Jakarta, CNN Indonesia --
Amerika Serikat akan menarik pasukan dari pangkalan terakhir mereka di Irak pada Rabu (30/9) usai berada di sana selama lebih dari dua dekade.
Rencana penarikan pasukan itu terjadi di tengah perang yang berkobar antara AS vs Iran dan situasi yang memanas di Timur Tengah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pernyataan penarikan pasukan tertuang dalam pernyataan resmi pemerintah AS pada Minggu (27/9). Langkah ini juga diambil usai Komisi Militer Tinggi AS-Irak berdiskusi secara intensif selama sembilan bulan terakhir.
"Setelah mempelajari dan mengevaluasi situasi militer dan keamanan di Irak dan kawasan tersebut, mengumumkan hal berikut: Pertama, menyelesaikan misi militer Koalisi di Irak selama dua belas bulan ke depan, dan paling lambat akhir September 2025," demikian pernyataan resmi AS.
Kedua negara akan beralih ke kemitraan keamanan bilateral dengan cara mendukung pasukan Iran dan mempertahankan tekanan terhadap ISIS.
Lebih lanjut, AS menjelaskan untuk mencegah ancaman ISIS dari Suriah, mereka dan anggota militer Koalisi yang beroperasi di Suriah akan berlanjut hingga September 2026.
AS menginvasi Irak pada 2003 untuk menggulingkan Saddam Hussein. Mereka kemudian menduduki negara itu, memasang pemerintahan yang dipimpin Syiah dan memerangi pemberontakan selama bertahun-tahun sebelum menarik diri pada akhir 2011.
Kurang dari tiga tahun, pasukan AS kembali ke negara tersebut dengan dalih membantu Irak melawan ISIS pada 2014 hingga 2017.
Penarikan pasukan ini disambut baik pejabat Iran dan menjadi simbol kemenangan bagi poros perlawanan Teheran yang terdiri dari milisi di kawasan itu.
"Iran menyambut baik penarikan pasukan di Iran pasti akan mendukungnya," kata Wakil Ketua Komisi Keamanan Nasional Parlemen Iran, Amir Hayat Moqaddam, dikutip Reuters.
"Keamanan yang langgeng akan terwujud di Irak," imbuh dia.
Sementara itu, komandan Perlawanan Islam di Irak, Abu Mojtaba Al Yasiri mengatakan penarikan itu sebagai kekalahan telak AS.
"Ini kemenangan bersejarah bagi kelompok Islamic Resistence (Perlawanan Islam) Irak dan warga Irak yang terhormat, dan kekalahan telak bagi proyek Amerika," kata dia.
Yasiri lalu berujar, "Pada tanggal 30 September, kita akan merayakan berakhirnya babak kelam dalam sejarah Irak dan kegagalan pendudukan untuk memaksakan kehendaknya di negara kita."
Irak, lanjut dia, telah membuktikan bahwa kedaulatannya tidak dapat dijamin oleh kekuatan asing, tetapi oleh perlawanan dan kehendak rakyat.
(isa/rds)

18 menit yang lalu
1






English (US) ·
Indonesian (ID) ·