumlah totalnya menjadi 2.391.770 orang. Sementara itu, pada Juni, jumlah personel ditetapkan menjadi 2.399.130 orang.
Angka itu kemudian kembali naik pada Juli menjadi 2.426.130 personel, termasuk 1.535.000 personel militer. Secara keseluruhan, jumlah personel militer Rusia yang diizinkan telah bertambah sebanyak 49.860 sejak bulan Maret, menurut TASS.
Pengumuman tersebut disampaikan setelah Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky memperingatkan adanya kemungkinan mobilisasi tambahan Rusia pada Senin (28/9) pagi.
Mengutip data intelijen baru dari Intelijen Militer Ukraina (HUR), Zelensky mengatakan lebih dari 8.000 personel militer Korea Utara saat ini berada di Rusia. Ia juga mengatakan persiapan sedang dilakukan untuk mengerahkan 10.000 personel tambahan.
"Mereka meningkatkan jumlah orang yang direkrut dengan berbagai metode. Mereka berencana untuk meningkatkan dan menarik orang asing," kata Zelensky.
Pada Juli, badan intelijen Ukraina menyebut Staf Umum Rusia memiliki rencana untuk merekrut tambahan sekitar 600.000 orang pada 2026 dan 2027. Jumlah itu disebut terbagi menjadi 300.000 orang pada masing-masing tahun.
Sejumlah laporan menyebut persiapan perekrutan telah dilakukan melalui penguatan sistem pendaftaran militer dan pengetatan sanksi bagi warga yang mengabaikan panggilan wajib militer. Namun, Kremlin berulang kali membantah adanya mobilisasi baru.
Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, sebelumnya menuduh Ukraina berupaya menciptakan ketidakstabilan dengan klaim tersebut.
Di sisi lain, hubungan kerja sama militer Rusia-Korea Utara semakin erat. Korea Utara sebagai salah satu mitra perang terpenting Rusia karena memasok pasukan, senjata, dan tenaga kerja.
Rusia memberikan dukungan finansial dan teknologi kepada Korea Utara sebagai imbalan atas bantuan tersebut.
Kekhawatiran meluas ke negara NATO
Peningkatan jumlah personel Rusia juga terjadi ketika negara-negara Eropa meningkatkan perhatian terhadap potensi perluasan konflik di luar Ukraina.
Dalam beberapa bulan terakhir, sejumlah negara NATO memperkuat pertahanan dan perlindungan infrastruktur penting. Negara-negara tersebut juga meningkatkan kesiapan menghadapi ancaman drone, sabotase, dan bentuk serangan lainnya.
Perdana Menteri Polandia, Donald Tusk, sebelumnya mengatakan Rusia berpotensi melakukan serangan terhadap negara-negara yang mendukung Ukraina. Ia menyebut serangan tersebut dapat menggunakan drone atau rudal yang berpotensi dibuat seolah-olah sebagai kecelakaan.
Dalam wawancara selama Sidang Umum PBB ke-81 (UNGA) di New York, Zelensky memperingatkan negara-negara Eropa mengenai kemungkinan serangan Rusia menggunakan drone, rudal, maupun operasi darat. Menurut dia, langkah tersebut dapat digunakan untuk mengganggu persatuan negara-negara Barat.
Putin membantah bahwa Rusia sedang mempersiapkan perang dengan Eropa.
Dalam pidatonya pada Jumat (25/9), Putin juga menyinggung negara-negara Baltik dan menuduh mereka melanggar hak warga berbahasa Rusia. Putin mengatakan Rusia akan terus memperjuangkan kepentingan warga Rusia di kawasan tersebut.
Ketegangan dengan negara-negara NATO di kawasan juga meningkat setelah mantan Presiden Rusia yang kini menjabat Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia, Dmitry Medvedev, melontarkan ancaman terhadap Lithuania.
Pada 11 September, Medvedev mengancam Lithuania akan "lenyap dari peta dunia" jika terjadi konflik yang terkait dengan pencabutan larangan senjata nuklir oleh Vilnius.
Seminggu kemudian, Lithuania mengumumkan rencana evakuasi untuk ibu kota Vilnius. Salah satu jalur evakuasi yang disiapkan mengarah ke Polandia.
"Salah satu arah evakuasi dari ibu kota seharusnya adalah Polandia," kata kepala Kementerian Perlindungan Sipil kotamadya Vilnius, Žygimantas Solovjovas, kepada Radio Polandia.
Selain itu, Rusia juga berulang kali membantah telah merencanakan serangan terhadap Ukraina. Mereka masih menyebut perang di Ukraina sebagai "operasi militer khusus," dan meremehkan signifikansinya.
(mge/dna)

32 menit yang lalu
1







English (US) ·
Indonesian (ID) ·