Polandia Buka Jalan Bayraktar Turki, Kini Dipakai dalam Misi NATO

58 menit yang lalu 1

JAKARTA -- Kerja sama pertahanan Polandia dan Turki memasuki babak baru setelah kedua negara membahas peningkatan kemampuan pesawat nirawak Bayraktar TB2, transfer teknologi, dan peluang investasi bersama di sektor industri pertahanan. Perkembangan ini menjadi kelanjutan dari keputusan bersejarah Polandia pada 2021, ketika Warsawa menjadi negara anggota NATO dan Uni Eropa pertama yang membeli drone tempur Bayraktar TB2 buatan Turki.

Pembicaraan terbaru berlangsung dalam pertemuan Menteri Pertahanan Polandia Władysław Kosiniak-Kamysz dengan Kepala Badan Industri Pertahanan Turki (SSB) Haluk Görgün di Warsawa pada 11 Juni 2026. Kedua pejabat membahas peningkatan kemampuan sistem nirawak, kerja sama industri pertahanan, transfer teknologi, serta pengembangan hubungan militer yang lebih erat antara dua negara anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO).

Menurut Kementerian Pertahanan Polandia, salah satu perhatian dalam pertemuan tersebut adalah peningkatan kemampuan operasional Bayraktar TB2 yang telah digunakan Angkatan Bersenjata Polandia. Pembahasan juga mencakup peluang kerja sama teknologi dan investasi yang dapat memperluas hubungan kedua negara melampaui pengadaan persenjataan.

Pertemuan itu memiliki arti penting karena Polandia bukan sekadar pelanggan drone tempur Turki. Negara Eropa Timur tersebut telah menggunakan Bayraktar TB2 dalam kegiatan pengawasan NATO dari wilayah Turki, sehingga pesawat nirawak yang semula dibeli untuk memperkuat kemampuan nasional kini juga berkontribusi dalam pelaksanaan misi aliansi.

Media pertahanan internasional Janes melaporkan, Bayraktar TB2 milik Polandia mulai menjalankan penerbangan operasional pada 10 Oktober 2025 untuk mendukung misi pengawasan NATO di kawasan Turki. Drone tersebut menggantikan pesawat patroli berawak M28 Bryza yang sebelumnya digunakan kontingen militer Polandia dalam kegiatan pemantauan maritim.

Perkembangan tersebut memperlihatkan perjalanan menarik teknologi pertahanan Turki di lingkungan NATO. Drone yang dikembangkan perusahaan Baykar itu tidak hanya berhasil menembus pasar persenjataan negara anggota aliansi, tetapi juga digunakan oleh militer Polandia dalam penugasan yang mendukung keamanan kawasan.

Keputusan Polandia Membuka Pintu NATO

Kisah masuknya Bayraktar TB2 ke militer Polandia bermula pada 24 Mei 2021, ketika Warsawa menandatangani kontrak pembelian pesawat nirawak bersenjata dengan perusahaan pertahanan Turki, Baykar. Kesepakatan itu menjadikan Polandia negara anggota NATO sekaligus Uni Eropa pertama yang membeli Bayraktar TB2.

Pada saat itu, keputusan Polandia menarik perhatian karena negara-negara Eropa selama bertahun-tahun banyak mengandalkan produsen Amerika Serikat dan Eropa Barat untuk memenuhi kebutuhan persenjataan modern. Masuknya Bayraktar TB2 memperlihatkan bahwa industri pertahanan Turki mulai memperoleh tempat dalam pengadaan militer negara anggota aliansi tersebut.

Kontrak Polandia mencakup pembelian empat paket sistem Bayraktar TB2, masing-masing terdiri atas enam pesawat nirawak dan tiga stasiun kendali darat. Dengan demikian, jumlah keseluruhan pengadaan mencapai 24 drone dan 12 stasiun kendali, beserta berbagai perangkat pendukung operasional.

Selain pesawat dan stasiun kendali, kontrak tersebut meliputi sensor elektro-optik dan inframerah, persenjataan berpemandu laser, simulator, pelatihan personel, suku cadang, serta dukungan logistik. Paket pengadaan itu dirancang agar Angkatan Bersenjata Polandia tidak hanya menerima pesawat, tetapi juga memiliki kemampuan mengoperasikan dan merawat sistem tersebut secara berkelanjutan.

Media pertahanan Amerika Serikat, Defense News, dalam laporan 17 Mei 2024 menyebut nilai kesepakatan pengadaan Bayraktar TB2 Polandia mencapai sekitar 270 juta dolar AS. Nilai tersebut mencerminkan pengadaan sistem persenjataan yang mencakup perangkat pendukung dan pelatihan, bukan semata-mata harga 24 pesawat nirawak.

Bagi Polandia, Bayraktar TB2 menawarkan kemampuan pengintaian dan serangan presisi melalui platform yang tidak memerlukan pilot di dalam pesawat. Sistem tersebut dapat digunakan untuk memantau pergerakan sasaran dalam waktu lama sekaligus memberikan pilihan serangan menggunakan persenjataan berpemandu ketika diperlukan.

Kebutuhan tersebut berkaitan dengan posisi geografis Polandia yang berada di sisi timur NATO dan berbatasan dengan Ukraina, Belarus, serta wilayah Kaliningrad milik Rusia. Situasi keamanan di kawasan itu menjadikan kemampuan pengintaian, kesiapan operasional, dan modernisasi persenjataan sebagai bagian penting dalam perencanaan pertahanan Warsawa.

Pengiriman Rampung pada Mei 2024

Pengiriman Bayraktar TB2 kepada Polandia dilakukan secara bertahap setelah kontrak ditandatangani pada 2021. Enam pesawat pertama tiba pada Oktober 2022 dan diserahkan kepada Angkatan Bersenjata Polandia melalui kegiatan di Pangkalan Pesawat Nirawak ke-12 di Mirosławiec.

Pengiriman berikutnya berlangsung sepanjang 2023, seiring pelaksanaan pelatihan personel dan persiapan dukungan teknis. Proses pengadaan akhirnya diselesaikan pada 16 Mei 2024, ketika paket keempat dan terakhir diserahkan kepada militer Polandia.

Kementerian Pertahanan Polandia mengonfirmasi bahwa penyerahan terakhir tersebut menandai selesainya pengiriman seluruh 24 Bayraktar TB2 berdasarkan kontrak Mei 2021. Dengan selesainya pengadaan itu, Polandia memiliki empat paket sistem pesawat nirawak yang dilengkapi stasiun kendali serta perangkat pendukung.

Kesepakatan tersebut juga mencakup pelatihan operator, instruktur, dan tenaga teknis yang diperlukan untuk mendukung penggunaan drone. Transfer teknologi pemeliharaan menjadi bagian penting agar Polandia dapat menangani sejumlah kebutuhan perawatan tanpa harus sepenuhnya bergantung pada fasilitas produsen di Turki.

Menurut Kementerian Pertahanan Polandia, transfer teknologi dalam kontrak mencakup kemampuan pemeliharaan dan perbaikan sejumlah komponen, termasuk mesin, stasiun kendali darat, serta perangkat elektro-optik dan inframerah. Polandia juga menerima persenjataan berpemandu laser MAM-L dan MAM-C yang dapat digunakan Bayraktar TB2 untuk menjalankan misi serangan presisi.

Bagi sebuah angkatan bersenjata, pengadaan pesawat nirawak tidak berakhir ketika seluruh unit diterima. Kesiapan personel, pemeliharaan, ketersediaan suku cadang, dan kemampuan mengintegrasikan sistem ke dalam operasi militer merupakan faktor yang menentukan keberhasilan penggunaan teknologi tersebut.

Baca Artikel Selengkapnya