Program 'MBG' Ala Trump di Sekolah-sekolah AS Tersandung Masalah

45 menit yang lalu 3

Jakarta, CNN Indonesia --

Program peningkatan makanan bergizi gratis di sekolah yang didorong pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, mulai menghadapi masalah.

Sejumlah sekolah AS kesulitan menyajikan lebih banyak makanan segar karena keterbatasan dapur, peralatan, tenaga kerja, dan anggaran.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kondisi itu terlihat di Sekolah Dasar Thomas Hooker, Connecticut. Pada suatu Senin (28/9) pagi, tiga staf kantin menyiapkan makan siang untuk sekitar 300 siswa.

Para staf mengeluarkan nugget ayam popcorn beku dari kemasan. Mereka kemudian melumurinya dengan saus jeruk sebelum memasukkannya ke oven penghangat. Menu itu disajikan bersama nasi merah dan buncis segar.

Menu lain berupa patty hamburger siap saji dengan keju. Sekolah juga menyediakan wortel mini, irisan mentimun, tomat ceri, apel, jeruk, dan pilihan buah kalengan.

Namun, sekolah tersebut memiliki keterbatasan fasilitas. Bangunan sekolah yang berdiri sejak 1960-an itu tidak memiliki dapur karena saat itu banyak siswa pulang ke rumah untuk makan siang.

[Gambas:Video CNN]

Sekolah Umum Meriden kemudian mengubah tiga lemari menjadi fasilitas dapur. Meja manajer kafetaria hanya berjarak beberapa meter dari wastafel pencuci panci yang berada di ruangan berbeda dengan kompor, kulkas, dan peralatan lainnya.

Direktur layanan makanan dan nutrisi Meriden, Susan Maffe, mengatakan kondisi tersebut membuat proses menyiapkan makanan dari bahan segar menjadi sangat sulit.

"Kondisi ini jelas sangat menantang," kata Maffe, dikutip dari CNN.

Keterbatasan itu menjadi gambaran masalah yang dihadapi banyak sekolah AS. Pemerintahan Trump mendorong sekolah mengurangi makanan ultra olahan dan memperbanyak makanan yang dibuat dari bahan segar.

Kebijakan tersebut menjadi bagian dari gerakan Make America Healthy Again yang didorong Menteri Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan AS Robert F. Kennedy Jr.

"Kita perlu memperluas masakan rumahan, mengurangi tambahan gula dan makanan ultra-olahan, serta menyajikan lebih banyak hasil bumi segar, biji-bijian utuh, dan protein berkualitas tinggi," kata Kennedy dalam konferensi pers pada Agustus.

Kennedy mengatakan sekolah membutuhkan dapur yang lebih baik, peralatan, pelatihan, dan model praktis untuk memasak makanan dari awal.

Untuk mendukung perubahan tersebut, Menteri Pertanian AS, Brooke Rollins, mengumumkan hibah peralatan senilai US$70 juta atau sekitar Rp1,1 triliun.

Pemerintah juga menyiapkan US$30 juta atau sekitar Rp470 miliar untuk penelitian mengenai cara menyediakan makanan sekolah yang lebih sehat dengan biaya efisien.

Namun, pengelola layanan makanan sekolah menilai dana tersebut masih jauh dari cukup.

Ketua School Nutrition Foundation Gay Anderson mengatakan US$70 juta harus dibagi ke sekolah di 50 negara bagian.

"Uang sebesar US$70 juta tidak akan cukup untuk menjangkau 50 negara bagian," kata Anderson.

Meriden sendiri menghabiskan lebih dari US$300 ribu untuk membeli dan memperbaiki peralatan tahun lalu. Sementara itu, Connecticut pada tahap awal hibah hanya mendapat US$209 ribu untuk seluruh negara bagian.

Masalah tidak hanya soal peralatan. Sekolah juga kekurangan tenaga kerja terampil, ruang dapur, dan dana operasional.

Hanya sedikit sekolah yang memasak dari awal

Survei School Nutrition Association menunjukkan hanya sekitar 16 persen distrik sekolah di AS yang setiap hari menyajikan makanan yang dibuat sendiri.

Sekitar 71 persen distrik menyajikan makanan yang dibuat sendiri setidaknya sekali dalam sepekan. Makanan tersebut menggunakan bahan segar, mentah, atau utuh untuk membuat sebagian atau seluruh hidangan.

Kemampuan setiap sekolah berbeda. Sebagian distrik memiliki dapur pusat yang memasak makanan sebelum mengirimkannya ke sekolah. Sekolah lain harus menyiapkan makanan langsung di fasilitas masing-masing.

Namun, sebagian besar sekolah memiliki masalah serupa.

Lebih dari 93 persen distrik mengatakan mereka membutuhkan tambahan staf, pelatihan memasak, peralatan, dan infrastruktur untuk mengurangi ketergantungan pada makanan ultra olahan.

Anderson juga mengetahui kebutuhan tersebut melalui program hibah peralatan yang dikelola School Nutrition Foundation.

Tahun ini, yayasan tersebut memberikan hibah lebih dari US$660 ribu kepada 65 distrik sekolah. Dana itu digunakan untuk membeli oven, pengolah makanan, kulkas, alat penyegel kemasan, hingga peralatan pengolahan hasil pertanian.

Namun, jumlah penerima hibah masih terbatas dibandingkan kebutuhan sekolah di seluruh AS.

Distrik sekolah Anderson sendiri di Sioux Falls, South Dakota, juga masih menyajikan sedikit makanan yang dibuat dari bahan segar.

Distrik tersebut memiliki dapur pusat dengan 50 staf. Mereka menyiapkan makanan untuk kemudian dikirim ke 24 sekolah dasar.

Sekolah dasar tidak memiliki dapur. Fasilitasnya hanya berupa wastafel, kulkas, dan lemari.

Sementara itu, sekolah menengah pertama memiliki fasilitas yang lebih lengkap. Namun, sebagian besar makanan masih berupa produk beku yang langsung dipanaskan, seperti pizza dan potongan ayam.

Anderson memperkirakan distrik membutuhkan US$350 ribu hanya untuk melengkapi sekolah dasar agar dapat menyediakan sarapan hangat.

Namun, South Dakota pada tahap awal hanya akan menerima US$69 ribu dari dana hibah peralatan dari Kementerian Pertanian AS.

"Kami ingin memberikan makanan yang paling bergizi bagi para siswa. Kami hanya perlu mendapatkan pendanaan yang memadai agar kami bisa berkreasi dan mewujudkan hal-hal ini," ujar Anderson.

Kekurangan staf juga menjadi persoalan besar. Banyak distrik tidak memiliki cukup pekerja kantin penuh waktu.

Sebagian pekerja memilih bekerja di sektor ritel atau gudang karena menawarkan penghasilan lebih tinggi. Kondisi itu membuat tingkat pergantian pekerja di kantin sekolah cukup tinggi.

Bersambung ke halaman berikutnya...

Baca Artikel Selengkapnya